Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bolehkah Makan dan Minum di Kereta Jepang? Ini Aturannya!
potret kereta JR Rapid (commons.wikimedia.org/Rsa)

Bagi kamu yang berencana liburan ke Jepang, naik kereta pasti jadi pengalaman yang tidak terpisahkan. Kereta di Jepang terkenal bersih, tepat waktu, dan sangat tertib. Namun, muncul satu pertanyaan yang sering bikin ragu, sebenarnya bolehkah makan dan minum di kereta Jepang?

Pertanyaan ini wajar, apalagi budaya sopan santun di Jepang sangat dijunjung tinggi. Salah sikap sedikit saja bisa membuat kita merasa tidak enak sendiri. Supaya perjalanan tetap nyaman dan bebas salah kaprah, yuk pahami aturan makan dan minum di kereta Jepang berikut ini.

1. Tidak semua jenis kereta memperbolehkan makan

potret subway di Sapporo (commons.wikimedia.org/100yen)

Di Jepang, aturan makan dan minum di kereta tergantung pada jenis keretanya. Kereta jarak dekat seperti commuter train atau subway umumnya tidak dianjurkan untuk makan. Alasannya karena kereta ini padat penumpang dan waktu tempuhnya relatif singkat.

Meski tidak tertulis sebagai larangan resmi, kebiasaan makan di kereta lokal dianggap kurang sopan. Penumpang Jepang biasanya memilih menahan lapar hingga turun dari kereta. Minum air putih masih bisa ditoleransi selama dilakukan dengan cepat dan tidak mencolok.

2. Kereta jarak jauh justru ramah untuk makan

potret shinkansen di Kyoto (commons.wikimedia.org/NickCoutts)

Berbeda dengan kereta lokal, kereta jarak jauh seperti shinkansen memperbolehkan penumpang makan. Bahkan, membeli bento khusus perjalanan kereta sudah menjadi budaya tersendiri di Jepang. Bento ini dikenal dengan sebutan ekiben dan dijual di stasiun-stasiun besar.

Di dalam shinkansen, kursi lebih lega dan tersedia meja lipat yang memudahkan makan. Penumpang lain pun sudah terbiasa melihat aktivitas ini. Selama makan dengan rapi dan tidak berisik, kamu tidak akan dianggap melanggar etika.

3. Hindari makanan berbau menyengat

ilustrasi buah durian (pixabay.com/najibzamri)

Meski diperbolehkan, pemilihan makanan tetap perlu diperhatikan. Makanan dengan aroma menyengat seperti durian, ramen kuah, atau makanan berbau tajam sebaiknya dihindari. Bau yang kuat bisa mengganggu kenyamanan penumpang lain di ruang tertutup.

Orang Jepang sangat menghargai ruang bersama dan kenyamanan orang lain. Itulah sebabnya bento untuk kereta biasanya memiliki aroma ringan. Memilih makanan yang praktis dan tidak berceceran juga menjadi bentuk sopan santun yang dihargai.

4. Minum di kereta umumnya lebih fleksibel

potret interior shinkansen (commons.wikimedia.org/Keith Pomakis)

Untuk minum, aturannya relatif lebih longgar dibanding makan. Minuman dalam botol atau kemasan tertutup biasanya tidak menjadi masalah. Banyak penumpang terlihat minum teh, air mineral, atau kopi kemasan di kereta.

Meski begitu, tetap perhatikan situasi sekitar. Jika kereta sangat penuh, sebaiknya tunda minum hingga suasana lebih memungkinkan. Menjaga gestur tetap sederhana dan tidak mengganggu orang lain adalah kunci utamanya.

5. Kebersihan dan sikap jadi penilaian utama

potret interior kereta listrik di Jepang (commons.wikimedia.org/MaedaAkihiko)

Hal paling penting saat makan dan minum di kereta Jepang adalah menjaga kebersihan. Pastikan tidak meninggalkan sampah di kursi atau lantai kereta. Sampah biasanya dibawa sendiri hingga menemukan tempat sampah di stasiun.

Selain itu, sikap tenang dan tidak berisik sangat diperhatikan. Mengunyah dengan mulut tertutup dan tidak berbicara keras adalah hal kecil yang berdampak besar. Dengan bersikap sopan, kamu akan merasa lebih nyaman sebagai penumpang.

Dengan memahami kebiasaan makan dan minum ini, perjalananmu bisa terasa lebih menyenangkan dan bebas rasa canggung. Jadi, siap menikmati pengalaman naik kereta ala Jepang dengan cara yang tepat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team