Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi mendaki tektok
ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Heri nugroho)

Intinya sih...

  • Pendaki menyesuaikan waktu dengan skema tektok - Pendakian sehari memungkinkan rehat akhir pekan tanpa cuti panjang. - Biaya lebih hemat dan pengeluaran minimal membuat pendakian terasa masuk akal.

  • Jalur gunung mendukung konsep naik turun sehari - Gunung di Jawa Tengah memiliki jalur jelas dan waktu tempuh singkat. - Akses kendaraan dekat dengan titik awal pendakian membuat perjalanan efisien.

  • Beban ringan membuat pergerakan naik gunung lebih efisien - Perlengkapan sederhana mempermudah manajemen waktu pendaki. - Beban ringan juga memudahkan perjalanan pada gunung dengan jalur menanjak konstan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendaki tektok adalah aktivitas naik dan turun gunung dalam satu hari tanpa menginap di area camping. Skema ini makin sering dipilih pendaki karena terasa lebih ringkas, terutama bagi warga kota yang sulit meluangkan waktu 2—3 hari untuk satu perjalanan. Tektok memang menghadirkan pengalaman mencapai puncak dengan perencanaan yang lebih simpel dengan durasi yang terukur.

Tidak heran, deh, jika mendaki tektok kemudian berkembang menjadi tren yang viral, terutama di jalur-jalur gunung dengan akses mudah dan waktu tempuh relatif singkat. Berikut beberapa alasan kenapa mendaki tektok jadi tren di kalangan pencinta alam. Kamu mungkin salah satu pelaku pendakian tektok tersebut.

1. Pendaki menyesuaikan waktu dengan skema tektok

ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Daryant.id)

Banyak orang ingin tetap menjelajah alam tanpa harus mengambil cuti panjang atau bolos sekolah, bahkan kuliah, sehingga tektok menjadi pilihan paling realistis untuk rehat sejenak saat akhir pekan. Berangkat dini hari, summit (momen mencapai puncak tertinggi gunung) pagi, lalu turun sebelum petang memungkinkan perjalanan selesai dalam hitungan jam tanpa mengganggu agenda sehari-hari. Skema ini dianggap memudahkan pendakian, karena tidak perlu memikirkan logistik 2 hari atau lebih. Pendaki juga bisa langsung kembali ke kota pada hari yang sama tanpa harus mengatur penginapan tambahan.

Dari sisi biaya, tektok cenderung lebih hemat, karena tidak membutuhkan perlengkapan kemah, seperti tenda dan matras. Bekal makanan cukup disiapkan untuk 1 hari, sehingga anggaran konsumsi lebih terkendali. Biaya porter atau tambahan logistik juga dapat ditekan, karena beban bawaan lebih ringan. Kombinasi waktu singkat dan pengeluaran minimal membuat mendaki tektok terasa masuk akal bagi banyak kalangan.

2. Jalur gunung mendukung konsep naik turun sehari

ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Elisha Widirga)

Tren tektok tidak muncul tanpa sebab, melainkan terdapat sejumlah gunung yang memenuhi syarat untuk melakukan pendakian satu ini. Beberapa gunung di Jawa Tengah dan sekitarnya, misalnya, gunung di sana memiliki jalur jelas, waktu tempuh relatif singkat, dan titik puncak yang bisa dicapai dalam 4—6 jam saja. Contohnya Gunung Andong dan Gunung Telomoyo yang dikenal ramah untuk pendaki pemula karena trek tidak terlalu panjang. Akses kendaraan yang dekat dengan titik awal pendakian juga membuat perjalanan lebih efisien.

Selain itu, Gunung Prau dan Gunung Ungaran sering dipilih karena jalurnya sudah tertata dan ramai dilalui pendaki. Di Jawa Barat, Gunung Papandayan juga menjadi opsi tektok dengan trek yang relatif bersahabat. Keberadaan basecamp yang aktif serta sistem registrasi yang mudah membuat pendaki lebih percaya diri untuk menyelesaikan perjalanan dalam satu hari. Faktor akses dan kondisi jalur inilah yang ikut mendorong popularitas tektok makin hari makin tambah viral.

