Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pulau Capri, Italia
Pulau Capri, Italia (commons.wikimedia.org/Norbert Nagel)

Intinya sih...

  • Fenomena overtourism mengganggu keseimbangan pulau

  • Pemerintah menerapkan pembatasan rombongan wisata

  • Kebijakan baru disambut positif warga dan pelaku usaha

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pulau Capri di Italia baru-baru ini menjadi sorotan setelah pemerintah lokal setempat mengumumkan kebijakan baru untuk membatasi lonjakan wisatawan pada musim panas. Pulau Capri terletak di Teluk Napoli, Italia. Selama puluhan tahun, pulau ini memang dikenal sebagai destinasi elite sejak era Romawi berkat panorama tebing kapur, laut biru, dan vila-vila bersejarah.

Lonjakan jumlah pelancong mulai terjadi sejak pemulihan sektor pariwisata global pascapandemi, ketika kunjungan harian mampu mencapai puluhan ribu orang dalam satu waktu. Situasi tersebut mendorong pemerintah setempat menerapkan pembatasan baru demi menjaga keseimbangan antara ekonomi, wisata dan keberlanjutan ruang hidup bagi warga lokal.

1. Fenomena overtourism mulai mengganggu keseimbangan pulau

ilustrasi pengunjung di Pulau Capri (commons.wikimedia.org/Norbert Nagel)

Overtourism merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika jumlah wisatawan melebihi daya tampung suatu destinasi, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, ekonomi, maupun kehidupan sosial masyarakat setempat. Fenomena ini banyak terjadi di kota-kota wisata di Eropa karena popularitas yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan kapasitas ruang publik yang ada.

Pulau kecil seperti kawasan pesisir Mediterania, layaknya Pulau Capri, menjadi wilayah paling rentan karena keterbatasan lahan serta infrastruktur transportasi yang tidak dirancang untuk mobilitas pengunjung secara massal. Kepadatan wisata di wilayah tersebut terlihat dari antrean panjang di jalan sempit, penumpukan pengunjung di objek wisata, serta meningkatnya produksi sampah selama high season.

Situasi serupa terjadi di kawasan ini karena jumlah wisatawan harian pada musim panas dapat mencapai sekitar 50 ribu orang, sedangkan populasi penduduk tetap hanya berkisar 13—15 ribu jiwa. Ketimpangan tersebut menyebabkan ruang publik menjadi padat hingga aktivitas warga sehari-hari terganggu.

2. Pemerintah menerapkan pembatasan rombongan wisata

ilustrasi pengunjung Pulau Capri commons.wikimedia.org/Deror_avi)

Kebijakan baru menetapkan bahwa setiap kelompok tur yang memasuki wilayah pulau hanya diperbolehkan berjumlah maksimal 40 orang. Pembatasan ini bertujuan mengurangi kepadatan pada jalur pejalan kaki serta mencegah penumpukan wisatawan di objek wisata utama. Aturan tambahan juga diberlakukan bagi rombongan berjumlah lebih dari 20 orang, yaitu kewajiban menggunakan papan penanda kecil tanpa atribut mencolok seperti bendera atau payung berukuran besar.

Langkah tersebut diambil karena atribut visual yang besar sering menghambat pergerakan pengunjung terutama di jalan sempit serta memperparah kepadatan arus pejalan kaki. Penggunaan pengeras suara oleh pemandu wisata pun juga dilarang karena dianggap menimbulkan kebisingan. Sistem komunikasi kini diarahkan menggunakan perangkat audio pribadi berupa earphone, sehingga aktivitas tur tetap berjalan tanpa mengganggu suasana lingkungan sekitar Pulau Capri.

3. Kebijakan baru disambut positif warga dan pelaku usaha

ilustrasi pelaku usaha di Pulau Capri (commons.wikimedia.org/Jorge Royan)

Pelaku usaha perhotelan di wilayah Pulau Capri menilai pembatasan ini sebagai langkah realistis untuk menjaga pengalaman pengunjung agar tetap berkualitas sekaligus mempertahankan keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang. Langkah ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan mengandalkan jumlah kunjungan tinggi, tapi justru menurunkan kenyamanan wisata. Warga setempat selama bertahun-tahun mengeluhkan kepadatan ekstrem pada musim panas karena jalan sempit Pulau Capri sering dipenuhi wisatawan hingga mobilitas menjadi sulit.

Situasi tersebut bahkan membuat akses menuju fasilitas publik, seperti pelabuhan dan pusat transportasi, menjadi terganggu. Pemerintah lokal juga merencanakan pembatasan lalu lintas kapal wisata di pelabuhan utama sebagai langkah lanjutan untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan pesisir. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pengelolaan wisata tidak hanya berfokus pada jumlah pengunjung, tetapi juga mencakup aspek transportasi dan keberlanjutan ekosistem laut yang ada di Pulau Capri.

Pulau Capri sebenarnya telah mengatur etika wisata sejak pertengahan abad ke-20, termasuk larangan penggunaan radio keras di ruang publik, serta pembatasan perilaku yang dianggap merusak karakter kawasan bersejarah. Kebijakan baru ini semakin menunjukkan bahwa destinasi populer tetap dapat menerima wisatawan tanpa harus mengorbankan kualitas hidup masyarakat lokal. Menurutmu, apakah kebijakan pembatasan wisata seperti di Pulau Capri bisa menjadi solusi untuk mengatasi overtourism di berbagai tempat wisata populer di dunia?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team