Bayt Noorwali menampilkan arsitektur khas Hijazi dengan elemen roshan berwarna hijau yang menonjol (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Saya datang ke Al-Balad dengan ekspektasi yang sejujurnya cukup rendah. Sebagai seseorang yang datang dari Yogyakarta—kota yang juga bernapas melalui denyut bangunan-bangunan bersejarahnya—saya awalnya mengira kunjungan ini tak akan jauh berbeda dengan sensasi menyusuri Jalan Malioboro lalu singgah di Benteng Vredeburg, atau sekadar menghabiskan sore di kawasan Kota Tua Jakarta. Sebuah wisata masa lalu yang oke namun statis.
Namun, di luar dugaan, Al-Balad membalikkan semua ekspektasi itu. Kawasan ini bukan sekadar museum terbuka yang terperangkap di abad lampau; ia adalah denyut nadi kota yang terus hidup dan berkembang. Deru proyek pemugaran dan perluasan yang masif terlihat di berbagai sudut, membuktikan komitmen serius untuk merawatnya, sekaligus menjadi untaian tali sejarah yang mengikat erat masa lalu dengan masa kini.
Menginjakkan kaki di jalanan berbatunya yang rapi, kita langsung ditawarkan untuk mengikuti Hajj Route—napak tilas jalur legendaris yang dulu dilalui jutaan jemaah haji usai armada kapal mereka berlabuh di pesisir Jeddah. Deretan toko suvenir, gerai perhiasan yang memantulkan cahaya senja, dan deretan kafe kekinian memang membuatnya terasa sedikit touristy. Tapi anehnya, hal itu tidak merusak esensi tempat ini.
Pesona khas masyarakat Hijaz tradisional terabadikan dengan sempurna dalam bangunan-bangunan karang antiknya. Fasadnya dihiasi oleh roshan (atau rawasheen)—jendela dan balkon kayu berukir rumit yang menjulang menutupi dinding. Secara historis dan arsitektural, roshan ini bukan sekadar ornamen estetika; ia adalah kecerdasan arsitektur vernakular Hijaz untuk mengalirkan angin laut yang sejuk ke dalam rumah di tengah teriknya iklim pesisir, sekaligus menjaga privasi penghuninya dari hiruk-pikuk jalanan.
Di tengah-tengah Al-Balad, Bayt Nassif berdiri gagah seolah menjadi poros kawasan ini. Dibangun pada akhir abad ke-19 (1881 Masehi), rumah megah berlantai empat ini menyimpan memori monumental sebagai kediaman Raja Abdulaziz tatkala pertama kali memasuki Jeddah pada 1925. Kini, ia bertransformasi menjadi museum sejarah. Memasuki Bayt Nassif adalah sebuah pilihan brilian bagi para pelancong yang cultured; menyusuri tangga kayunya yang landai—yang konon sengaja didesain tanpa undakan agar unta bisa naik hingga ke atap untuk mengantar perbekalan—seakan membawa kita melintasi lorong waktu ke era keemasan para saudagar Laut Merah.
Di seberang kemegahan Bayt Nassif, pemandangan kontras yang memikat menanti. Terdapat deretan kafe lokal yang menjadi oase bagi mereka yang sekadar ingin menikmati sore. Duduk di kursi kayu outdoor, menyeruput secangkir kopi Arab beraroma kapulaga atau manual brew v60 yang kini mendominasi kultur kopi anak muda Jeddah, sembari memandangi siluet bangunan bersejarah yang keemasan tertimpa matahari terbenam adalah sebuah kemewahan yang tak boleh dilewatkan.
Snapshot dari Al Balad
Lorong tua di kawasan Al Balad dengan dinding berarsitektur tradisional (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Pemandangan kontras antara arsitektur tradisional bersejarah dan kedai modern di Al Balad, Jeddah (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Pemandangan tenang di kawasan bersejarah Al Balad, menampilkan jalan berbatu dengan bangunan tua bergaya tradisional dan menara masjid di latar belakang. (IDN Times/Yogie Fadila/MCH2026)
Bab Alfurdhah merupakan salah satu gerbang menuju kawasan Al Balad yang terkenal dengan arsitektur bersejarahnya(IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Bayt Noorwali menampilkan arsitektur khas Hijazi dengan elemen roshan berwarna hijau yang menonjol (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Detail eksterior Bayt Nassif, bangunan bersejarah dengan jendela kayu berukir dan ornamen khas arsitektur tradisional Hijaz di Jeddah, Arab Saudi (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Bagaimanapun, denyut kesejarahan Al-Balad sama sekali belum mati. Sebagai wilayah yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, ia kini merawat lebih dari 600 bangunan berarsitektur langka. Eksplorasi sejarah dan spiritual di Al-Balad tidak akan paripurna tanpa melangkah ke rumah-rumah ibadahnya. Menyusup sedikit ke lorong distrik Al-Mazloum, berdirilah Masjid Al-Shafi'i, salah satu simpul penting dalam rute haji masa lampau. Di sinilah letak keutamaan spiritual kawasan ini. Diyakini sebagai masjid tertua di Jeddah yang pondasinya berasal dari abad ke-13 Masehi (era Ayyubiyah), arsitekturnya sangat memukau dengan tiang-tiang penyangga dari kayu ulin yang konon didatangkan langsung dari India.
Di masa lalu, setelah berbulan-bulan terombang-ambing dan selamat dari ganasnya badai laut, di halaman berlantai pualam masjid inilah para jemaah haji Nusantara dan belahan dunia lainnya merebahkan tubuh lelah mereka. Di tempat ini mereka bersujud syukur dan melangitkan doa sebelum melanjutkan perjalanan darat yang tak kalah berat menuju Makkah. Aura magis, ketenangan, dan sisa-sisa isak tangis rindu para peziarah itu seolah masih mengendap pekat di udara panas Jeddah, melampaui riuhnya suara ekskavator pemugaran di luar temboknya.