3. Beban ringan membuat pergerakan naik gunung lebih efisien

ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Aji purwahusada)

Karena tidak menginap, perlengkapan yang dibawa saat tektok jauh lebih sederhana. Pendaki cukup membawa air minum, makanan ringan, jas hujan, dan perlengkapan keselamatan dasar. Tanpa carrier besar dan perlengkapan kemah, langkah kaki juga terasa lebih ringan dan kecepatan jalan bisa terjaga. Hal ini penting, terutama pada gunung dengan jalur menanjak konstan sejak awal.

Beban yang ringan juga mempermudah manajemen waktu pendaki selama di jalur. Pendaki tidak perlu mencari area datar untuk mendirikan tenda atau mengatur logistik malam hari. Fokus perjalanan benar-benar pada target puncak dan turun dengan aman sebelum gelap. Bagi pemula, cara ini jelas terasa lebih simpel karena tidak banyak keputusan teknis yang harus diambil di tengah perjalanan.

4. Konten media sosial ikut mengangkat popularitas tektok

ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Muhammad Rinandar)

Media sosial kerap memberi panggung besar pada perjalanan singkat yang tetap terlihat menarik. Foto sunrise di puncak dengan latar lautan awan dapat diperoleh tanpa harus bermalam. Banyak pendaki membagikan rute, estimasi waktu, hingga rincian biaya sehingga informasi tektok mudah diakses siapa pun. Transparansi ini membuat orang lain merasa lebih siap serta merasa mampu untuk mencoba.

Konten video perjalanan dari basecamp hingga summit dalam durasi singkat juga memperlihatkan bahwa tektok dapat dilakukan dengan gampang. Narasi yang menekankan perjalanan pulang di hari yang sama memberi kesan bahwa aktivitas ini bisa dimasukkan ke agenda akhir pekan. Efeknya, tektok tidak lagi dipandang sebagai pendakian singkat biasa, melainkan tren mendaki yang dianggap praktis. Publikasi semacam ini mempercepat penyebaran tren ke berbagai daerah, sehingga banyak yang FOMO (FOMO atau Fear of Missing Out) adalah perasaan cemas, takut, atau gelisah karena merasa tertinggal akan tren, atau pengalaman menyenangkan yang sedang dialami orang lain)  untuk menjajalnya.

5. Komunitas pendaki kini mulai mengadaptasi format pendakian tektok

ilustrasi mendaki tektok (commons.wikimedia.org/Faaizul yahya)

Banyak komunitas kini menyusun agenda open trip khusus tektok dengan jadwal padat, tapi terstruktur. Titik kumpul biasanya ditetapkan malam hari, lalu pendakian dimulai sebelum subuh agar target summit tercapai pagi. Format seperti ini memudahkan peserta baru atau pendaki pemula, karena alur perjalanan sudah disusun sedemikian detail oleh koordinator. Rasa aman juga makin meningkat karena pendakian dilakukan bersama rombongan.

Selain itu, tektok sering dijadikan tahap awal sebelum mencoba pendakian dengan menginap (nge-camp). Pendaki pemula dapat mengukur kemampuan fisik mereka dan mengenali karakter jalur yang kelak akan dijajalnya. Jika pengalaman tektok berjalan lancar, mereka bisa merencanakan perjalanan yang lebih panjang di kesempatan berikutnya. Skema bertahap inilah yang membuat tektok diterima luas sebagai pintu masuk ke dunia pendakian di Indonesia meski pada kenyataannya masih banyak pro kontra mengenai hal ini.

Mendaki tektok menunjukkan bahwa perjalanan ke gunung tidak selalu identik dengan kemah dan logistik berat. Format naik turun dalam sehari menawarkan alternatif pendakian yang ringkas, terjangkau, dan tetap memberi pengalaman summit tak kalah berkesan. Dengan banyaknya gunung yang mendukung konsep ini, apakah tektok akan menjadi pilihan  kamu untuk akhir pekan nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team