potret George Town (commons.wikimedia.org/Pangalau)
Saat ini, warna bangunan peranakan dipertahankan sebagai bagian dari identitas kawasan wisata sejarah di banyak kota Asia Tenggara. Pemerintah kota dan komunitas lokal menyadari bahwa warna menjadi elemen penting yang membedakan kawasan peranakan dari area kota lama lainnya. Karena alasan itu, aturan pewarnaan bangunan dibuat agar tampilan kawasan tetap konsisten dan mudah dikenali wisatawan. Hal ini juga bertujuan menjaga suasana kawasan agar tidak kehilangan karakter aslinya akibat renovasi modern yang berlebihan.
Di Singapura, rumah peranakan di Joo Chiat dan Katong memiliki panduan warna yang harus diikuti pemilik bangunan. George Town di Penang menerapkan kebijakan serupa untuk menjaga citra kawasan warisan dunianya. Di Melaka, deretan bangunan di sekitar Jonker Street dipertahankan warna dan fasadnya agar tetap selaras satu sama lain. Bagi wisatawan, konsistensi ini membuat kawasan peranakan terasa rapi, mudah dijelajahi, dan nyaman dinikmati meski hanya dengan berjalan kaki.
Bangunan peranakan yang berwarna-warni lahir dari perpaduan budaya, kebutuhan lingkungan, dan perjalanan sejarah komunitasnya. Dalam wisata peranakan, warna bukan hanya elemen estetika, melainkan petunjuk yang membantu wisatawan memahami karakter sebuah kawasan. Lalu, kawasan peranakan mana yang paling membuatmu penasaran untuk dijelajahi?