Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menyusuri Jejak Flores di Jakarta, dari Perbudakan Kolonial hingga Kemerdekaan

5 min read
Menyusuri Jejak Flores di Jakarta, dari Perbudakan Kolonial hingga Kemerdekaan
Pameran tenun Flores di Unika Atma Jaya. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  • Sejak abad ke-17, orang Flores, terutama Manggarai, didatangkan ke Batavia sebagai budak untuk pembangunan infrastruktur; kemudian komunitas Mardijker hadir menandai perubahan status mereka.

  • Jejak Flores di Jakarta terlihat pada kawasan Manggarai, kaitan Ende dengan gagasan Indonesia Sukarno, penyebaran Katolik, koleksi tenun Flores, serta peran Frans Seda di Atma Jaya.

  • Jakarta Green Tour mengantar peserta menelusuri jejak tersebut sekaligus mendukung Camino de Flores, perjalanan 70 kilometer Mari Elka Pangestu untuk penggalangan dana pemulihan pascagempa dan pengembangan pola wisata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejak masa kolonial, Jakarta sudah menjadi tempat pertemuan segala etnis. Bukan hanya Jawa, Betawi, Tionghoa, dan Eropa, orang-orang Flores juga termasuk kalangan yang meneruskan hidupnya di tempat yang masih bernama Batavia itu.

Pada abad ke-17, Batavia tumbuh menjadi pusat perdagangan. Seiring dengan pesatnya perdagangan, muncul pula fenomena perbudakan. Sebagian orang-orang Flores, terutama dari wilayah Manggarai, Flores Barat, dijadikan budak belian. Mereka didatangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda ke Batavia bersama orang-orang dari Sulawesi, Bali, hingga India. Kedatangan mereka untuk dipekerjakan secara paksa dalam pembangunan berbagai infrastruktur penting seperti jalan, benteng, rumah pejabat, hingga saluran air.

Berawal dari hal itu, pertumbuhan orang Flores di ibu kota Jakarta kian kuat. Tak lagi menjadi budak belian sejak munculnya komunitas kaum Mardijker (budak yang dimerdekakan dengan memeluk agama Kristen), beberapa tokoh dan kenangannya turut berperan dalam kemerdekan dan kemajuan bangsa Indonesia. Lewat Jakarta Green Tour: Jejak Flores di Mama Kota pada Sabtu (10/10/2026) yang diawali dari Unika (Universitas Katolik) Atma Jaya, kita bisa menapaki satu per satu keberadaannya meski jauh secara geografis.

Jakarta Green Tour: Jejak Flores di Mama Kota sendiri adalah rangkaian perjalanan menuju Camino de Flores, sebuah ekspedisi berjalan kaki sejauh 70 km yang akan dilakukan oleh Mari Elka Pangestu (ekonom dan Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral) dalam perayaan usia 70 tahunnya pada 23 Oktober 2026 mendatang. Lebih dari perjalanan, Camino de Flores adalah perjalanan spiritual sekaligus upaya pemulihan setelah bencana gempa pada Agustus lalu. Masyarakat umum juga dapat berpartisipasi dalam donasi di laman kitabisa.com/campaign/forflores70km/story.

"Mudah-mudahan apa yang kita rencanakan berhasil karena kita berencana untuk berjalan 70 km di Flores dan galang dana. Kita bekerjasama dengan Kitabisa, crowd funding platform. Dana itu akan digunakan untuk membantu Flores bangkit plus tujuan awal dari Camino de Flores adalah untuk menciptakan travel pattern yang baru, bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata," ujar Mari.

Lalu, di spot mana sajakah kita bisa menapak tilas Flores di ibu kota? Berikut ulasannya.

  1. 1. Budak Manggarai sempat bermukim di Jakarta Selatan yang kini dikenal sebagai Manggarai. Terletak di seberang Menteng tempat kolonial bermukim, area ini identik dengan stasiun dan pintu airnya

    Stasiun Manggarai (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Stasiun Manggarai (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  2. 2. Taman Proklamasi di Pegangsaan yang menjadi lokasi pembacaan teks proklamasi, erat kaitannya dengan Ende, NTT. Gagasan tentang Indonesia telah dilahirkan Sukarno sejak ia masih diasingkan di Ende

    Taman Proklamasi (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Taman Proklamasi (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  3. 3. Melangkah ke area Weltevreden, pusat pemerintahan semenjak Batavia dipindahkan, mata akan dimanjakan oleh arsitektur Art Deco bioskop Metropole atau Megaria yang dibangun pada tahun 1932

    Bioskop Metropole (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Bioskop Metropole (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  4. 4. Jalan sedikit, muncul Monumen Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli) yang baru diresmikan pada medio 2026. Konflik dualisme kepemimpinan pada tahun 1996 itu, memakan 5 korban seperti jumlah patung di monumen

