Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi naik MRT di Singapura
ilustrasi naik MRT di Singapura (pixabay.com/jeniffertn)

Bayangkan kamu baru saja keluar dari Jewel Changi dengan dua koper besar di tangan dan cuaca di luar mulai mendung. Di depanmu ada papan penunjuk arah menuju stasiun MRT yang bersih, namun di ponselmu aplikasi Grab menunjukkan estimasi penjemputan hanya dalam tiga menit. Kamu berdiri di persimpangan dilema, menimbang-nimbang antara kenyamanan mobil atau efisiensi kereta cepat.

Memilih antara MRT dan Grab bukan hanya soal harga, melainkan soal bagaimana kamu ingin menghabiskan waktu dan energimu di Negeri Singa ini. Guys, Singapura memang mungil, tetapi setiap menit yang kamu habiskan di jalan bisa menentukan berapa banyak destinasi yang bisa kamu kunjungi dalam sehari, lho. Perbedaan karakter antara keduanya sangat kontras, mulai dari cara membayar hingga titik jemput yang bisa sangat memengaruhi suasana hatimu. Simak uraian di bawah ini, ya!


1. Perbedaan biaya: budget backpacker vs. kenyamanan premium

ilustrasi stasiun MRT Singapura (pexels.com/Kenny Foo)

Perbedaan yang paling mencolok dan sering menjadi pertimbangan utama kamu adalah soal tarif atau biaya perjalanan. MRT Singapura menggunakan sistem tarif berdasarkan jarak yang sangat terjangkau, di mana perjalanan melintasi pulau sekalipun biasanya gak akan menghabiskan lebih dari SGD 3. Kamu bisa menggunakan kartu contactless seperti Visa atau Mastercard untuk membayar, yang membuat prosesnya sangat praktis tanpa perlu membeli tiket fisik. Jika kamu ingin berhemat banyak selama di Singapura, MRT jadi pemenang mutlak karena selisih harganya bisa mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan transportasi daring.

Di sisi lain, Grab menerapkan sistem harga dinamis atau surge pricing yang sangat bergantung pada permintaan dan kondisi lalu lintas. Satu kali perjalanan pendek dengan Grab biasanya dimulai dari angka SGD 10 hingga SGD 15, dan bisa melonjak hingga SGD 30 atau lebih saat jam sibuk atau hujan deras. Belum lagi adanya biaya tambahan seperti ERP (Electronic Road Pricing) yang harus kamu tanggung jika melewati jalan-jalan protokol tertentu. Grab memang jauh lebih mahal, namun biaya tersebut dibayar dengan kenyamanan tanpa perlu mengantre atau berdiri berdesakan di dalam gerbong kereta yang penuh sesak.


2. Efisiensi waktu: akses point-to-point vs. transit stasiun

ilustrasi Marina Bay Singapura (pexels.com/Anita Kieseler)

Jika bicara soal kepraktisan titik jemput, Grab menawarkan keunggulan point-to-point yang gak dimiliki oleh MRT, lho. Kamu akan dijemput tepat di lobi hotel dan diantar sampai ke depan pintu masuk destinasi tujuan tanpa perlu berjalan kaki di bawah terik matahari. Hal ini sangat krusial jika kamu sedang terburu-buru mengejar jadwal reservasi restoran atau jadwal pertunjukan di Marina Bay Sands. Dengan Grab, kamu gak perlu memusingkan rute atau pindah-pindah jalur (interchange) yang terkadang cukup membingungkan bagi turis baru.

Sebaliknya, MRT mengharuskan kamu untuk berjalan kaki dari stasiun terdekat menuju lokasi tujuan akhir yang jaraknya bisa mencapai 500 meter hingga 1 kilometer. Kamu juga harus memperhitungkan waktu tunggu kereta dan waktu yang habis saat transit antar jalur hijau, merah, atau ungu di stasiun besar seperti Dhoby Ghaut. Namun, MRT memiliki keunggulan waktu yang pasti karena gak akan pernah terjebak kemacetan lalu lintas darat Singapura yang terkadang padat di jam pulang kantor. Jika tujuanmu berada tepat di atas stasiun MRT, sering kali kereta justru bisa lebih cepat dibandingkan mobil yang harus berputar-putar mencari jalan satu arah, lho.


