Keluhan serupa juga datang dari turis lainnya, seperti Harry misalnya. Melalui akun @resurgent_harry, ia mengunggah video pada 25 Juli 2026 dan menyebut realitas Bali tidak selalu seindah yang terlihat.
Dalam caption TikToknya, ia menulis, "The reality of Bali is grim. It’s just isolated pockets of beauty but behind the camera a thousand tourists waiting to take a photo. Open air rubbish dumps everywhere destroying the scenery, pollution so thick you can’t breathe, and endless traffic jams. (Realita di Bali itu suram. Hanya ada titik-titik keindahan yang terpisah, tapi di balik kamera ada ribuan turis yang antre untuk berfoto. Tempat pembuangan sampah terbuka ada di mana-mana dan merusak pemandangan, polusinya begitu tebal sampai sulit bernapas, serta kemacetan yang seolah tak ada habisnya).”
Tak hanya itu, ia juga secara blak-blakan memberi penilaian rendah dengan mengatakan bahwa Bali hanya 1 dari 10 menurut versinya.
Meski menuai beragam kritik, pengalaman setiap orang terhadap Bali tentu tidak bisa disamaratakan. Di satu sisi, Bali tetap memikat dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya yang tak akan dapat ditemui di wilayah atau negara mana pun. Namun di sisi lain, beragam keluhan yang muncul dari turis maupun ekspatriat ini tak bisa dilepaskan dari isu overtourism yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir.
Lonjakan jumlah wisatawan, pembangunan yang masif, hingga tekanan terhadap lingkungan dan budaya lokal menjadi tantangan nyata yang perlu dihadapi bersama. Kondisi ini bisa menjadi bahan evaluasi, baik bagi pelaku industri pariwisata maupun pemerintah, agar pengelolaan destinasi bisa lebih berkelanjutan.