Bagi umat Islam, nama Abdurrahman bin Auf tentu tidak asing. Lahir sekitar tahun 580 M, (wafat 32 H/652 M) Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling terkemuka dan termasuk dalam As-Sabiqunal Awwalun (delapan orang pertama yang memeluk Islam). Sebelum masuk Islam, namanya adalah Abdu Amr (atau Abdul Ka'bah), kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Abdurrahman. Dia berasal dari Bani Zuhrah, suku Quraisy.
Dirinya dikenal luas sebagai seorang saudagar (entrepreneur) yang sangat ulung, "crazy rich" pada masanya, namun memiliki sifat zuhud (tidak diperbudak harta) dan merupakan salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Akan tetapi, seringkali sejarah kekayaannya disalahpahami. Ia tidak mewarisi kebun kurma yang luas saat tiba di Madinah.
Menurut catatan Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Abdurrahman bin Auf termasuk dalam golongan Muhajirin yang meninggalkan seluruh hartanya di Makkah. Tiba di Madinah tanpa sepeser pun, Rasulullah mempersaudarakannya dengan konglomerat Anshar, Sa'ad bin Rabi'. Sa'ad bahkan menawarkan setengah dari hartanya, termasuk kebun kurmanya.
Namun, Abdurrahman bin Auf menolak dengan halus dan melontarkan kalimat historisnya: "Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar." Di Madinah, ia memulai kembali bisnis dari nol dengan berdagang keju dan mentega, hingga akhirnya kembali menjadi miliarder.
Ada satu catatan sejarah yang sangat populer tentang Abdurrahman bin Auf dan kurma. Suatu ketika, usai Perang Tabuk, panen kurma penduduk Madinah tertunda sehingga banyak kurma yang membusuk dan harganya anjlok. Karena khawatir hisab hartanya kelak akan berat, Abdurrahman memborong semua kurma busuk milik warga Madinah dengan harga normal dengan harapan hartanya habis dan ia jatuh miskin. Ironisnya, tak lama berselang, datang utusan Raja Yaman mencari kurma busuk (karena mengandung bakteri tertentu untuk obat wabah penyakit di Yaman) dan membelinya dengan harga berkali-kali lipat lebih mahal. Bukannya miskin, dirinya malah semakin kaya raya.
Di masa kejayaannyalah ia mulai membebaskan lahan, membangun properti, dan memiliki perkebunan kurma serta sumur-sumur di Madinah untuk menghidupi masyarakat dan membiayai dakwah Islam. Semangat kemandirian inilah yang menjadi nyawa saat kita melangkahkan kaki ke kebun kurma ini.