Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pendaki trekking
Ilustrasi pendaki trekking (pexels.com/Nur Andi Ravsanjani Gusma)

Intinya sih...

  • Kurangi bicara yang tidak perlu.

  • Jangan memutar musik dan speaker.

  • Pilih jam pendakian yang sepi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Quiet hiking adalah konsep mendaki gunung atau menjelajah alam dengan cara yang lebih tenang, minim suara, dan penuh kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Tren ini mulai banyak dicari karena semakin banyak pendaki yang ingin merasakan alam tanpa distraksi, sekaligus menjaga ekosistem tetap lestari.

Kalau kamu bosan dengan pendakian yang ribut dan penuh teriakan, tips quiet hiking berikut ini bisa jadi panduan biar pengalaman naik gunung terasa lebih damai dan bermakna.

1. Kurangi bicara yang tidak perlu

Ilustrasi mendaki bersama guide lokal (pexels.com/Kamaji Ogino)

Tips quiet hiking paling dasar adalah mengontrol suara. Bukan berarti kamu tidak boleh ngobrol sama sekali, tapi pilih momen yang tepat. Hindari teriak-teriak, tertawa berlebihan, atau memutar musik keras saat di jalur pendakian.

Selain bikin suasana lebih tenang, cara ini juga menghormati pendaki lain yang mungkin ingin menikmati alam dengan sunyi. Bonusnya, kamu bisa lebih fokus sama suara alam seperti angin, burung, atau gemericik air.

2. Jangan memutar musik dan speaker

Ilustrasi mendaki gunung sendirian (pexels.com/Maël BALLAND)

Mendaki sambil dengar musik memang terasa seru, tapi pakai speaker itu bukan pilihan bijak. Suara musik bisa mengganggu satwa liar dan merusak suasana alami gunung.

Kalau kamu gak bisa lepas dari musik, gunakan earphone dengan volume rendah. Tapi dalam konsep quiet hiking, lebih disarankan untuk menikmati “playlist alami” dari hutan dan pegunungan.

3. Pilih jam pendakian yang sepi

Ilustrasi mendaki gunung bersama teman (pexels.com/Rachel-Vine)

Salah satu kunci utama dari quiet hiking adalah suasana jalur yang tidak terlalu ramai. Karena itu, memilih jam pendakian yang tepat sangat berpengaruh. Biasanya jalur pendakian akan padat di akhir pekan, hari libur nasional, atau saat musim pendakian sedang ramai-ramainya. Kalau kamu punya fleksibilitas waktu, coba mulai mendaki lebih pagi atau bahkan memilih hari biasa.

Pendakian di pagi hari bukan cuma lebih sepi, tapi juga menawarkan suasana yang jauh lebih tenang. Udara masih segar, suara alam terdengar lebih jelas, dan kamu bisa berjalan dengan ritme sendiri tanpa harus sering berhenti karena antrean. Dalam konteks tips quiet hiking, kondisi ini sangat ideal karena minim distraksi dan bikin pikiran lebih fokus.

4. Gunakan perlengkapan yang tidak berisik

Ilustrasi pendaki (unsplash.com/Anthony Da Cruz)

Banyak pendaki gak sadar kalau sumber suara justru datang dari perlengkapan yang mereka bawa. Botol minum yang tergantung dan saling berbenturan, alat masak yang tidak dikemas rapi, atau carrier dengan tali longgar bisa menghasilkan bunyi yang cukup mengganggu.

Dalam tips quiet hiking, penting untuk menyiapkan perlengkapan dengan lebih teliti. Pastikan semua barang terikat dengan baik, tidak ada yang bergoyang berlebihan, dan sebisa mungkin gunakan wadah yang tidak mudah menimbulkan suara. Hal kecil seperti ini punya dampak besar dalam menjaga ketenangan selama berjalan.

5. Jaga etika saat berpapasan

Ilustrasi pendaki berpapasan (unsplash.com/Diego Marín)

Quiet hiking bukan berarti kamu harus bersikap dingin atau cuek pada pendaki lain. Justru sebaliknya, etika tetap penting. Saat berpapasan di jalur sempit, cukup beri salam singkat dengan suara yang wajar, lalu beri jalan sesuai aturan pendakian.

Hindari bercanda berlebihan atau berbicara terlalu keras di area yang sempit atau sunyi. Suara bisa bergema di hutan dan mengganggu pendaki lain yang sedang menikmati ketenangan. Dalam tips quiet hiking, kesadaran sosial ini jadi poin penting.

Dengan menjaga sikap dan volume suara, kamu ikut menciptakan budaya pendakian yang lebih nyaman dan saling menghargai. Pendakian pun terasa lebih manusiawi dan menyenangkan, tanpa harus ribut.

6. Fokus pada alam dan diri sendiri

Ilustrasi pendaki dengan tenda double layer (pixabay.com/mostafa_meraji)

Tips quiet hiking terakhir ini berkaitan langsung dengan mindset. Banyak pendaki datang ke gunung tapi pikirannya masih tertinggal di kota, sibuk main HP, scrolling media sosial, atau bikin konten dengan suara keras. Padahal, esensi quiet hiking adalah hadir sepenuhnya di alam.

Coba sesekali simpan HP, berjalan lebih pelan, dan perhatikan detail kecil di sekitar kamu. Dengarkan suara langkah kaki, hembusan angin, atau daun yang bergesekan. Aktivitas sederhana ini bisa membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres.

Saat kamu fokus pada diri sendiri dan alam, pendakian bukan cuma soal sampai puncak, tapi soal proses. Quiet hiking membantu kamu lebih terhubung dengan alam sekaligus dengan diri sendiri, tanpa perlu kebisingan yang gak perlu.

Quiet hiking bukan tren sesaat, tapi cara baru menikmati alam dengan lebih bertanggung jawab. Dengan menerapkan tips quiet hiking di atas, kamu gak cuma dapat pengalaman mendaki yang lebih damai, tapi juga ikut menjaga alam tetap lestari untuk pendaki berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team