Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Perang Iran vs. AS-Israel Berdampak pada Dunia Travel?

Bagaimana Perang Iran vs. AS-Israel Berdampak pada Dunia Travel?
ilustrasi sekelompok turis menaiki unta di padang pasir (unsplash.com/Youssef Taghlaoui)
Intinya Sih
  • Perang Iran vs. AS-Israel sejak 28 Februari 2026 memicu serangan ke bandara di Timur Tengah, menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan dan gangguan besar pada jalur transit internasional.
  • Krisis energi akibat blokade Selat Hormuz membuat harga bahan bakar melonjak, mendorong maskapai menaikkan tarif tiket pesawat dan menerapkan langkah efisiensi biaya darurat.
  • Situasi keamanan yang memburuk menurunkan kunjungan wisata ke Timur Tengah hingga 26 persen, dengan negara-negara GCC menjadi pihak yang paling merasakan kerugian ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perang yang terjadi antara Iran vs. Amerika Serikat (AS)-Israel yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu memberikan dampak yang besar. Bukan hanya bagi negara yang memang terlibat, tetapi juga banyak negara lain di dunia. Perang ini memicu kenaikan harga BBM dan krisis energi di beberapa negara. Gak hanya itu, perang antara Iran vs. AS dan Israel juga berdampak pada sektor pariwisata, terutama di Timur Tengah.

Seperti yang kita tahu, sektor pariwisata sangat tergantung pada stabilitas keamanan kawasan. Kondisi keamanan di Timur Tengah yang memanas membuat banyak orang khawatir. Lantas, bagaimana perang Iran vs. AS-Israel berdampak pada wisata dunia? Berikut penjelasannya!

1. Gangguan pada sebagian besar penerbangan

ilustrasi penumpang pesawat terbang di bandara
ilustrasi penumpang pesawat terbang di bandara (unsplash.com/CHUTTERSNAP)

Pada 28 Februari, serangan AS-Israel yang disebut “Epic Fury Operation” menghantam Iran dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Gak sampai di sana, Iran juga menyerang sejumlah bandara di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha. Meski gak menyebabkan kerusakan besar, serangan ini memicu terjadinya penutupan bandara selama 3 hari berturut-turut.

Dilansir Euro News, Timur Tengah selama ini menjadi penghubung utama Eropa dengan kawasan Asia serta Afrika dan menyumbang 14 persen dari lalu lintas transit internasional serta 5 persen dari kedatangan global. Dalam situasi normal, bandara di Abu Dhabi, Dubai, Doha, dan Bahrain bahkan bisa memproses sekitar 526.000 penerbangan. Dengan adanya serangan ini, ribuan penumpang terpaksa membatalkan penerbangan mereka dan gak bisa melanjutkan perjalanan hingga situasi dinyatakan aman.

2. Harga tiket pesawat semakin mahal

ilustrasi pesawat terbang
ilustrasi pesawat terbang (unsplash.com/Ereng Hu)

Perang yang terjadi antara Iran dengan AS-Israel membuat banyak wisatawan memilih rute penerbangan lain untuk menghindari kawasan Timur Tengah dan negara Teluk. Meski lebih aman, rute penerbangan ini juga lebih jauh dan memiliki harga tiket penerbangan yang lebih mahal. Situasinya semakin buruk dengan adanya blokade Selat Hormuz yang diberlakukan Iran sejak 28 Februari 2026. Akibat blokade ini, banyak kapal yang tengah beroperasi di kawasan tersebut harus tertahan dan memicu krisis energi.

Untuk menutup biaya bahan bakar yang naik, sejumlah maskapai terpaksa menaikkan tarif penerbangan untuk sementara waktu. Dilansir Reuters, maskapai seperti Korean Air bahkan telah memasuki mode manajemen darurat dan berencana untuk menerapkan langkah-langkah tertentu, termasuk meningkatkan efisiensi biaya di seluruh perusahaan untuk mengimbangi kenaikan bahan bakar. Sementara itu, maskapai Qantas Airways asal Australia juga sudah menaikkan tarif tiket pesawat dengan harga berbeda tergantung pada rute penerbangan.

3. Kunjungan pariwisata di Timur Tengah mengalami penurunan

ilustrasi sekelompok turis di Dubai Fountain
ilustrasi sekelompok turis di Dubai Fountain (unsplash.com/Roberto Martins)

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata di Timur Tengah memang mengalami peningkatan. Sayangnya, situasi Timur Tengah yang memanas membuat kunjungan mengalami penurunan tajam hanya dalam waktu hitungan hari setelah perang dimulai. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, bahkan telah mengeluarkan peringatan perjalanan kepada warganya untuk tidak mengunjungi negara-negara di kawasan tersebut.

Dilansir Oxford Economics, penurunan ini diperkirakan mencapai angka 11—26 persen atau sekitar 23—38 juta pengunjung jika perang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Di antara negara lainnya, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC), seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain, diperkirakan akan mengalami kerugian paling besar karena mereka adalah destinasi terbesar di kawasan Timur Tengah. 

Perang antara Iran vs AS-Israel memang gak ada hubungannya dengan pariwisata. Namun, ketika itu terjadi, pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampaknya. Naiknya harga tiket, kunjungan yang menurun, hingga penutupan dan pembatalan penerbangan menjadi bukti betapa buruknya efek yang ditimbulkan oleh perang ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More