Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Sepatu Waterproof Gak Selalu Jadi Pilihan Terbaik saat Hiking

4 min read
5 Alasan Sepatu Waterproof Gak Selalu Jadi Pilihan Terbaik saat Hiking
ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/Katya Wolf)
  • Sepatu waterproof membatasi sirkulasi udara, sehingga panas dan keringat dapat terperangkap, membuat kaki serta kaus kaki lembap dan meningkatkan gesekan saat hiking panjang.
  • Jika air masuk melalui kerah sepatu atau genangan dalam, lapisan kedap air membuat air lebih sulit keluar dan waktu pengeringan lebih lama.
  • Sepatu waterproof dapat lebih berat dan tidak selalu diperlukan pada jalur kering atau hangat; pilihan alas kaki perlu disesuaikan dengan medan, cuaca, perlindungan, serta kebutuhan ventilasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepatu waterproof sering dianggap sebagai pilihan paling aman saat hiking karena mampu memberi perlindungan tambahan ketika jalur mulai basah. Kemampuan menahan air memang terasa meyakinkan, terutama ketika perjalanan berhadapan dengan hujan, genangan, rumput basah, atau medan berlumpur. Namun, perlindungan terhadap air bukan satu-satunya faktor yang menentukan kenyamanan kaki selama berada di jalur pendakian.

Karakter medan, kondisi cuaca, durasi perjalanan, sampai kemampuan sepatu melepaskan panas juga perlu menjadi pertimbangan sebelum memilih alas kaki. Dalam situasi tertentu, sepatu tanpa membran kedap air justru terasa lebih nyaman karena memiliki sirkulasi udara lebih baik dan lebih cepat kering setelah terkena air. Jadi, jangan langsung menganggap sepatu waterproof selalu lebih unggul untuk setiap perjalanan, yuk pahami alasannya bersama.

  1. 1. Sirkulasi udara cenderung lebih terbatas

    ilustrasi sepatu hiking
    ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/Lisha Dunlap)

    Lapisan kedap air pada sepatu hiking bekerja dengan membatasi masuknya air dari bagian luar, tetapi karakter tersebut juga dapat memengaruhi pertukaran udara di sekitar kaki. Saat aktivitas fisik meningkat, kaki menghasilkan panas dan keringat yang perlu dilepaskan agar kondisi di dalam sepatu tetap nyaman. Pada cuaca hangat atau jalur yang menguras tenaga, sepatu waterproof pun dapat terasa lebih gerah dibanding model yang memiliki ventilasi lebih terbuka.

    Kondisi lembap dari keringat bisa menjadi masalah ketika perjalanan berlangsung selama berjam-jam tanpa banyak kesempatan beristirahat. Kaus kaki yang terus lembap meningkatkan gesekan pada kulit sehingga kenyamanan kaki perlahan berkurang sepanjang perjalanan. Karena itu, sepatu dengan kemampuan bernapas lebih baik dapat terasa lebih masuk akal ketika medan relatif kering dan ancaman air bukan persoalan utama.

  2. 2. Air yang sudah masuk lebih sulit keluar

    ilustrasi sepatu hiking
    ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/Baihaki Hine)

    Label waterproof bukan berarti kaki akan selalu terbebas dari air dalam segala kondisi selama berada di alam terbuka. Air hujan dapat mengalir melalui bagian atas sepatu, sedangkan genangan yang terlalu dalam juga bisa membuat air melewati tinggi kerah sepatu. Begitu air berhasil masuk, lapisan kedap air justru dapat membuat proses pembuangannya berlangsung lebih lambat.

    Situasi tersebut terasa semakin merepotkan ketika perjalanan masih panjang dan sepatu gak mempunyai cukup waktu untuk kering secara alami. Kaki akhirnya harus bertahan dalam kondisi basah yang dapat meningkatkan rasa gak nyaman, gesekan, serta risiko lecet. Sebaliknya, beberapa sepatu non-waterproof memang lebih mudah kemasukan air, tetapi konstruksinya yang lebih terbuka biasanya membantu air dan kelembapan keluar lebih cepat.

