ilustrasi seorang pria di bandara (pixabay.com/JoshuaWoroniecki)
Presiden Airports of Thailand (AOT), Paweena Jariyathitipong, kemudian menekankan bahwa biaya bandara bukanlah pajak, tetapi sumber pendanaan untuk operasional bandara dan investasi infrastruktur jangka panjang. Jariyathitipong juga menambahkan bahwa kenaikan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengimbangi penurunan pendapatan bebas bea.
Namun, biaya bandara yang melejit tersebut telah memicu kritik dari beberapa pengamat. Salah satunya, Samart Ratchapolsitte, mantan wakil gubernur Bangkok, yang memperingatkan bahwa biaya penumpang di Bandara Suvarnabhumi akan menjadi lebih tinggi daripada di beberapa bandara internasional utama seperti Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan dan Bandara Haneda di Jepang, meski standar layanan menurutnya belum sesuai dengan bandara-bandara tersebut.
Samart Ratchapolsitte juga mengatakan bahwa para pelancong asing dengan anggaran terbatas kemungkinan akan merasakan dampak terberat dari kebijakan ini. Kenaikan biaya bandara yang hampir 400 baht Thailand (Rp216 ribuan) dapat mendorong harga tiket pesawat ke Thailand ikut meroket menjadi antara 4.000 dan 5.000 baht Thailand (Rp2,1 jutaan—Rp2,7 jutaan), yang mewakili kenaikan 7—10 persen.