Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Jejak Derma Sahabat Tajir Nabi

Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Jejak Derma Sahabat Tajir Nabi
Kebun kurma dan sumur air menjadi oase di tengah teriknya Madinah (IDN Times/Yogie Fadila)
Intinya Sih
  • Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah menjadi destinasi agro-religi yang menampilkan nilai sejarah, kemandirian, dan kedermawanan sahabat Nabi sekaligus oase hijau di tengah kota suci.
  • Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai saudagar sukses yang memulai dari nol di Madinah, menolak bantuan harta, dan menjadikan kekayaannya sarana untuk membantu umat serta dakwah Islam.
  • Kebun ini dikelola secara tradisional oleh Abu Umar bersama Asep Pajri dari Indonesia, memiliki ratusan pohon kurma Ajwa berkualitas tinggi serta peninggalan bersejarah seperti Sumur Suwalah dan tembok Ottoman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Madinah, IDN Times — Di tengah teriknya hiruk-pikuk kota dan megahnya payung-payung Masjid Nabawi, Madinah menyimpan oase-oase hijau yang menyejukkan mata. Salah satu destinasi yang kini mulai menarik perhatian para peziarah, khususnya dari Indonesia, adalah sebuah kawasan agro-religi yang dipercayai sebagai peninggalan perkebunan milik salah satu sahabat Nabi yang paling terkemuka: Abdurrahman bin Auf.

Berkunjung ke tempat ini bukan sekadar wisata berbelanja kurma, melainkan sebuah perjalanan memutar waktu, meresapi semangat kemandirian dan kedermawanan dari sosok "Crazy Rich" pada masa awal kejayaan Islam.

Sosok Abdurrahman bin Auf, saudagar yang menolak kaya jalur instan

Bagi umat Islam, nama Abdurrahman bin Auf tentu tidak asing. Lahir sekitar tahun 580 M, (wafat 32 H/652 M) Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling terkemuka dan termasuk dalam As-Sabiqunal Awwalun (delapan orang pertama yang memeluk Islam). Sebelum masuk Islam, namanya adalah Abdu Amr (atau Abdul Ka'bah), kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Abdurrahman. Dia berasal dari Bani Zuhrah, suku Quraisy.

Dirinya dikenal luas sebagai seorang saudagar (entrepreneur) yang sangat ulung, "crazy rich" pada masanya, namun memiliki sifat zuhud (tidak diperbudak harta) dan merupakan salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Akan tetapi, seringkali sejarah kekayaannya disalahpahami. Ia tidak mewarisi kebun kurma yang luas saat tiba di Madinah.

Menurut catatan Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Abdurrahman bin Auf termasuk dalam golongan Muhajirin yang meninggalkan seluruh hartanya di Makkah. Tiba di Madinah tanpa sepeser pun, Rasulullah mempersaudarakannya dengan konglomerat Anshar, Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad bahkan menawarkan setengah dari hartanya, termasuk kebun kurmanya.

Namun, Abdurrahman bin Auf menolak dengan halus dan melontarkan kalimat historisnya: "Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar." Di Madinah, ia memulai kembali bisnis dari nol dengan berdagang keju dan mentega, hingga akhirnya kembali menjadi miliarder.

Ada satu catatan sejarah yang sangat populer tentang Abdurrahman bin Auf dan kurma. Suatu ketika, usai Perang Tabuk, panen kurma penduduk Madinah tertunda sehingga banyak kurma yang membusuk dan harganya anjlok. Karena khawatir hisab hartanya kelak akan berat, Abdurrahman memborong semua kurma busuk milik warga Madinah dengan harga normal dengan harapan hartanya habis dan ia jatuh miskin. Ironisnya, tak lama berselang, datang utusan Raja Yaman mencari kurma busuk (karena mengandung bakteri tertentu untuk obat wabah penyakit di Yaman) dan membelinya dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal. Bukannya miskin, dirinya malah semakin kaya raya.

Di masa kejayaannyalah ia mulai membebaskan lahan, membangun properti, dan memiliki perkebunan kurma serta sumur-sumur di Madinah untuk menghidupi masyarakat dan membiayai dakwah Islam. Semangat kemandirian inilah yang menjadi nyawa saat kita melangkahkan kaki ke kebun kurma ini.

Oase rimbun di tengah terik suhu Madinah

Seorang pria berbalut syal cokelat hitam sedang memandang ke atas di tengah kebun kurma yang rindang dan teduh.
Seorang pengunjung menikmati suasana teduh di kebun kurma dengan pepohonan yang rimbun. (IDN Times/Yogie Fadila)

Memasuki area kebun ini, pengunjung akan langsung merasakan perbedaan kontras dengan jalanan Madinah yang gersang. Berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi, rimbunnya ribuan pelepah kurma seketika menyejukkan cuaca yang panas.

Bagi peziarah yang datang bertepatan dengan musim panen, kebun ini menyuguhkan pengalaman istimewa: mencicipi dan memilah kurma kualitas premium asli Madinah yang baru saja dipetik dari pohonnya.

Limpahan air yang mengaliri perkebunan ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Gemercik air yang ditampung dalam kolam-kolam tidak hanya menghidupi pepohonan, tetapi juga sering diibaratkan sebagai simbol kedermawanan sang pemilik nama kebun ini.

