Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Produk Daging Dilarang Dibawa Naik Pesawat?
ilustrasi produk daging dan olahannya (unsplash.com/Eiliv Aceron)
  • Produk daging dilarang dibawa naik pesawat karena berisiko membawa mikroorganisme berbahaya yang bisa mengancam biosekuriti dan ekosistem negara tujuan.
  • Pemerintah berbagai negara menerapkan aturan ketat untuk mencegah penyebaran penyakit hewan menular seperti flu burung dan PMK melalui produk olahan daging.
  • Penumpang wajib jujur dalam deklarasi barang bawaan dan memahami regulasi tiap negara agar terhindar dari sanksi, penyitaan, atau denda di bandara internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan lintas negara sering dianggap sederhana. Cukup membawa barang pribadi dan oleh-oleh tanpa banyak aturan, padahal ada regulasi ketat yang jarang disadari, terutama terkait produk makanan berbasis hewani.

Banyak penumpang terpaksa kehilangan barang bawaan, seperti sosis, dendeng, atau abon, di bandara karena tidak memahami aturan karantina yang berlaku di negara tujuan. Larangan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari sistem perlindungan global terhadap ancaman penyakit dan kerusakan ekosistem yang dapat berdampak besar pada sektor pangan.

Supaya tidak mengalami kerugian atau masalah hukum saat traveling, penting untuk memahami alasan di balik aturan ini sebelum berangkat. Simak alasan kenapa produk daging dilarang dibawa naik pesawat berikut ini, ya!

1. Otoritas bandara menerapkan aturan biosekuriti ketat

ilustrasi security check di bandara (unsplash.com/CDC)

Setiap negara memiliki sistem biosekuriti yang dirancang untuk melindungi lingkungan dan industri lokal dari ancaman biologis yang datang dari luar negeri. Produk daging termasuk kategori berisiko tinggi karena dapat membawa mikroorganisme berbahaya yang tidak terlihat secara kasatmata. Bahkan, produk yang sudah dimasak atau dikemas tetap berpotensi menjadi media penyebaran penyakit.

Negara seperti Jepang dan Australia menerapkan pemeriksaan ekstra ketat di bandara internasional seperti Narita International Airport dan Sydney Airport. Petugas menggunakan anjing pelacak khusus yang dilatih untuk mendeteksi aroma produk hewani dalam koper penumpang. Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan dilakukan secara serius dan tidak bisa dianggap sepele oleh wisatawan.

2. Pemerintah melarang masuknya penyakit hewan menular

ilustrasi penyakit flu burung (unsplash.com/Andrey Tikhonovskiy)

Penyakit seperti flu burung dan penyakit mulut dan kuku dapat menyebar melalui produk daging yang terkontaminasi, meskipun dalam bentuk olahan, seperti bakso atau abon. Virus penyebab penyakit ini mampu bertahan dalam kondisi tertentu dan dapat menyebar melalui rantai distribusi makanan. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan hewan, tetapi juga pada ekonomi peternakan secara luas.

Sebagai contoh, Selandia Baru dikenal memiliki sistem pertanian yang sangat bersih dan bebas dari banyak penyakit hewan global. Karena itu, negara ini sangat ketat dalam melarang masuknya produk hewani melalui bandara, seperti Auckland Airport. Pelanggaran terhadap aturan ini bisa berakibat pada denda yang sangat besar, bahkan bagi turis yang tidak sengaja membawa makanan.

3. Produk olahan tetap dianggap berisiko tinggi

ilustrasi produk olahan daging (vecteezy.com/Surut Wattanamaetee)

Banyak orang mengira bahwa produk seperti sosis vakum atau dendeng kering aman untuk dibawa karena sudah melalui proses pengolahan. Kenyataannya, otoritas karantina tetap menganggap semua produk berbasis daging sebagai potensi risiko biologis. Proses memasak atau pengemasan tidak menjamin sepenuhnya bahwa produk tersebut bebas dari patogen.

Hal ini juga berlaku untuk makanan khas yang sering dijadikan oleh-oleh, seperti rendang atau abon sapi. Di bandara, seperti Haneda Airport di Tokyo, barang semacam ini hampir pasti akan disita jika ditemukan tanpa izin resmi. Kebijakan ini dibuat karena standar keamanan pangan internasional mengutamakan pencegahan daripada penanganan setelah terjadi penyebaran.

4. Penumpang wajib mematuhi prosedur deklarasi barang

ilustrasi bea cukai di bandara (commons.wikimedia.org/RIA Novosti)

Setiap penumpang internasional diwajibkan mengisi Customs Declaration Card yang berisi informasi mengenai barang bawaan, termasuk makanan. Banyak orang mengabaikan bagian ini karena dianggap tidak penting. Padahal, kejujuran dalam deklarasi sangat menentukan apakah barang akan diperiksa lebih lanjut atau tidak. Mengisi data secara tidak jujur bisa berujung pada konsekuensi hukum.

Petugas bea cukai di bandara, seperti Changi Airport di Singapura atau Melbourne Airport, akan melakukan pemeriksaan acak terhadap penumpang. Jika ditemukan pelanggaran, barang akan langsung disita dan penumpang bisa dikenai denda. Dalam beberapa kasus tertentu, pelanggaran serius bahkan bisa berujung pada penahanan sementara.

5. Wisatawan harus memahami aturan sebelum bepergian

ilustrasi riset (unsplash.com/Arkan Perdana)

Setiap negara memiliki regulasi berbeda terkait barang yang boleh dibawa masuk, sehingga penting untuk melakukan riset sebelum berangkat. Informasi ini biasanya tersedia di situs resmi karantina atau imigrasi negara tujuan. Mengabaikan hal ini bisa membuat perjalanan menjadi tidak nyaman bahkan merugikan secara finansial.

Sebagai langkah aman, sebaiknya hindari membawa semua jenis produk hewani, baik segar maupun olahan. Fokus pada oleh-oleh nonmakanan atau produk yang sudah jelas diizinkan, seperti makanan kemasan berbahan nabati. Dengan memahami aturan sejak awal, perjalanan akan terasa lebih tenang tanpa risiko kehilangan barang atau terkena sanksi.

Aturan membawa makanan di pesawat bukan sekadar pembatasan, melainkan bagian dari sistem perlindungan global yang serius dan terstruktur. Memahami regulasi ini membantu perjalanan tetap lancar tanpa hambatan di bandara. Persiapan yang tepat sebelum berangkat akan membuat pengalaman traveling terasa lebih aman dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team