Rute Walking Tour Glodok, Cara Santai Menyusuri Pecinan Seharian

Rute walking tour Glodok menjadi salah satu cara paling menarik untuk menjelajahi kawasan Pecinan Jakarta. Melalui tur jalan kaki ini, kamu akan diajak menyusuri gang-gang tua, kelenteng bersejarah, hingga bangunan peninggalan kolonial yang membentuk wajah Jakarta hingga hari ini. Di sela perjalanan, akan ditemui ragam kuliner khas Peranakan yang menambah daya tarik wisata Glodok.
Sebagai ide wisata di Jakarta, walking tour Pecinan Glodok tak sekadar datang lalu foto, tetapi membuka cerita tentang akulturasi Tionghoa-Betawi dan tradisi dagang yang menghidupi kawasan ini sejak lama. Cocok untuk pencinta sejarah dan budaya, pengalaman berjalan kaki di Glodok membuat mengenal ibu kota terasa lebih berwarna dan penuh sudut pandang berbeda.
1. Gapura Pecinan Glodok

Dalam banyak rute walking tour Chinatown Jakarta, titik temu atau start point-nya ada di Gapura Chinatown Glodok. Selain karena ikonik dan mudah ditemukan dari berbagai arah, juga memberikan kesempatan kepada peserta memahami latar sejarah kawasan sejak awal. Namun siapa sangka, ternyata gapura ini ternyata bukan bangunan baru, lho.
Gapura Chinatown di kawasan Glodok Jakarta bukan hanya sekadar gerbang arsitektural, tetapi juga simbol sejarah dan keberagaman masyarakat di ibu kota. Gapura tersebut awalnya berdiri sejak abad ke-18. Sayangnya, pada masa pendudukan Jepang justru diruntuhkan dan sempat hilang selama puluhan tahun sebelum akhirnya dibangun kembali dan diresmikan oleh Anies Baswedan.
Pembangunan kembali gapura yang kini menjadi ikon Pecinan Glodok diresmikan pada tahun 2022 sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi budaya Tionghoa di Jakarta dan sebagai simbol persatuan.
2. Gang Gloria

Gang Gloria, sebuah lorong sempit selebar sekitar4 meter yang sudah lama dikenal sebagai surganya kuliner peranakan Jakarta. Sepanjang gang ini, setidaknya ada lebih dari 30 lapak pedagang dan kedai legendaris seperti Bakmi Amoy, Soto Betawi Nyonya Afung, dan Kedai Kopi Es Tak Kie yang menjajakan makanan khas yang mencerminkan kekayaan kuliner Tionghoa yang telah bertahan sejak awal abad ke-20.
Namun siapa sangka, di balik ketenaran Gang Gloria kini sebagai tempat jajan di Glodok, menyimpan kisah tragis pada kisaran tahun 1740-an di mana terjadi peristiwa yang bernama Geger Pecinan yang berlokasi di dalam Benteng Batavia. Banyak keturunan Tionghoa dibunuh dan melarikan diri sehingga ekonomi Hindia-Belanda morat-marit. Akhirnya, pemerintah Belanda membujuk warga Tionghoa untuk kembali ke Batavia untuk menempati sebelah barat kota Batavia yang kemudian saat ini dikenal dengan Glodok tersebut.
3. Petak Enam

Petak Enam di Chandra kini menjadi salah satu sudut menarik di kawasan Glodok, Jakarta Barat yang menyajikan kombinasi antara sejarah dan pengalaman kuliner modern. Sebelum menjadi seperti sekarang, bangunan ini merupakan bekas lapangan parkir Gedung Chandra yang kemudian direvitalisasi menjadi tempat berkumpul masyarakat dengan suasana nyaman dan unik. Dengan lebih dari 30 tenant Petak Enam menjadi pilihan pas untuk isi perut sekaligus mengenal ragam rasa hidangan khas Pecinan sampai yang kekinian.
Nuansa di Petak Enam sendiri cukup unik karena bangunannya yang memiliki arsitektur kolonial tapi dipadukan dengan interior Tionghoa yang Instagrammable. Tempat ini berkembang bukan hanya sebagai food court, tetapi juga sebagai ruang komunitas yang bisa dipakai untuk berbagai aktivitas, dari nongkrong santai hingga acara kecil bersama teman atau keluarga.
4. Pasar Petak Sembilan