Oase dan kurma ajwa kualitas atas

Seorang pekerja berdiri di antara pohon kurma di kebun yang rindang dengan saluran irigasi kecil di sekitarnya.
Seorang pekerja kebun kurma berdiri di bawah naungan pohon kurma yang lebat. (IDN Times/Yogie Fadila)

Memasuki area perkebunan, semilir angin yang melewati pelepah kurma seolah menyambut kedatangan pengunjung. Di sini, kita disambut oleh Abu Umar, seorang pria Arab yang merupakan pengelola sekaligus keturunan dari keluarga yang merawat kebun ini.

Berbeda dengan perkebunan modern yang serba mekanis, Abu Umar bangga mempertahankan tradisi leluhur. "Kebun ini dikelola dengan cara lama (at-tariqah al-qadimah). Kami menggunakan metode tradisional dan tidak menggunakan mesin pertanian modern di sini," ungkap Abu Umar sambil menunjukkan aliran air irigasi yang membelah tanah-tanah perkebunan. Abu Umar menekankan nilai historis lahan tersebut. "Ini merupakan tempat bersejarah yang perlu jemaah haji dan umrah kunjungi," ungkapnya dengan lugas.

Kawasan ini tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga kaya secara botani. Di lahan ini, terdapat ratusan pohon yang dirawat dengan saksama.

"Di kebun ini ada lebih dari 550 pohon kurma, dan 350 di antaranya adalah jenis Ajwa. Sisanya adalah jenis Rabiah, Safawi, Ambar, dan Khudari," jelas Abu Umar.

Salah satu komoditas kebanggaan di sini adalah Ajwa Aliyah. Abu Umar menjelaskan bahwa secara geografis, kawasan "Aliyah" merujuk pada dataran yang lebih tinggi di Madinah (fauq/atas). Karena ditanam di area dataran tinggi dengan kontur tanah yang spesifik, kurma Ajwa Aliyah biasanya memiliki ukuran yang lebih kecil namun dengan kualitas premium dan nilai jual yang lebih tinggi. Abu Umar bahkan sempat bergurau menyamakan kawasan dataran tinggi Madinah ini dengan hawa sejuk di Puncak, Jawa Barat, Indonesia.

Sumur Suwalah dan Tembok Ottoman

Seorang pria mengenakan gamis putih dan syal merah muda berdiri di depan dinding batu kuno sambil menjelaskan artefak sejarah.
Abu Umar, pengelola Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, menunjukkan artefak dari Daulah Utsmaniyah (IDN Times/Yogie Fadila)

Selain rimbunnya pohon kurma, terdapat dua artefak sejarah utama yang bisa disaksikan pengunjung. Pertama adalah jejak Sumur Suwalah (Bi'r Suwalah). Sumur ini adalah salah satu titik air yang dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf pada masa hidupnya, yang airnya banyak dimanfaatkan untuk kepentingan umat (Catatan: berbeda dengan Sumur Ruma yang dibeli oleh Utsman bin Affan).

Kedua, adalah pagar batu kokoh yang memagari sebagian area kebun. Untuk hal ini, Abu Umar menjelaskan, "Ini adalah tembok dinding kebun. Dinding ini dibangun pada masa Daulah Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman). Usianya lebih dari 100 hingga 200 tahun," terangnya, sekaligus menepis anggapan bahwa semua struktur batu di Madinah otomatis berasal dari zaman Nabi.

Sentuhan Indonesia di Tanah Hijaz

Dua pengelola Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf berdiskusi di area kebun yang dipenuhi pohon kurma dan kursi plastik di sekitarnya.
Abu dan Asep, pengelola Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf (IDN Times/Yogie Fadila)

Pengelolaan kebun wisata ini tidak lepas dari sentuhan tangan dan pemikiran asal Indonesia, salah satunya adalah Asep Pajri. Kolaborasi antara Abu Umar dan Asep Pajri membuat tempat ini sangat ramah bagi jemaah umrah dan haji asal Nusantara.

"Kebun kurma ini memiliki pohon yang usianya rata-rata antara 20 sampai 30 tahun dan terus produktif saat musim berbuah," ujar Asep membagikan informasi seputar operasional kebun.

Sebagai rekan bisnis, Asep menekankan bahwa destinasi ini dirancang bukan semata-mata untuk peziarah belanja. Tempat ini didesain sebagai tempat beristirahat dan bertapak tilas.

"Silakan jemaah Indonesia datang ke sini. Kami menyediakan fasilitas untuk duduk-duduk santai, menikmati makanan dan minuman, serta merasakan pengalaman sejarah," tambah Asep. Pengunjung tidak diwajibkan untuk memborong kurma; mereka dipersilakan untuk sekadar duduk menikmati suasana kebun, mencicipi buah kurma segar, atau berinteraksi dengan para pekerja kebun asal Indonesia yang selalu menyapa dengan senyuman.

Inilah alternatif wisata di Madinah yang tenang, hijau, dan sarat akan nilai sejarah, Kebun Kurma yang dikaitkan dengan jejak Abdurrahman bin Auf ini adalah pilihan yang tepat.

Berjalan di bawah rimbunnya pohon Ajwa sambil merenungkan kisah seorang miliarder yang menolak warisan dan memilih berpeluh di pasar, memberikan perspektif spiritual yang dalam—bahwa kekayaan sejati, seperti halnya kebun yang subur ini, berawal dari kerja keras dan kemandirian.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila

Related Articles

See More