Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret bangunan peranakan
potret bangunan peranakan (commons.wikimedia.org/Kate Branch)

Saat berjalan di kota-kota seperti Singapura, Melaka, Penang, hingga beberapa wilayah pesisir Indonesia, deretan bangunan peranakan dengan warna mencolok langsung mudah dikenali. Warna-warna tersebut bukan sekadar ornamen agar kawasan terlihat fotogenik, melainkan bagian dari sejarah panjang komunitas peranakan di Asia Tenggara.

Bangunan peranakan membantu wisatawan membaca jejak percampuran budaya tanpa harus masuk ke museum. Lebih lanjut, berikut beberapa penjelasan mengenai kenapa bangunan peranakan berwarna-warni di berbagai destinasi.

1. Mengadopsi tradisi warna Tiongkok Selatan

potret katong (commons.wikimedia.org/Araneulsine)

Bangunan peranakan banyak mengadopsi tradisi warna dari Tiongkok selatan yang memandang warna sebagai simbol keberuntungan dan perlindungan. Merah sering dikaitkan dengan kemakmuran, hijau melambangkan keseimbangan, sementara biru dan kuning dipakai sebagai penanda harmoni dan status. Tradisi ini kemudian diterapkan pada rumah-rumah peranakan yang dibangun di wilayah Asia Tenggara.

Contoh yang mudah ditemui ada di kawasan Joo Chiat dan Katong, Singapura dengan deretan rumah peranakan berwarna pastel seperti hijau mint, kuning lembut, dan merah muda. Saat berjalan kaki di area ini, wisatawan dapat langsung mengenali karakter kawasan tanpa perlu penjelasan panjang bahwa ini merupakan kawasan wisata peranakan. Warna bangunan menjadi penanda yang membedakan kawasan peranakan dari permukiman lama lainnya.

2. Menunjukkan status sosial pemilik rumah

potret Cheong Fatt Tze Mansion (commons.wikimedia.org/Supanut Arunoprayote)

Pada masa lalu, warna bangunan peranakan juga mencerminkan posisi sosial pemiliknya di dalam komunitas tersebut. Rumah dengan warna cerah berlapis detail dan ornamen rumit biasanya dimiliki keluarga pedagang yang mapan secara ekonomi. Semakin kompleks tampilan fasad, semakin tinggi pula citra sosial yang ingin ditunjukkan.

Di Malaysia, Cheong Fatt Tze Mansion atau Blue Mansion di George Town, Penang, menjadi contoh nyata. Bangunan ini dikenal dengan warna biru khas yang jarang digunakan pada rumah biasa pada masanya. Bagi wisatawan, warna bangunan tersebut memberi gambaran tentang kehidupan elite peranakan sekaligus menjadi daya tarik utama dalam wisata heritage.

3. Menyesuaikan diri dengan iklim tropis

potret rumah peranakan di Lasem (commons.wikimedia.org/Candramawa99)

Pemilihan warna cerah pada bangunan peranakan juga berkaitan dengan kondisi iklim tropis Asia Tenggara. Warna terang membantu memantulkan panas matahari sehingga suhu di dalam bangunan terasa lebih sejuk. Hal ini menjadi solusi alami sebelum teknologi pendingin ruangan dikenal luas.

Di Indonesia, rumah peranakan di Lasem, Jawa Tengah atau kawasan Pecinan Semarang menunjukkan ciri serupa. Cat berwarna terang dipadukan dengan jendela tinggi dan ventilasi besar. Wisatawan yang masuk ke dalam bangunan tersebut biasanya merasakan suasana lebih teduh dibandingkan cuaca panas di luar.

4. Bangunan peranakan dipengaruhi arsitektur kolonial Eropa

potret Jonker Street (commons.wikimedia.org/CEphoto, Uwe Aranas)

Bangunan peranakan berkembang pada masa ketika kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara berada di bawah pengaruh kolonial Eropa. Kondisi ini membuat komunitas peranakan akrab dengan gaya bangunan yang dibawa Belanda dan Inggris. Elemen seperti jendela tinggi, pintu simetris, serta lantai tegel berpola mulai diterapkan karena dianggap praktis dan sesuai dengan iklim tropis. Unsur-unsur tersebut kemudian dipadukan dengan warna cerah khas peranakan yang sudah lebih dulu dikenal.

Perpaduan ini mudah ditemukan di Jonker Street, Melaka yang dipenuhi shophouse peranakan dengan fasad pastel dan struktur bangunan kolonial. Bangunan di kawasan ini tidak terlihat sepenuhnya Eropa, tetapi juga tidak murni lokal Melaka. Bagi wisatawan, tampilan tersebut memberi pengalaman yang berbeda dibanding kawasan kota tua lainnya yang ada di dunia. Satu ruas jalan saja sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana arsitektur peranakan tumbuh dari pertemuan berbagai budaya.

5. Dipertahankan sebagai identitas wisata kota

potret George Town (commons.wikimedia.org/Pangalau)

Saat ini, warna bangunan peranakan dipertahankan sebagai bagian dari identitas kawasan wisata sejarah di banyak kota Asia Tenggara. Pemerintah kota dan komunitas lokal menyadari bahwa warna menjadi elemen penting yang membedakan kawasan peranakan dari area kota lama lainnya. Karena alasan itu, aturan pewarnaan bangunan dibuat agar tampilan kawasan tetap konsisten dan mudah dikenali wisatawan. Hal ini juga bertujuan menjaga suasana kawasan agar tidak kehilangan karakter aslinya akibat renovasi modern yang berlebihan.

Di Singapura, rumah peranakan di Joo Chiat dan Katong memiliki panduan warna yang harus diikuti pemilik bangunan. George Town di Penang menerapkan kebijakan serupa untuk menjaga citra kawasan warisan dunianya. Di Melaka, deretan bangunan di sekitar Jonker Street dipertahankan warna dan fasadnya agar tetap selaras satu sama lain. Bagi wisatawan, konsistensi ini membuat kawasan peranakan terasa rapi, mudah dijelajahi, dan nyaman dinikmati meski hanya dengan berjalan kaki.

Bangunan peranakan yang berwarna-warni lahir dari perpaduan budaya, kebutuhan lingkungan, dan perjalanan sejarah komunitasnya. Dalam wisata peranakan, warna bukan hanya elemen estetika, melainkan petunjuk yang membantu wisatawan memahami karakter sebuah kawasan. Lalu, kawasan peranakan mana yang paling membuatmu penasaran untuk dijelajahi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team