Masjid Baitul Hikmah (dok. pribadi/Fatma Roisatin)
Ketika menjelang tengah hari, penulis melanjutkan perjalanan menuju arah Balai Kota Surakarta. Lalu lintas seolah tidak pernah sepi, tapi cukup ramah untuk pejalan kaki. Pedestrian yang lebar di samping Jembatan Kali Pepe dan sisi utara balai kota relatif sepi.
Sambil menunggu waktu Zuhur, sempat berhenti sejenak sambil menyaksikan lampion yang menghiasi sepanjang jembatan. Beberapa menit setelah azan berkumandang dan sebelum iqamat, terdengar suara Lonceng Angelus. Suara tersebut berasal dari gereja Katolik yang tepat berada di samping area balai kota.
Baik azan maupun Lonceng Angelus punya tujuan yang sama, yaitu sebagai pengingat untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan berdoa. Toleransi tidak hanya dapat dilihat dari lokasi bangunan yang berdekatan, tetapi juga kebiasaan dalam beribadah. Hal ini dapat ditemukan tanpa menunggu hari penting satu sama lain.
Penulis kembali melangkahkan kaki untuk masuk area Balai Kota Surakarta. Balai kota itu terbuka, tanpa dinding pembatas tinggi. Tentu sebuah keuntungan bagi orang awam dan masyarakat umum yang dapat mengaksesnya tanpa sungkan.
Sebuah bangunan dengan atap tumpang bertingkat khas arsitektur Jawa, lengkap bersama menara yang berdiri selaras di sisi selatan area balai kota. Serambi terbuka membuatnya tampak luas dan nyaman. Masjid Baitul Hikmah sengaja di bangun bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyeimbangkan Pendapi Gede yang berdiri megah di dekatnya.