Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Liburan ke Jepang Makin Mahal, Ada Pajak Sayonara per 1 Juli 2026!

Liburan ke Jepang Makin Mahal, Ada Pajak Sayonara per 1 Juli 2026!
Potret Osaka Castle di Osaka, Jepang (IDN Times/Naufal Al Rahman)
Share Article

Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan mancanegara dari berbagai belahan dunia. Menyaksikan keindahan bunga sakura, kuliner khas, budaya yang unik, hingga kemudahan transportasinya membuat Negeri Sakura selalu ramai turis setiap tahunnya.

Ada kabar baru yang perlu kamu pahami jika berencana liburan ke Jepang dalam waktu dekat. Pemerintah Jepang akan menerapkan kenaikan tarif pajak keberangkatan bagi wisatawan mancanegara yang meninggalkan negara tersebut, baik melalui jalur udara maupun laut.

Kebijakan baru ini muncul di tengah lonjakan jumlah wisatawan yang terus meningkat. Sepanjang 2025, Jepang mencatat sekitar 42,7 juta kunjungan wisatawan internasional. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah pariwisata Jepang. Alhasil, kondisi ini memicu berbagai penyesuaian kebijakan untuk mengelola arus wisatawan yang semakin meningkat.

1. Tarif pajak Sayonara

Sebagai informasi, pajak Sayonara merupakan pajak keberangkatan yang sudah diberlakukan Jepang sejak 2019. Sebelumnya, setiap wisatawan yang meninggalkan Jepang wajib membayar pajak sebesar 1.000 Yen atau sekitar Rp110 ribu per orang. Mulai 1 Juli 2026, tarif tersebut akan naik menjadi 3.000 Yen atau sekitar Rp330 ribu per orang.

Meski demikian, wisatawan gak perlu melakukan pembayaran secara terpisah. Pajak Sayonara akan otomatis masuk ke dalam harga tiket pesawat maupun tiket kapal yang digunakan untuk meninggalkan Jepang.

2. Alasan Jepang menaikkan tarif pajak

Potret warga Jepang menunggu untuk menyeberang di Crossing Shibuya (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
Potret warga Jepang menunggu untuk menyeberang di Crossing Shibuya (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Jepang untuk mengatasi fenomena overtourism. Kondisi tersebut semakin terasa di sejumlah kota populer, seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka yang menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara.

Meningkatnya jumlah pengunjung bukan cuma berdampak pada destinasi wisata, tetapi juga mulai memengaruhi infrastruktur kota, transportasi publik, hingga kenyamanan masyarakat lokal. Oleh karena itu, pemerintah Jepang berupaya menciptakan sistem pengelolaan wisata yang lebih berkelanjutan melalui kebijakan ini.

3. Pajak digunakan untuk pengembangan wisata

Dana tambahan dari kenaikan pajak Sayonara akan digunakan untuk mendukung berbagai program pengembangan pariwisata di Jepang. Salah satunya penambahan gerbang pemeriksaan otomatis berbasis teknologi pengenalan wajah di bandara dan pelabuhan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan imigrasi, sehingga wisatawan gak perlu mengantre terlalu lama.

Selain itu, pemerintah Jepang juga akan mengalokasikan dana untuk pelestarian situs bersejarah, pengembangan layanan informasi wisata berbasis digital, serta promosi destinasi wisata alternatif yang belum terlalu ramai pengunjung. Melalui langkah tersebut, pemerintah Jepang berharap distribusi wisatawan bisa lebih merata dan tidak hanya terpusat di kota-kota besar.

Nah, kalau kamu berencana liburan ke Jepang, jangan lupa memasukkan pajak Sayonara ke dalam anggaran perjalanan. Meski ada biaya tambahan, kebijakan ini diharapkan dapat membuat pengalaman wisata di Jepang menjadi lebih nyaman. Selamat merencanakan liburan ke Jepang, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dewi Suci Rahayu
EditorDewi Suci Rahayu

Related Articles

See More

5 Alasan Living Travel Semakin Digemari Traveler Modern

11 Jun 2026, 12:58 WIBTravel