Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi Kota Tua Jakarta
ilustrasi Kota Tua Jakarta (unsplash.com/id/@kaeente)

Intinya sih...

  • Rute walking tour Kota Tua Jakarta menyimpan kekayaan sejarah dan bangunan lawas yang masih bertahan dengan bentuk aslinya.

  • Waktu terbaik untuk walking tour adalah pagi atau sore hari, dengan durasi 1-2 jam atau bisa bertambah menjadi 3-5 jam.

  • Pastikan menghindari hari Senin, memperhatikan jam buka tutup museum, dan membawa pakaian ringan serta botol minum.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Rute walking tour Kota Tua Jakarta menjadi salah satu yang difavoritkan wisatawan. Selain menyimpan kekayaan sejarah, banyaknya bangunan lawas yang masih bertahan dengan bentuk aslinya jadi daya tarik yang sulit dilewatkan para pelancong. Makanya, kawasan ini selalu masuk daftar wajib kunjung bagi siapa pun yang ingin melihat sisi klasik Jakarta.

Pengalaman walking tour ini terasa lebih hidup, karena kamu tidak hanya melihat, tapi juga memahami sejarah Kota Tua Jakarta secara langsung. Suasana jalan kaki di antara bangunan tua justru bikin cerita masa lalu terasa lebih dekat dan nyata.

Cocok buat kamu yang ingin wisata santai, tapi tetap dapat insight seru tentang Jakarta. Yuk, coba ikuti rute walking tour seharian di Kota Tua Jakarta yang pasti seru berikut ini!

1. Rekomendadi tempat yang dikunjungi saat walking tour Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta (unsplash.com/elvanputra_)

  • Museum Bank Indonesia & Mandiri

Perjalanan menyusuri Kota Tua Jakarta bisa dimulai dari Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri. Kedua tempat tersebut yang lebih dekat dengan Stasiun Jakarta Kota sebagai akses utama. Makanya, dari sinilah kamu bisa memulai perjalanan sekaligus titik kumpul bersama teman-teman lainnya, yang mungkin datang dari berbagai arah.

  • Museum Fatahillah

Bangunan yang awalnya dikenal dengan nama Stadhuis ini memiliki struktur megah bercat putih yang dulu berfungsi sebagai markas administrasi Perusahaan Hindia Timur. Setelahnya, bangunan ini digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda di Batavia dan peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sebagai pusat pemerintahan VOC.

Dari sisi arsitektur, museum ini mengusung gaya Neoklasik yang sekilas menyerupai Istana Dam di Amsterdam. Setelah merdeka, bangunan ini resmi dibuka sebagai museum pada 1974, dan kini menawarkan kilas balik cerita kolonial kota Jakarta.

  • Museum Wayang

Museum Wayang lokasinya menghadap langsung ke kawasan Taman Fatahillah. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan koleksi wayang yang dibuat dari kayu, kulit, hingga berbagai bahan lainnya. Museum ini juga menampilkan aneka jenis wayang dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus koleksi wayang mancanegara seperti dari Malaysia, Thailand, Suriname, dan masih banyak lagi.

Hingga kini, koleksi Museum Wayang telah mencapai lebih dari 6.800 buah wayang. Jenisnya pun sangat beragam, mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, hingga gamelan. Tak cuma terdapat ruang pamer, Museum Wayang telah dilengkapi teater yang kerap digunakan untuk pertunjukan wayang tradisional dan bisa disaksikan secara umum.

  • Museum Seni Rupa dan Keramik

Bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta pertama kali dibangun pada 1870 oleh arsitek Jhe.WHFH can Raders di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Miyer. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai kantor pengadilan. Seiring waktu, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi ruang pelestarian seni yang sarat nilai budaya.

Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta awalnya didedikasikan untuk menampilkan seni rupa tradisional dan keramik dari Indonesia. Namun perkembangannya, museum ini menjadi pusat pelestarian seni rupa bertaraf internasional, dengan koleksi dari berbagai masa dan juga mancanegara. Dan museum ini dilengkapi fasilitas seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, hingga Workshop Melukis.

