Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sisi Gelap Bali yang Bikin Turis Gak Betah, Efek Overtourism?
Tangkapan layar konten bule yang mengungkap sisi gelap Bali (tiktok.com/lea_horsholt)

Pulau Bali selama ini dikenal sebagai destinasi impian dengan pantai indah, budaya yang kaya, hingga keramahan masyarakat lokalnya. Namun, di balik pesonanya, ada sisi lain yang jarang dibahas. Hal ini diungkapkan seorang travel content creator bernama Lea Horsholt melalui akun TikTok @lea_horsholt.

Dalam konten yang diunggah pada Kamis (16/4), ia membagikan alasan mengapa memutuskan meninggalkan Bali setelah lima tahun menetap, lalu pindah ke Portugal. Meski mengaku mencintai budaya dan masyarakat Bali, ia menilai kehidupan jangka panjang di pulau tersebut tidak selalu seindah yang terlihat di media sosial.

1. Terlalu ramai dan pertemanan yang sementara

Lea menuliskan beberapa hal yang membuatnya tidak betah tinggal di Bali, salah satunya sudah terlalu ramai dan overstimulating. Lea menyebut perkembangan Bali yang sangat cepat justru menjadi tantangan tersendiri. Ia merasa pulau ini semakin padat, dengan lalu lintas yang macet, keramaian turis, hingga suara konstruksi yang hampir tak pernah berhenti.

Menurut dia, kondisi ini membuat sistem sarafnya kelelahan, karena terus-menerus menerima stimulasi berlebih setiap hari. Alih-alih tenang, Bali justru terasa melelahkan secara mental.

Berikutnya, ia menyebut pertemanan yang terasa sementara. Sebagai destinasi favorit ekspatriat, Bali dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi dalam waktu singkat.

Lea mengaku banyak hubungan pertemanan yang terasa sementara, karena sebagian besar orang tidak menetap dalam jangka panjang. Hal ini membuatnya sulit membangun koneksi yang stabil dan mendalam, karena harus terus beradaptasi dengan perpisahan.

2. Westernisasi yang kian terasa

Lea juga menyoroti perubahan Bali yang dinilai semakin “kebarat-baratan.” Banyak tempat wisata dibangun untuk memenuhi selera turis asing, yang menurutnya berdampak pada berkurangnya keaslian budaya dan alam Bali. Ia bahkan mengaku merasa berada dalam dilema moral, karena sebagai ekspatriat, dirinya juga menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Lea merasa tidak lagi menemukan kecocokan dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Ia menilai sebagian kehidupan ekspatriat di Bali cenderung berpusat pada citra diri, pencapaian, dan gaya hidup tertentu. Hal tersebut membuatnya merasa tidak berada di tempat yang tepat dan tidak berkembang secara emosional maupun spiritual.

Terakhir soal ketidakpastian soal aturan dan visa. Meski memiliki visa jangka panjang, Lea mengaku tetap menghadapi ketidakpastian terkait regulasi. Aturan yang kerap berubah membuatnya merasa sulit menjalani kehidupan dengan rasa aman dan stabil. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting yang akhirnya mendorongnya untuk pindah ke negara lain.

3. Reaksi warganet

Meski mengungkapkan berbagai sisi negatif, Lea tetap menegaskan bahwa ia mencintai banyak hal tentang Bali.

Still love so many things about Bali, but it's one of those places where you have to recognize when your chapter is fulfilled and living there long term is not always how it looks online. (Aku masih mencintai banyak hal tentang Bali, tapi ini adalah salah satu tempat di mana kamu harus sadar kapan fase hidupmu di sana sudah selesai, dan tinggal dalam jangka panjang tidak selalu seindah yang terlihat di media sosial),” tulis Lea di bagian akhir kontennya, Kamis (16/4).

Tulisan Lea mengundang berbagai reaksi dari warganet. Ada yang setuju, ada juga yang tidak sependapat.

Misalnya seperti komentar pemilik akun @adiartapratama yang menulis, “I'm Balinese and I feel you. I have plan to move out from Bali in 20 years start from now. I found my peace in place called Yogyakarta. but however, Bali is my blood and my home. and once again, Bali always welcome you anytime. (Aku orang Bali dan aku mengerti perasaanmu. Aku berencana untuk pindah dari Bali dalam 20 tahun mulai dari sekarang. Aku menemukan ketenanganku di tempat bernama Yogyakarta. Namun, bagaimana pun juga, Bali adalah darahku dan rumahku. Dan sekali lagi, Bali akan selalu menyambutmu kapan saja).”

Ada juga reaksi yang terkesan menyindir Lea, seperti yang ditulis akun @piebub, "Tell me you only go to Canggu without telling me (Beri tahu aku kalau kamu cuma ke Canggu, tanpa harus ngomong langsung).” Ungkapan seperti itu biasanya ditujukan ke orang yang pengalamannya di Bali terbatas hanya di Canggu, tapi seolah-olah mewakili keseluruhan Bali.

4. Banyak konten serupa

Keluhan serupa juga datang dari turis lainnya, seperti Harry misalnya. Melalui akun @resurgent_harry, ia mengunggah video pada 25 Juli 2026 dan menyebut realitas Bali tidak selalu seindah yang terlihat.

Dalam caption TikToknya, ia menulis, "The reality of Bali is grim. It’s just isolated pockets of beauty but behind the camera a thousand tourists waiting to take a photo. Open air rubbish dumps everywhere destroying the scenery, pollution so thick you can’t breathe, and endless traffic jams. (Realita di Bali itu suram. Hanya ada titik-titik keindahan yang terpisah, tapi di balik kamera ada ribuan turis yang antre untuk berfoto. Tempat pembuangan sampah terbuka ada di mana-mana dan merusak pemandangan, polusinya begitu tebal sampai sulit bernapas, serta kemacetan yang seolah tak ada habisnya).”

Tak hanya itu, ia juga secara blak-blakan memberi penilaian rendah dengan mengatakan bahwa Bali hanya 1 dari 10 menurut versinya.

Meski menuai beragam kritik, pengalaman setiap orang terhadap Bali tentu tidak bisa disamaratakan. Di satu sisi, Bali tetap memikat dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya yang tak akan dapat ditemui di wilayah atau negara mana pun. Namun di sisi lain, beragam keluhan yang muncul dari turis maupun ekspatriat ini tak bisa dilepaskan dari isu overtourism yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir.

Lonjakan jumlah wisatawan, pembangunan yang masif, hingga tekanan terhadap lingkungan dan budaya lokal menjadi tantangan nyata yang perlu dihadapi bersama. Kondisi ini bisa menjadi bahan evaluasi, baik bagi pelaku industri pariwisata maupun pemerintah, agar pengelolaan destinasi bisa lebih berkelanjutan.

Editorial Team