Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Catatan Perjalanan: Menyusuri Utrecht yang Menawan

Catatan Perjalanan: Menyusuri Utrecht yang Menawan
maastrichtuniversity.nl

Perjalanan saya menuju Utrecht berangkat dari Eindhoven, yang berjarak 92km jauhnya. Setelah berpamitan dengan teman di stasiun Eindhoven dan membeli tiket kereta seharga 14,30 € (sekitar Rp 207.000), saya tiba di Utrecht satu jam kemudian. Rencana hari ini adalah mengunjungi Rietveld Schröder House yang begitu terkenal dalam dunia Desain Interior yang saya geluti. Setelah turun dari kereta, saya langsung mencari information center untuk mencari tahu bagaimana saya dapat mencapai rumah yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000 ini.

Rietveld Schröder House dirancang oleh arsitek Belanda Gerrit Rietveld Schröder untuk keluarganya pada tahun 1924, sebagai rumah pertama dan satu-satunya dengan gaya De Stijl murni (Gaya De Stijl merupakan sebuah gaya desain di mana semua elemen kembali kepada bentuk dan warna dasar). Meskipun sedikit kecewa setelah diberi tahu bahwa untuk mengunjungi rumah tersebut harus melakukan pendaftaran setidaknya satu hari sebelumnya secara online, saya akhirnya mengikuti saran petugas information center untuk mengunjungi Centraal Museum yang juga menarik karena menyimpan banyak karya Rietveld.

TUA, DAMAI, DAN RAMAH... adalah kesan pertama yang saya rasakan saat berjalan menyusuri kota lama Utrecht, berbekal peta yang saya peroleh dari information center di Centraal Station tadi. Kamera saya sudah siap, dan untuk melengkapi hari yang cerah saya membeli es krim gelato untuk menemani perjalanan saya. Seperti di negara-negara Eropa lainnya, es krim gelato merupakan street food yang banyak dijual di food-truck dengan harga rata-rata mulai 1€ (sekitar Rp 14.500) setiap scoopnya.

Perjalanan dari stasiun menuju museum yang berjarak 1,6km dapat ditempuh dlaam waktu 20 menit berjalan kaki. Rutenya menuntun saya melewati beberapa ikon bersejarah Utrecht, yaitu Domtoren, Domkerk, dan St. Catharina Kathedraal. Serta dua museum lain yang mungkin akan saya kunjungi jika memiliki lebih banyak waktu, yakni Universiteits Museum dan Nijntje Museum. Domtoren merupakan menara gereja tertinggi di Belanda dengan ketinggian 112,5 meter.

Menara ini menjadi bagian katedral Saint Martin yang mulai dibangun pada tahun 1321 namun tidak pernah diselesaikan kosntruksinya karena kurangnya dana. Salah satu bangunan lain yang menarik perhatian saya adalah gedung Academiegebouw, yaitu bangunan utama Universitas Utrecht yang dibangun sebagai hadiah ulang tahun universitas ke-250 dari masyarkat. Arsiteknya, Eugen Gugel merancang bangunan berbentuk huruf “L” ini dengan gaya Neo-Renaissance pada tahun 1892.

Seluruh jalanan di bagian kota lama Utrecht ini berupa jalan paving yang dapat dikatakan cukup sepi kendaraan. Orang-orang menikmati pagi menjelang siang mereka dengan duduk di café atau restoran di pinggir jalan menuju Centraal Museum ini.

UTRECHT CENTRAAL MUSEUM

Utrecht Centraal Museum berada tepat di penghujung jalan Lange Nieuwstraat, yaitu di jalan Agnietenstraat (posisi “tusuk sate”) dan buka setiap hari Selasa hingga Minggu, pukul 11.00 – 17.00 waktu setempat. Biaya tiket masuk sebesar 12,50€ (sekitar Rp 182.000) menurut saya cukup sepadan dengan banyaknya koleksi yang dipamerkan dalam museum ini. Museum ini terbagi menjadi 12 zona ruang pamer yang berada pada lantai-lantai yang berbeda.

