Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tiong Bahru
Tiong Bahru (commons.wikimedia.org/Sengkang)

Intinya sih...

  • Tiong Bahru memiliki tata bangunan unik era 1930-an dengan jarak antarblok yang longgar, memberikan suasana lapang dan nyaman untuk dijelajahi.

  • Kawasan ini mengutamakan hunian daripada perdagangan, dengan toko kecil yang buka pada jam tertentu, menciptakan pengalaman santai bagi pengunjung.

  • Tiong Bahru Market menjadi pusat aktivitas warga lokal dengan pasar basah dan deretan kedai makanan otentik, menunjukkan bahwa kampung ini masih hidup sebagai kawasan pemukiman.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tiong Bahru sering masuk dalam daftar wisata Peranakan di Singapura, tetapi suasana yang ditemui di kawasan ini justru jauh dari bayangan Chinatown yang ramai, penuh toko suvenir, atau lorong sempit dengan papan neon berwarna mencolok. Kampung ini menawarkan pengalaman jalan kaki yang lebih tenang, rapi, dan terasa seperti lingkungan tempat tinggal, bukan kawasan dagang.

Banyak pelancong datang dengan ekspektasi khas Chinatown, lalu pulang dengan kesan yang sama sekali berbeda. Perbedaan inilah yang membuat Tiong Bahru menarik dibicarakan sebagai destinasi, terutama bagi yang ingin melihat sisi Singapura. Berikut penjelasan mengapa Kampung Tiong Bahru kerap dianggap bukan Chinatown biasa.

1. Tata bangunan Tiong Bahru terbilang unik

Tiong Bahru (unsplash.com/Gracia Dharma)

Bangunan di Tiong Bahru didominasi blok apartemen art deco era 1930-an yang dirancang sebagai hunian publik, bukan rumah toko. Bentuknya mudah dikenali lewat sudut melengkung, jendela horizontal, serta tangga spiral di bagian belakang bangunan. Jalan seperti Eng Hoon Street dan Guan Chuan Street memperlihatkan deretan bangunan dengan jarak antarblok yang longgar. Kondisi ini membuat area terasa lapang dan nyaman untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.

Berbeda dengan Chinatown di Pagoda Street atau Smith Street yang padat aktivitas jual beli, Tiong Bahru terasa seperti kawasan pemukiman yang aktif. Banyak unit bangunan masih dihuni warga lokal, terutama generasi lama Singapura. Wisatawan bisa berjalan tanpa harus berdesakan atau menghindari arus pengunjung lain.

2. Mengutamakan hunian daripada perdagangan

Tiong Bahru (unsplash.com/Fleur Kaan)

Sejak awal dibangun, Tiong Bahru memang disiapkan sebagai kawasan tempat tinggal bagi komunitas Tionghoa Peranakan. Tidak heran jika fungsi utamanya hingga kini tetap sebagai  hunian. Toko dan kafe hadir sebagai pelengkap kebutuhan warga sekitar, bukan sebagai pusat komersial utama. Hal ini bisa dilihat dari skala usaha yang cenderung kecil dan tidak seragam.

Di beberapa ruas jalan, toko hanya buka pada jam tertentu dan tutup lebih awal. Tidak banyak pedagang yang aktif menarik perhatian pejalan kaki. Situasi ini membuat pengalaman berkunjung terasa lebih santai dan tidak terburu-buru layaknya kamu menjelajah gang ke gang kampung ke kampung. Bagi pelancong yang ingin merasakan wisata Peranakan layaknya sehari-hari, wajib rasanya menyambangi Tiong Bahru.

3. Tiong Bahru Market menjadi pusat aktivitas warga lokal

Tiong Bahru Market (unsplash.com/Amos Lee)

Salah satu titik penting di kawasan ini adalah Tiong Bahru Market, bangunan dua lantai yang hingga kini masih aktif digunakan warga sekitar. Lantai bawah berfungsi sebagai pasar basah, sementara lantai atas diisi deretan kedai makanan lokal. Pilihan menu seperti chwee kueh, lor mee, hingga roasted pork disajikan dengan otentik.

Berbeda dengan pusat kuliner di kawasan wisata lain, suasana di sini lebih apa adanya. Pengunjung akan melihat warga lanjut usia yang rutin sarapan atau membeli bahan masakan. Harga makanan relatif stabil dan tidak mengikuti tren wisata. Kehadiran pasar ini menunjukkan bahwa Tiong Bahru masih hidup sebagai kampung.

4. Ada jejak sejarah perang di kawasan ini

Tiong Bahru Air Raid Shelter (commons.wikimedia.org/Fuzheado)

Di balik suasana tenang, Tiong Bahru menyimpan peninggalan sejarah penting berupa Air Raid Shelter peninggalan Perang Dunia II. Lokasinya berada di area pemukiman dan tidak menonjol sebagai objek wisata. Tidak ada antrean panjang atau papan ewisata yang mencolok. Pengunjung harus datang sendiri untuk mencari dan membaca informasi yang tersedia.

Wisatawan tidak hanya datang untuk mengagumi, tetapi memahami fungsi tempat tersebut pada masanya. Kawasan ini dulunya pernah menjadi ruang perlindungan warga sipil. Perspektif ini jarang ditemui di kawasan Chinatown lain yang umumnya lebih fokus pada aktivitas dagang dan budaya populer.

5. Jalur jalan kaki membuat Tiong Bahru nyaman dijelajahi

Tiong Bahru (unsplash.com/Fleur Kaan)

Skala kawasan Tiong Bahru relatif kecil dan tertata, sehingga mudah dijelajahi tanpa kendaraan. Trotoar lebar dan jalur yang jelas memudahkan wisatawan untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Beberapa sudut jalan bahkan dilengkapi bangku taman sederhana yang digunakan warga untuk beristirahat. Situasi ini mendukung aktivitas jalan santai tanpa tekanan waktu.

Rute berjalan kaki bisa dimulai dari Tiong Bahru MRT, menyusuri Yong Siak Street, lalu berakhir di area pasar. Selama perjalanan, pelancong akan melewati bangunan lama, kafe kecil, serta toko buku independen. Semua elemen ini menyatu tanpa terasa dipaksakan. Inilah yang membuat pengalaman wisata Peranakan di Tiong Bahru terasa berbeda dari Chinatown lain di Singapura.

Tiong Bahru menunjukkan bahwa kawasan bersejarah tidak selalu harus tampil ramai untuk menarik wisatawan. Sebagai bagian dari wisata Peranakan, kampung ini menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan warga dan tata kota lama Singapura. Apakah Tiong Bahru masuk wishlist Chinatown kamu selanjutnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team