Selama lebih dari 28 tahun, nama Argo Bromo Anggrek disematkan untuk kereta ini yang dijuluki sebagai "Raja Jalur Utara." Melansir situs resmi PT INKA (Persero), KA Argo Bromo Anggrek merupakan produk pengembangan dari generasi Argo Bromo yang diluncurkan pada 24 September 1997. Di belakang namaya juga tersemat kode JS-852 yang bermakna Jakarta-Surabaya ditempuh dalam waktu 8 jam dan diluncurkan saat HUT ke-52 RI.
Namanya merupakan gabungan dari kata Bromo dan Anggrek. Bromo merujuk pada sebuah gunung di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Sementara itu, kata Anggrek merujuk pada bunga asli Indonesia, yaitu bunga anggrek dengan nama latin Orchidaceae.
Seiring dengan perkembangan teknologi perkeretaapian di Indonesia, KA Argo Bromo Anggrek juga mengalami berbagai pembaharuan dan perubahan sarana. Mulai dari bagian interior dan eksteriornya, toilet yang ramah lingkungan, livery atau desain badan kereta, hingga sarana tempat duduk yang nyaman.
Dalam satu rangkaian kereta, KA Argo Bromo Anggrek terdiri dari 7-9 kereta eksekutif, satu kereta makan, dan satu kereta pembangkit. Fasilitasnya terdiri dari tempat duduk, pijakan kaki, lampu baca, colokan listrik, bantal, selimut, meja lipat, pendingin ruangan, TV LCD, dan toilet yang bersih.
Setiap harinya, KA Argo Bromo Anggrek berangkat dari Stasiun Gambir dan pemberhentian terakhirnya di Stasiun Surabaya Pasar Turi (pulang pergi). Jarak sepanjang 725 kilometer ini ditempuh selama 7 jam 45 menit, lebih cepat dibandingkan kereta lain yang memerlukan waktu hingga 8,5-11 jam untuk rute dan kelas yang sama. Selama perjalanan, kereta hanya berhenti di Stasiun Cirebon dan Stasiun Semarang Tawang.