Overtourism, Jepang Batalkan Festival Bunga Sakura Gunung Fuji

- Perilaku meresahkan turis
- Lonjakan wisatawan asing menyebabkan perilaku buruk, seperti buang sampah sembarangan dan masuk ke rumah warga tanpa izin.
- Kemacetan juga mengancam keselamatan anak-anak saat menggunakan jalur sekolah.
- Meskipun festival dibatalkan, pemerintah kota akan mempersiapkan tempat parkir sementara dan toilet portabel untuk mengendalikan kemacetan.
- Aksi turis telah lama meresahkan warga Jepang
Jakarta, IDN Times - Dampak dari lonjakan jumlah wisatawan asing ke Jepang kembali menyebabkan keresahan bagi penduduk lokal. Kali ini kota Arakurayama, Prefektur Yamanashi, Fujiyoshida, yang terkenal dengan festival bunga sakuranya mengumumkan pembatalan penyelenggaraan acara festival tersebut yang telah berlangsung selama 10 tahun terakhir dan menarik sekitar 200.000 pengunjung setiap tahunnya.
Dalam pernyataan otoritas setempat pada Selasa (3/2/2026), jumlah wisatawan asing yang berkunjung setiap hari pada puncak musim semi bisa melebihi 10.000 orang. Peningkatan ini disebut melebihi kapasitas kota dan dikhawatirkan akan berdampak serius pada lingkungan penduduk setempat, dilansir Kyodo News.
1. Perilaku meresahkan turis

"Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang sangat kuat," kata Shigeru Horiuchi, walikota Fujiyoshida, dalam sebuah pernyataan.
Taman Arakurayama Sengen adalah tempat populer untuk menikmati pemandangan Gunung Fuji, terutama di musim semi ketika pengunjung dapat mengambil foto bunga sakura yang mekar di sekitar pagoda lima lantai. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus rela mengantre hingga tiga jam lamanya.
Disisi lain, pihak kota menyatakan bahwa peningkatan ini justru menyebabkan banyaknya laporan insiden terkait perilaku buruk yang dilakukan oleh turis. Salah satunya adalah masalah sanitasi, seperti buang sampah sembarangan, kasus orang buang air besar di halaman pribadi, hingga masuk ke rumah warga tanpa ijin untuk menggunakan toilet. Saat ditegur, turis justru menciptakan keributan.
Faktor kemacetan juga menjadi salah satu penyebab lainnya. Pemerintah setempat berkata bahwa orang tua dan warga telah menyampaikan kekhawatiran tentang keselamatan anak-anak saat menggunakan jalur sekolah karena terdesak oleh pengunjung yang memadati trotoar.
2. Pemerintah kota tetap bersiap untuk kedatangan turis

Meskipun festival tersebut tidak akan terlaksana tahun ini, tetapi kota itu tetap akan mempersiapkan diri untuk lonjakan jumlah pengunjung selama bulan April dan Mei. Pemerintah kota berencana untuk meningkatkan keamanan dengan membangun tempat parkir sementara serta toilet portabel, sebagai salah satu langkah untuk mengendalikan kemacetan dan meringankan beban warga.
3. Aksi turis telah lama meresahkan warga Jepang

Keputusan untuk menutup suatu objek turis di Jepang bukan kali ini saja terjadi. Pada tahun 2024, pihak berwenang di kawasan Fujikawaguchiko terpaksa memasang penghalang besar untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji di belakang sebuah minimarket viral. Di tahun yang sama, pemerintah Jepang juga memutuskan untuk membatasi sebagian akses ke distrik Gion, kota Kyoto yang terkenal sebagai tempat tinggal para Geisha karena berbagai perilaku turis asing telah menyebabkan keresahan.
Sementara baru-baru ini, pemerintah Jepang telah memberlakukan biaya masuk dan pembatasan jumlah pendaki harian yang mendaki Gunung Fuji. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendakian dan kenyamanan di sekitar area.
Di sisi lain, jumlah wisatawan yang mengunjungi Jepang pada tahun 2025 disebut mencapai rekor tertinggi yang pernah ada. Dalam konferensi pers, kementerian pariwisata Jepang, Yasushi Kaneko menyebutkan bahwa lonjakan angka telah mencatatkan 42,7 juta kedatangan wisatawan. Itu adalah kali pertama jumlah turis tercatat melampaui 40 juta orang. Melemahnya yen disinyalir kuat menjadi salah satu faktor penting akan terjadinya overtourism di Jepang saat ini.

