  • Cafe Batavia

Kalau mengadakan rute walking tour Kota Tua Jakarta, jangan lewatkan mampir ke Cafe Batavia. Kafe ini sudah beroperasi sejak 1993 dan dikenal lewat bangunan bergaya Hindia Belanda yang kaya sejarah. Namun, jauh sebelum menjadi tempat bersantap, pada 1803 bangunan tersebut pernah dijadikan sebagai penginapan bagi pejabat tinggi VOC.

Hingga akhirnya, properti tersebut dibeli oleh Paul Hassan, keturunan Prancis yang mengubahnya menjadi restoran dan bertahan hingga sekarang. Makin menarik karena suasana klasik di dalam Cafe Batavia tetap dijaga seperti masa awal beroperasi, lengkap dengan nuansa kolonial yang kental.

  • Toko Merah

Toko Merah dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, sosok yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1743–1750. Dalam masa kepemimpinannya, van Imhoff mengalihfungsikan bangunan ini menjadi asrama bagi Academie de Marine yang diresmikan pada tahun pertamanya menjabat.

Sayangnya, pada 1755 oleh Jacob Mossel academi tersebut dibubarkan dan diganti menjadi hotel mewah dengan kepemilikan yang terus berganti. Nama Toko Merah sendiri baru dikenal luas sejak 1851, ketika kapten Cina bernama Oey Liauw Kong membelinya untuk dijadikan rumah sekaligus tempat usaha, sebelum akhirnya kembali berganti fungsi sebagai bank, kantor BUMN, dan berbagai institusi lainnya.

2. Waktu terbaik untuk walking tour di Kota Tua Jakarta

ilustrasi itinerary seharian di Kota Tua Jakarta (pexels.com/@tomfisk)

Karena jarak antardestinasi yang saling berdekatan, walking tour Kota Tua Jakarta ini bisa diselesaikan dalam waktu singkat, sekitar 1—2 jam. Namun, durasi bisa bertambah menjadi 3—5 jam jika kamu memilih masuk ke beberapa museum atau beristirahat sambil ngopi santai di Cafe Batavia. Itinerary waktu ini tentu sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan gaya jalan santai atau hal-hal apa saja yang ingin dieksplorasi mendalam.

Gak kalah penting, mengingat cuaca Jakarta yang cenderung panas dan lembap, waktu terbaik untuk walking tour Kota Tua Jakarta adalah pagi atau sore hari. Pagi hari mulai pukul 08.00 WIB cocok untuk suasana yang lebih sejuk dan belum terlalu ramai. Alternatif lainnya, kamu bisa memulai tur sore hari sekitar pukul 15.00 WIB agar lebih nyaman dan tetap menikmati suasana menjelang senja.

3. Tips walking tour di Kota Tua Jakarta

Batavia Cafe (pexels.com/@hengga-wang-2148790340)

Saat merencanakan kunjungan di Kota Tua Jakarta, pastikan kamu menghindari hari Senin, karena sebagian besar museum tutup pada hari tersebut. Pemilihan hari sangat penting, apalagi jika kamu tak ingin hanya sekadar melihat bangunan luarnya saja dan berujung kecewa. Selain itu, pertimbangkan juga soal jam buka dan tutup masing-masing museum, sehingga lebih memudahkan kunjunganmu.

Pastikan bahwa kamu mengunakan pakaian ringan, seperti kaos berbahan katun, karena cuaca Jakarta lembap dan cenderung panas. Jangan lupa membawa payung atau menggunakan sunscreen, mengingat matahari Jakarta yang selalu terik. Dan agar tetap nyaman selama walking tour, pastikan membawa botol minum untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Dengan perencanaan yang matang, rute walking tour Kota Tua Jakarta bisa menjadi cara seru untuk mengenal sisi historis ibu kota. Setiap langkah menyuguhkan cerita masa lalu, bangunan ikonik, hingga spot foto yang sayang untuk dilewatkan. Jadi, siapkan waktumu dan nikmati pengalaman menjelajah Kota Tua dengan cara yang santai sekaligus berkesan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team