Saya dibawa kembali ke masa lalu Utrecht, dimana ruang pamer pertama menceritakan sejarah kota Utrecht dan pembangunan Domtoren. Pada hampir setiap display terdapat speaker interaktif yang akan menceritakan objek pameran, dalam baasa Belanda atau bahasa Inggris. Selain gambar-gambar perancangan Domtoren, juga terdapat beberapa batu reruntuhan asli dari bangunan yang kini hanya tersisa menaranya saja itu.

Saya sangat bersemangat ketika tiba pada zona kreasi, di mana pengunjung (tanpa dipungut biaya) dapat membuat miniatur Domtoren menggunakan 3D-Pen. Aktivitas ini diminati tidak hanya oleh anak-anak, tetapi orang dewasa-pun tertarik untuk mencobanya. Koleksi Gerrit Rietveld sendiri, yang sebenarnya adlaah seorang tukang kayu/pembuat furnitur, tersebar dalam beberapa zona. Mulai sejarah kehidupannya hingga karya-karya perancangannya (furnitur) saya temukan disana.

Untuk anda yang membawa kereta bayi atau kursi roda, tidak perlu khawatir sebab fasilitas dalam museum ini sudah sangat lengkap mendukung kebebasan gerak setiap pengunjung. Karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa menikmati seluruh tur museum ini dan bergegas kembali pada petugas di loket untuk menanyakan jalan menuju Rietveld Schröder House (saya sudah tiba di Utrecht, sehingga saya setidaknya ingin melihat rumah tersebut meski hanya dari luarnya saja).

Jika anda pun ingin mengunjungi Rietveld Schröder House, sebaikya anda mempersiapkan sepatu jalan yang nyaman. Sebab dari Centraal Museum tidak ada kendaraan umum yang menuju rumah tersebut. Jika ingin naik bus, anda harus berjalan kembali ke Centraal Station terlebih dahulu, atau menyewa sepeda dari museum yang tentunya nanti harus dikembalikan ke Centraal Museum ini. Dengan peta grafis yang sangat sederhana, sang petugas berusaha memberikan arahan menuju rumah tersebut, dan saya pun bergegas keluar dari museum untuk mencari rumah yang berjarak 1,9km itu.

KEJUTAN DI TEMPAT TUJUAN

Setelah sempat tersesat dan dibantu oleh penduduk, saya akhirnya melihat tujuan utama saya, Rietveld Schröder House. Saya berjalan sekitar 30 menit melalui sebuah taman kota kecil dan pemukiman penduduk. Meskipun berkejaran dengan waktu, saya menikmati perjalanan saya karena suasana yang begitu berbeda dengan yang biasa kita kenal di Indonesia ini.

Jika merasa kurang yakin, anda tidak perlu ragu untuk bertanya pada orang yang anda temui di jalan, sebab orang Belanda cukup ramah serta berbicara fasih dalam bahasa Inggris, yang akan memudahkan komunikasi anda. Rietveld Schröder House adalah rumah pojok di jalan Prins Hendriklaan nomor 50A. Anda akan langsung mengenalinya, karena kontras dengan rumah disekitarnya. Ternyata terdapat sebuah loket museum rumah ini di rumah sebelahnya. Saya masuk dan petugas menanyai saya apakah sudah melakukan reservasi atau belum, saya menjawab sayang sekali belum, dan dengan tersenyum sang petugas memberitahu saya bahwa maish ada satu tempat kosong untuk ikut tur yang akan dimulai dalam 5 menit.

Saya membayar tiket lanjutan dari Centraal Museum sebesar 3 € (sekitar Rp 44.000) dan degan sarung di sepatu serta radio tourguide di tangan, saya masuk rumah bersejarah itu. Seorang tourguide menemani kami dan menunjukkan fitur-fitur khusus rumah ini. Semua boleh didokumentasikan namun tidak boleh dibebani/diduduki. Setelah melihat seluruh isi rumah tersebut, saya berlari menuju halte bus terdekat (sekitar 270m) untuk kembali ke Centraal Station dengan bus. Saya tiba dalam waktu kurang-lebih 20 menit untuk naik kereta saya yang menuju ke Jerman.

Share
Topics
Editorial Team
Sistha Ardani
EditorSistha Ardani
Follow Us

Latest in Travel

See More

Cara ke Taman Wisata Alam Angke Menggunakan Transjakarta

05 Apr 2026, 21:45 WIBTravel