3. Kenyamanan fisik dan kapasitas barang bawaan

ilustrasi Grab Singapura (grab.com)

Kenyamanan fisik menjadi faktor pembeda selanjutnya yang akan sangat kamu rasakan, terutama jika membawa banyak barang belanjaan atau koper. Memakai MRT dengan dua koper besar saat jam sibuk menjadi tantangan mental dan fisik yang cukup berat karena kamu harus berebut ruang dengan komuter lokal. Meski stasiun MRT dilengkapi dengan lift dan eskalator, jarak tempuh berjalan di dalam stasiun yang luas bisa membuat kakimu cepat lelah sebelum sampai ke destinasi wisata yang sebenarnya. MRT lebih cocok untuk kamu yang bepergian dengan tas punggung ringan dan memiliki stamina kuat untuk mengeksplorasi kota.

Grab menjadi penyelamat bagi kamu yang ingin tetap tampil rapi, wangi, dan gak berkeringat saat tiba di lokasi tujuan. Di dalam mobil Grab yang sejuk, kamu bisa duduk bersantai, mengisi daya ponsel, atau bahkan sekadar memejamkan mata sejenak tanpa gangguan suara bising penumpang lain. Bagi keluarga yang membawa anak kecil dengan stroller atau lansia, Grab juga memberikan ruang privasi yang sangat berharga untuk beristirahat di tengah jadwal wisata yang padat. Kamu gak perlu khawatir soal barang bawaan karena semuanya bisa masuk dengan aman ke dalam bagasi mobil tanpa perlu kamu seret-seret di lorong stasiun.


4. Jam operasional dan ketersediaan di malam hari

ilustrasi Stasiun MRT Tanah Merah Singapura (pexels.com/Phương Nguyễn)

Perbedaan terakhir yang perlu kamu catat adalah jam operasional di mana MRT mempunyai batasan waktu yang cukup ketat. Layanan MRT biasanya berakhir sekitar tengah malam. Sehingga jika kamu sedang asyik menikmati suasana malam di Clarke Quay atau menonton konser, kamu mungkin akan tertinggal kereta terakhir. Kalau sudah lewat tengah malam, kamu gak punya pilihan lain selain menggunakan transportasi daring atau taksi konvensional. Kondisi ini membuat MRT kurang praktis bagi kamu yang memiliki jiwa night owl atau senang berjalan-jalan hingga dini hari.

Grab, secara kontras, tersedia selama 24 jam penuh di seluruh penjuru Singapura dengan jumlah armada yang sangat banyak. Meskipun ada biaya tambahan tengah malam (midnight surcharge) untuk taksi biasa, aplikasi Grab biasanya langsung menyesuaikan harga di dalam aplikasi secara transparan. Kamu gak perlu khawatir terlantar di jalanan karena selalu ada pengemudi Grab yang siap menjemputmu kapan saja. Jadi, dalam konteks fleksibilitas waktu, Grab memberikan rasa aman yang lebih tinggi dibandingkan harus terus-menerus mengecek jam operasional kereta agar gak ketinggalan jadwal terakhir.

Setelah aspek-aspek di atas, pilihan kini kembali pada kebutuhan spesifik perjalananmu hari ini. Jika kamu sedang melakukan perjalanan solo dengan anggaran terbatas, maka MRT jadi pilihan paling cerdas karena sistemnya yang sangat terintegrasi dan ekonomis. Namun, jika kamu sedang berlibur bersama keluarga besar dan membawa banyak barang, membayar lebih untuk layanan Grab akan membuat liburanmu jauh lebih santai dan minim stres. Jadi, setelah memahami perbedaan mendalam ini, menurutmu untuk urusan naik Grab VS. MRT di Singapura, lebih praktis mana? 



This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team