Kota Tua Jakarta (unsplash.com/elvanputra_)
Perjalanan menyusuri Kota Tua Jakarta bisa dimulai dari Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri. Kedua tempat tersebut yang lebih dekat dengan Stasiun Jakarta Kota sebagai akses utama. Makanya, dari sinilah kamu bisa memulai perjalanan sekaligus titik kumpul bersama teman-teman lainnya, yang mungkin datang dari berbagai arah.
Bangunan yang awalnya dikenal dengan nama Stadhuis ini memiliki struktur megah bercat putih yang dulu berfungsi sebagai markas administrasi Perusahaan Hindia Timur. Setelahnya, bangunan ini digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda di Batavia dan peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sebagai pusat pemerintahan VOC.
Dari sisi arsitektur, museum ini mengusung gaya Neoklasik yang sekilas menyerupai Istana Dam di Amsterdam. Setelah merdeka, bangunan ini resmi dibuka sebagai museum pada 1974, dan kini menawarkan kilas balik cerita kolonial kota Jakarta.
Museum Wayang lokasinya menghadap langsung ke kawasan Taman Fatahillah. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan koleksi wayang yang dibuat dari kayu, kulit, hingga berbagai bahan lainnya. Museum ini juga menampilkan aneka jenis wayang dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus koleksi wayang mancanegara seperti dari Malaysia, Thailand, Suriname, dan masih banyak lagi.
Hingga kini, koleksi Museum Wayang telah mencapai lebih dari 6.800 buah wayang. Jenisnya pun sangat beragam, mulai dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, hingga gamelan. Tak cuma terdapat ruang pamer, Museum Wayang telah dilengkapi teater yang kerap digunakan untuk pertunjukan wayang tradisional dan bisa disaksikan secara umum.
Bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta pertama kali dibangun pada 1870 oleh arsitek Jhe.WHFH can Raders di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Miyer. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai kantor pengadilan. Seiring waktu, bangunan tersebut beralih fungsi menjadi ruang pelestarian seni yang sarat nilai budaya.
Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta awalnya didedikasikan untuk menampilkan seni rupa tradisional dan keramik dari Indonesia. Namun perkembangannya, museum ini menjadi pusat pelestarian seni rupa bertaraf internasional, dengan koleksi dari berbagai masa dan juga mancanegara. Dan museum ini dilengkapi fasilitas seperti Ruang Serbaguna, Workshop Keramik, hingga Workshop Melukis.
Kalau mengadakan rute walking tour Kota Tua Jakarta, jangan lewatkan mampir ke Cafe Batavia. Kafe ini sudah beroperasi sejak 1993 dan dikenal lewat bangunan bergaya Hindia Belanda yang kaya sejarah. Namun, jauh sebelum menjadi tempat bersantap, pada 1803 bangunan tersebut pernah dijadikan sebagai penginapan bagi pejabat tinggi VOC.
Hingga akhirnya, properti tersebut dibeli oleh Paul Hassan, keturunan Prancis yang mengubahnya menjadi restoran dan bertahan hingga sekarang. Makin menarik karena suasana klasik di dalam Cafe Batavia tetap dijaga seperti masa awal beroperasi, lengkap dengan nuansa kolonial yang kental.
Toko Merah dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, sosok yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1743–1750. Dalam masa kepemimpinannya, van Imhoff mengalihfungsikan bangunan ini menjadi asrama bagi Academie de Marine yang diresmikan pada tahun pertamanya menjabat.
Sayangnya, pada 1755 oleh Jacob Mossel academi tersebut dibubarkan dan diganti menjadi hotel mewah dengan kepemilikan yang terus berganti. Nama Toko Merah sendiri baru dikenal luas sejak 1851, ketika kapten Cina bernama Oey Liauw Kong membelinya untuk dijadikan rumah sekaligus tempat usaha, sebelum akhirnya kembali berganti fungsi sebagai bank, kantor BUMN, dan berbagai institusi lainnya.