  3. 3. Waktu pengeringannya bisa lebih lama

    ilustrasi sepatu hiking
    ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/Yoan Siswaya)

    Sepatu yang basah setelah melewati hujan deras atau menyeberangi aliran air membutuhkan waktu untuk kembali nyaman digunakan. Model waterproof umumnya mempunyai konstruksi berlapis sehingga kelembapan yang sudah mencapai bagian dalam gak selalu mudah menguap. Persoalan ini dapat terasa signifikan pada perjalanan beberapa hari ketika sepatu harus kembali digunakan pada pagi berikutnya.

    Sepatu yang masih lembap juga dapat mengurangi kenyamanan sejak awal perjalanan dan membuat kaki lebih cepat terasa gak nyaman. Pada kondisi cuaca hangat, sepatu non-waterproof dengan material ringan dan berpori biasanya memiliki keuntungan karena proses pengeringannya relatif lebih cepat. Karakter tersebut membuat jenis alas kaki ini layak dipertimbangkan untuk jalur yang memungkinkan kaki beberapa kali terkena air tetapi mempunyai kondisi lingkungan yang mendukung penguapan.

  4. 4. Bobot dan konstruksinya dapat terasa lebih berat

    ilustrasi sepatu hiking
    ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/TĘ°į»ng Chopper)

    Tambahan membran kedap air dan konstruksi pelindung dapat membuat sebagian sepatu waterproof terasa lebih berbobot dibanding model yang lebih sederhana. Perbedaannya mungkin tampak kecil ketika sepatu hanya dicoba selama beberapa menit, tetapi efeknya dapat terasa setelah kaki melangkah ribuan kali di jalur pendakian. Beban tambahan pada kaki akhirnya dapat memengaruhi efisiensi gerakan, terutama ketika medan menuntut langkah cepat dan perjalanan berlangsung cukup panjang.

    Sepatu yang ringan sering terasa lebih lincah ketika digunakan pada jalur kering, medan yang relatif mudah, atau perjalanan dengan tempo cepat. Kaki gak perlu mengangkat bobot berlebih pada setiap langkah sehingga pergerakan dapat terasa lebih natural dan minim beban. Meski demikian, pemilihan sepatu tetap perlu mempertimbangkan perlindungan, kestabilan, serta karakter medan agar mengejar bobot ringan gak justru mengorbankan keamanan.

  5. 5. Perlindungan kedap air gak selalu dibutuhkan

    ilustrasi sepatu hiking
    ilustrasi sepatu hiking (pexels.com/Evelyn Hale)

    Kebutuhan terhadap sepatu waterproof sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang bakal dihadapi selama perjalanan. Jalur dengan cuaca kering, suhu hangat, dan sedikit genangan mungkin gak memberikan cukup alasan untuk memakai lapisan kedap air sepanjang hari. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan bernapas dan cepat kering justru dapat memberikan manfaat yang lebih terasa.

    Hal tersebut bukan berarti sepatu waterproof buruk atau sebaiknya selalu dihindari saat hiking. Model ini tetap berguna ketika menghadapi hujan berkepanjangan, jalur basah, suhu rendah, atau kondisi medan yang membuat perlindungan dari air menjadi prioritas. Kuncinya adalah menyesuaikan karakter sepatu dengan kebutuhan perjalanan, bukan memilihnya hanya karena label waterproof terdengar lebih aman.

    Sepatu waterproof memang menawarkan perlindungan menarik, tetapi keunggulan tersebut selalu datang bersama kompromi yang perlu dipertimbangkan. Sirkulasi udara, kecepatan pengeringan, bobot, serta karakter medan dapat membuat sepatu non-waterproof menjadi pilihan yang lebih nyaman dalam kondisi tertentu. Jadi, memilih alas kaki untuk hiking sebaiknya berangkat dari kebutuhan jalur dan cuaca agar setiap langkah tetap nyaman sampai perjalanan selesai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More