Kronologi Lengkap Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi

Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur menewaskan 16 orang serta melukai 91 lainnya, menurut data resmi PT KAI.
Insiden berawal dari taksi listrik mogok di perlintasan yang memicu rangkaian tabrakan berantai hingga KA Argo Bromo menabrak KRL yang berhenti di jalur stasiun.
Pihak KAI dan kepolisian melakukan evakuasi, investigasi penyebab kecelakaan, serta menanggung biaya pengobatan korban sambil menyesuaikan jadwal perjalanan kereta.
Jakarta, IDN Times - Kecelakaan antara KRL (Commuter Line) dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 malam.
Berdasarkan data terbaru dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Insiden tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan 91 luka-luka.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada seluruh korban dan keluarga yang ditinggalkan. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik serta keluarga memperoleh informasi yang dibutuhkan," ujar VP Corporate Communication KAI, Anne Purba dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Berikut IDN Times ulas secara lengkap kronologi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di stasiun Bekasi Timur.
Table of Content
1. Awal mula insiden dari kendaraan mogok di perlintasan sebidang

Peristiwa tragis ini bermula 35 menit sebelum tabrakan di stasiun, ketika sebuah taksi listrik asal perusahaan Vietnam, Green SM mengalami mogok tepat di tengah rel perlintasan sebidang JPL 85 Ampera. Kendaraan tersebut kemudian tertemper oleh KRL PLB 5181 relasi Jakarta-Cikarang.
Akibat dari insiden pertama itu, rangkaian KRL PLB 5568A yang berada tepat di belakangnya terpaksa berhenti darurat karena jalur terhalang oleh kendaraan mogok tersebut. Kondisi ini kemudian menciptakan situasi berantai yang berujung pada tabrakan berikutnya.
2. Kronologi KA Argo Bromo tabrak KRL di Bekasi Timur

Kondisi berhentinya KRL PLB 5568A di jalur menjadi pemicu kecelakaan ketika KA 4 Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dari arah belakang dengan kecepatan tinggi.
Kereta api jarak jauh tersebut kemudian menabrak bagian belakang KRL PLB 5568A yang sedang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur.
Eks VP Corporate Communication PT KAI Joni Martinus menduga ada beberapa faktor penyebab insiden bisa terjadi. Diantaranya adalah pelanggaran terhadap sinyal merah yang diberikan, kegagalan sistem sinyal, miskomunikasi soal batas kecepatan, penyimpangan prosedur yang menyebabkan kereta diizinkan masuk ke jalur yang masih terisi kereta lain, hingga masalah teknis seperti rem blong.
Menanggapi kejadian ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pihaknya akan mendalami dugaan kelalaian manusia atau human error maupun gangguan sistem komunikasi dalam operasional perkeretaapian.
“Apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
3. Dampak dan korban jiwa dalam tragedi stasiun Bekasi Timur

Sementara, berdasarkan data KAI hingga Rabu (29/4/2026) tercatat sebanyak 107 korban dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 luka-luka.
Dari jumlah tersebut, korban meninggal dunia dan luka-luka tersebar di RS Polri, RSUD Kota Bekasi, RS Bella, RS Mitra Bekasi Timur dan Barat, RS Hermina, RS Siloam Bekasi Timur, RS Bakti Kartini, RS Mitra Plumbon Cibitung, dan RS Primaya.
Bagi korban tewas yang sudah teridentifikasi, Kepala Rumah Sakit RS Polri Prima Heru menyatakan jenazah korban sudah diserahkan kepada keluarga.
Sedangkan untuk korban luka-luka, 43 penumpang telah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Lebih lanjut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi menyebut pihaknya juga memberikan pendampingan medis dan psikologis kepada para korban serta keluarga terdampak. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan konten sensitif terkait korban demi menjaga empati.
“Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat melintas di perlintasan kereta api dan selalu mendahulukan perjalanan kereta. Selain itu, jangan menyebarkan foto atau video korban karena dapat berdampak psikologis bagi keluarga,” ujar Budi.
4. Respons otoritas dan penanganan pasca-kecelakaan

Selanjutnya, setelah kecelakaan tersebut, KAI berupaya melakukan evakuasi bagi korban, terhitung sejak Selasa (28/4/2026) seluruh korban berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian. Lebih lanjut, KAI menegaskan, seluruh biaya pengobatan bagi korban luka serta biaya pemakaman bagi korban meninggal dunia ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan KAI.
Kemudian, KAI menyampaikan informasi terbaru terkait penanganan pasca-insiden. Dalam unggahan di akun X @KAI121, disebutkan KAI melakukan penyesuaian perjalanan kereta api termasuk pembatalan 19 perjalanan KA dan perubahan jalur KRL yang kini telah normal kembali.
KAI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, serta terus mengupayakan pemulihan perjalanan secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan. Di sisi lain, perusahaan taksi Green SM menyatakan akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi yang relevan serta mendukung jalannya investigasi.
Selain itu, pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat melintas di perlintasan kereta api dan selalu mendahulukan perjalanan kereta.


