Rute walking tour Glodok, Jakarta bisa dilanjutkan ke Pasar Petak Sembilan. Beda dengan Petak Enam yang lebih modern, Petak Sembilan adalah pasar tradisional yang kental dengan suasana khas Pecinan lewat ornamen-ornamen bernuansa Tionghoa. Di sini, kamu bisa menemukan beragam perlengkapan ibadah umat Hindu dan Buddha, mulai dari lampion, hio, dupa, hingga jinzhi, termasuk busana khas seperti baju Imlek dan changshan.
Gak sampai di situ saja, pasar ini juga tempat berburu kue, camilan, dan permen yang sering dijadikan bingkisan saat perayaan Imlek. Keunikan lain dari Petak Sembilan yaitu kulinernya, salah satunya swike atau olahan daging kodok yang dikenal sebagai masakan khas Tionghoa. Ada juga tempat makan legendaris lain misalnya Mipan, bakmi, dan lain sebagainya.
5. Vihara Dharma Bakti

Berlokasi di Jalan Kemenangan III, kawasan Petak Sembilan, Vihara Dharma Bhakti akan langsung mencuri perhatian lewat warnanya yang merah dan kuning cerah, lengkap dengan arsitektur Tionghoa. Begitu melangkah masuk pun kamu akan langsung disambut dengan aroma dupa yang pekat bercampur asap lilin menyelimuti ruang sembahyang, yang diapit deretan patung dewa, kaligrafi, ukiran halus, hingga lukisan naga yang sarat makna. Di area luar bangunan utama, patung-patung tambahan berdiri di sayap samping, memperkuat kesan sakral sekaligus artistik.
Gak banyak yang tahu bahwa vihara yang juga dikenal dengan nama Kim Tek Ie atau Jin De Yuan ini didedikasikan untuk Dewi Kwan Im dan disebut sebagai vihara tertua sekaligus terkenal di Jakarta. Dibangunnya sendiri sudah sejak 1650 oleh Letnan Tionghoa Kwee Hoen dengan nama awal Koan Im Teng meski vihara ini sempat terbakar hebat pada 1740 sebelum akhirnya dipugar kembali pada 1755 oleh Kapten Oey Tjie. Dan hingga kini, vihara selalu ramai terutama saat perayaan Imlek serta setiap tanggal satu dan lima belas penanggalan lunar.
6. Gereja Santa Maria de Fatima

Sering dikira kelentang, Gereja Santa Maria de Fatima di Jalan Kemenangan III, Glodok tersebut memang mengadopsi gaya Tionghoa mirip kelenteng dengan atap khas serta ornamen berwarna merah dan emas yang kuat nuansa budaya Cina. Sebelum dijadikan gereja pada awal 1950-an, konon bangunannya memang rumah milik saudagar Tionghoa. Sedangkan, nama gerejanya diambil untuk mengenang penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal.
Nah, selain menjadi tempat ibadah umat Katolik, Santa Maria de Fatima juga berfungsi sebagai bukti atas toleransi dan keragaman budaya di Jakarta Barat, di mana tradisi lokal dan ajaran Katolik bisa saling berdampingan. Apalagi kini statusnya sebagai bangunan cagar budaya, semakin menegaskan nilai sejarah dan estetika yang dimilikinya di tengah hiruk pikuk kawasan Glodok. Bahkan, di gereja Katolik ini kamu bisa menemukan patung Yesus bermata sipit, lho.
Itulah rute walking tour Pecinan Glodok di Jakarta yang bisa kamu jelajahi dengan langkah santai. Disusun dari titik terdekat hingga terjauh, rute ini ramah untuk pejalan kaki sekaligus mempertemukan sejarah, budaya, dan kuliner dalam satu perjalanan. Dari lorong pasar hingga bangunan ibadah bersejarah, semuan terangkum dengan menarik dan memberi sudut pandang berbeda untuk menikmati sang ibu kota.


















