ilustrasi Stasiun MRT Tanah Merah Singapura (pexels.com/Phương Nguyễn)
Perbedaan terakhir yang perlu kamu catat adalah jam operasional di mana MRT mempunyai batasan waktu yang cukup ketat. Layanan MRT biasanya berakhir sekitar tengah malam. Sehingga jika kamu sedang asyik menikmati suasana malam di Clarke Quay atau menonton konser, kamu mungkin akan tertinggal kereta terakhir. Kalau sudah lewat tengah malam, kamu gak punya pilihan lain selain menggunakan transportasi daring atau taksi konvensional. Kondisi ini membuat MRT kurang praktis bagi kamu yang memiliki jiwa night owl atau senang berjalan-jalan hingga dini hari.
Grab, secara kontras, tersedia selama 24 jam penuh di seluruh penjuru Singapura dengan jumlah armada yang sangat banyak. Meskipun ada biaya tambahan tengah malam (midnight surcharge) untuk taksi biasa, aplikasi Grab biasanya langsung menyesuaikan harga di dalam aplikasi secara transparan. Kamu gak perlu khawatir terlantar di jalanan karena selalu ada pengemudi Grab yang siap menjemputmu kapan saja. Jadi, dalam konteks fleksibilitas waktu, Grab memberikan rasa aman yang lebih tinggi dibandingkan harus terus-menerus mengecek jam operasional kereta agar gak ketinggalan jadwal terakhir.
Setelah aspek-aspek di atas, pilihan kini kembali pada kebutuhan spesifik perjalananmu hari ini. Jika kamu sedang melakukan perjalanan solo dengan anggaran terbatas, maka MRT jadi pilihan paling cerdas karena sistemnya yang sangat terintegrasi dan ekonomis. Namun, jika kamu sedang berlibur bersama keluarga besar dan membawa banyak barang, membayar lebih untuk layanan Grab akan membuat liburanmu jauh lebih santai dan minim stres. Jadi, setelah memahami perbedaan mendalam ini, menurutmu untuk urusan naik Grab VS. MRT di Singapura, lebih praktis mana?