    Monumen Kudatuli (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Monumen Kudatuli (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  5. 5. Di sebuah perempatan, replika Tugu Jogja menarik mata. Lokasinya di depan kantor Badan Penghubung Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta

    Replika Tugu Jogja (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Replika Tugu Jogja (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  6. 6. Di Jalan Surabaya, berderet toko barang antik yang juga menjual uang kuno. Cobalah cari uang kertas lembar Rp5 ribu emisi tahun 1992 bergambar Danau Kelimutu dan alat musik Sasando asal Flores

    Uang kertas lembar Rp5 ribu emisi tahun 1992 (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Uang kertas lembar Rp5 ribu emisi tahun 1992 (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  7. 7. Bergerak ke Taman Situlembang, kamu bisa berteduh di bawah pohon flamboyan. Flores berkaitan dengan pohon flamboyan karena Portugis memberi nama pulau Cabo das Flores yang berarti Tanjung Bunga

    Taman Situlembang (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Taman Situlembang (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  8. 8. Beralih ke Anomali Coffee, seruputlah kopi Arabica Bajawa yang citarasanya nutty, karamel, cokelat, asam sitrus yang lembut, dan body yang penuh

    Anomali Coffee Menteng (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Anomali Coffee Menteng (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  9. 9. Pindah ke Gereja Katedral Jakarta, kita mendalami bagaimana agama Katolik disebarkan misionaris terlebih dahulu di Maluku dan Flores, lalu baru berkembang di Jakarta

    Gereja Katedral Jakarta (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Gereja Katedral Jakarta (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  10. 10. Kompleks Gereja Katedral Jakarta menjadi lokasi penyelenggaraan rapat pertama Kongres Pemuda II pada tanggal 27 Oktober 1928. Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang suku hadir di sini

    Kompleks Gereja Katedral Jakarta (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Kompleks Gereja Katedral Jakarta (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  11. 11. Masih di area yang sama, Museum Katedral juga menyimpan jejak penyebaran agama Katolik yang dimulai dari Flores hingga perkembangannya sampai saat ini

    Museum Katedral (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Museum Katedral (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  12. 12. Pembangunan Terowongan Silaturahim melibatkan Mari Elka sebagai tim panitia. Kesempatan langka, kami diperbolehkan masuk ke dalamnya!

    Terowongan Silaturahim (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Terowongan Silaturahim (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  13. 13. Momen yang unik adalah saat mendengar transisi suara musik gereja ke musik islami dan sebaliknya saat melintasi terowongan ini. Sejuk dan syahdu!

    Terowongan Silaturahim (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Terowongan Silaturahim (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  14. 14. Di halaman samping Katedral, kamu dapat menemui Gua Maria yang amat khusyuk. Terdapat batu asli dari Gua Maria Lourdes, tempat ziarah Katolik dunia di Lourdes, Hautes-Pyrénées, Prancis selatan

    Gua Maria Katedral (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Gua Maria Katedral (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  15. 15. Berlanjut ke Museum Tekstil di Tanah Abang. Bekas vila di masa kolonial ini, menyimpan aneka rupa wastra nusantara, termasuk kain dan alat tenun Flores

    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  16. 16. Di kebunnya, kamu dapat mengenali tanaman yang digunakan untuk pewarna alami tekstil. Mengkudu untuk warna merah kecokelatan, kunyit untuk warna kuning, hingga tarum untuk warna biru

    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  17. 17. Di bagian alat tenun, kamu akan mengenal tenun ikat. Bagian benang yang diikat dengan daun kelapa adalah bagian motif yang ingin digambar karena tidak tersentuh pewarnanya

    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Museum Tekstil (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  18. 18. Menurut penggiat tenun NTT bernama Sere Aba, motif tenun di Flores pun beragam. Seperti di wilayah pesisir Ende menghindari motif makhluk hidup lantaran pengaruh ajaran Islam dari Kerajaan Bima

    Penggiat tenun NTT bernama Sere Aba. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Penggiat tenun NTT bernama Sere Aba. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  19. 19. Di Kampus Unika Atma Jaya Semanggi, dapat ditemui Taman Frans Seda. Frans adalah tokoh Flores yang mendirikan Yayasan Atma Jaya dan Unika Atma Jaya sekaligus pernah menjadi Menteri Pertanian RI

    Taman Frans Seda. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Taman Frans Seda. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  20. 20, Terakhir, memasuki pameran Jejak Sejarah Frans Seda yang diselenggarakan oleh Unika Atma Jaya bersama Frans Seda Foundation untuk memperingati 100 tahun kelahiran tokoh tersebut

    Pameran Jejak Sejarah Frans Seda. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
    Pameran Jejak Sejarah Frans Seda. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

    Begitu banyak cerita menarik dan penuh makna saat mengikuti perjalanan napak tilas jejak sejarah Flores di ibu kota Jakarta. Apabila kita menarik lebih dalam lagi, tentunya kian banyak cerita menarik yang telah menyokong perkembangan bangsa Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More