Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sleep Tourism Naik Daun, Wisatawan Rela Jauh-jauh demi Tidur Nyenyak
ilustrasi tidur (unsplash.com/Slaapwijsheid.nl)
  • Sleep tourism jadi tren liburan baru yang fokus pada kualitas tidur, dengan industri global bernilai lebih dari 690 miliar dolar AS dan terus tumbuh pesat hingga 2028.
  • Banyak orang mengalami krisis tidur akibat stres dan gaya hidup sibuk, di mana sebagian besar tidak mencapai durasi tidur ideal serta sering terbangun di malam hari.
  • Hotel kini menawarkan pengalaman tidur premium lewat fasilitas seperti kasur pintar, terapi relaksasi, dan program retreat agar tamu bisa pulang dengan tubuh serta pikiran lebih segar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya waktu liburan biasanya identik dengan jalan-jalan padat jadwal, berburu kuliner, atau mengejar destinasi populer. Akan tetapi, tren wisata terbaru justru bergerak ke arah yang berbeda. Banyak orang kini rela pergi jauh hanya demi mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Tren ini dikenal sebagai sleep tourism atau wisata tidur, yaitu liburan yang fokus utamanya bukan aktivitas seru, melainkan istirahat maksimal.

Fenomena tersebut makin populer karena banyak orang merasa hidup modern bikin tubuh dan pikiran terus kelelahan. Tekanan pekerjaan, screen time berlebihan, hingga pola tidur berantakan membuat kualitas istirahat makin menurun. Gak heran kalau hotel dan resor mulai menawarkan paket khusus yang dirancang untuk membantu tamu tidur lebih nyenyak. Mulai dari kasur pintar sampai terapi relaksasi, semuanya dibuat supaya kamu bisa pulang dengan tubuh yang lebih segar.

1. Sleep tourism jadi tren wisata baru

ilustrasi kamar hotel (unsplash.com/Vojtech Bruzek)

Sleep tourism sebenarnya lebih dari sekadar menginap di hotel nyaman. Konsep ini dibuat khusus agar kamu bisa benar-benar fokus memulihkan kualitas tidur. Banyak hotel mulai menyediakan kamar dengan blackout curtain, aromaterapi, sound therapy, sampai pendamping tidur profesional untuk membantu tamu lebih rileks.

Laporan dari HTF Market Intelligence menyebut industri sleep tourism global bernilai lebih dari 690 miliar dolar AS pada 2024. Nilainya bahkan diprediksi akan terus bertambah sekitar 400 miliar dolar AS pada 2028. Kalau dikonversikan dengan kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS, angka tersebut setara dengan lebih dari Rp11.385 triliun dengan tambahan potensi pertumbuhan sekitar Rp6.600 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Besarnya nilai pasar itu menunjukkan kalau tidur berkualitas kini dianggap kebutuhan penting, bukan lagi sekadar bonus saat liburan.

2. Banyak orang ternyata mengalami krisis tidur

ilustrasi insomnia (vecteezy.com/Viorel Kurnosov)

Popularitas sleep tourism muncul bukan tanpa alasan. Banyak orang sekarang mengalami masalah tidur akibat stres dan gaya hidup yang terlalu sibuk. Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan sekitar 36 persen warga Amerika mengalami kurang tidur.

Menurut penelitian dalam Sleep in America Poll 2025 dari National Sleep Foundation, 6 dari 10 orang dewasa gak mendapatkan waktu tidur berkualitas sesuai rekomendasi, yaitu 7-9 jam per malam. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa hampir 4 dari 10 orang kesulitan tidur setidaknya 3 malam dalam seminggu. Selain itu, hampir setengah responden mengaku sering terbangun di tengah malam sehingga kualitas istirahat mereka terganggu.

Masalahnya ternyata bukan cuma soal durasi tidur. Analisis ValuePenguin pada 2025 menemukan bahwa rata-rata waktu tidur orang dewasa di Amerika memang meningkat dibandingkan dengan 2 dekade lalu. Akan tetapi, National Sleep Foundation menjelaskan bahwa lebih lama berada di tempat tidur belum tentu membuat kualitas tidur menjadi lebih baik.

3. Hotel mulai menawarkan pengalaman tidur premium

ilustrasi layanan spa, rileks, me time (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak hotel sekarang mulai melihat tidur sebagai bagian penting dari layanan mereka. Kalau dulu hotel berlomba menyediakan fasilitas hiburan, sekarang sebagian mulai fokus menciptakan pengalaman istirahat terbaik untuk tamu. Beberapa resor bahkan menyediakan program retreat khusus dengan meditasi, spa relaksasi, hingga terapi ritme sirkadian tubuh.

Pakar tidur dan mimpi, Charlie Morley, menjelaskan bahwa banyak orang kini mulai lebih memperhatikan kualitas tidur, seperti mereka menjaga pola makan dan kebugaran tubuh. Ia juga menyampaikan bahwa momen liburan sering dimanfaatkan orang untuk benar-benar memprioritaskan istirahat karena jauh dari pekerjaan maupun tekanan rutinitas harian.

Ke depannya, teknologi diprediksi akan makin banyak digunakan dalam tren ini. Kasur pintar yang bisa melacak kualitas tidur mulai diperkenalkan di beberapa hotel premium. Data tersebut nantinya dipakai untuk membantu tamu mengetahui kebiasaan apa saja yang membuat tidur mereka lebih berkualitas.

4. Tidur nyenyak ternyata berdampak besar untuk hidup

ilustrasi bangun tidur (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Sleep tourism gak cuma menjual rasa nyaman selama liburan. Tren ini juga dikaitkan dengan kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang. Banyak peneliti sekarang melihat tidur sebagai fondasi penting kesehatan, sejajar dengan olahraga dan pola makan sehat.

Menurut penelitian dalam Sleep in America Poll 2025 dari National Sleep Foundation, orang dewasa yang puas dengan kualitas tidurnya hampir dua kali lebih mungkin merasa hidupnya berkembang dengan baik dibandingkan dengan mereka yang tidurnya buruk. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidur punya hubungan erat dengan suasana hati, produktivitas kerja, dan hubungan sosial.

Dr. Joseph Dzierzewski menjelaskan bahwa kesehatan tidur yang buruk menjadi faktor risiko menurunnya kesejahteraan hidup di banyak aspek. Ia menilai bahwa tidur berkualitas dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, performa kerja, serta hubungan personal seseorang. Selain itu, kualitas tidur yang baik juga membuat seseorang lebih mudah menjaga emosi dan mengambil keputusan dengan lebih tenang dalam aktivitas sehari-hari.

5. Kamu juga bisa mencoba versi murahnya di rumah

ilustrasi kamar tidur (pexels.com/Taryn Elliott)

Menariknya, kamu sebenarnya gak harus pergi ke resor mahal untuk merasakan manfaat sleep tourism. Banyak konsepnya bisa diterapkan sendiri di rumah lewat DIY sleep staycation. Intinya adalah menciptakan suasana kamar yang nyaman dan tenang seperti di hotel.

Kamu bisa mulai dari mengganti seprai yang lebih nyaman, mengurangi cahaya masuk dengan tirai gelap, atau mengurangi suara bising di kamar. Beberapa aktivitas sederhana, seperti yoga ringan sebelum tidur, meditasi, mandi air hangat, hingga mendengarkan white noise juga mulai populer untuk membantu tubuh lebih rileks. Kamu juga bisa mencoba membatasi konsumsi kafein pada malam hari supaya tubuh lebih mudah masuk ke fase tidur yang dalam dan berkualitas.

Tujuan utamanya adalah memberi jeda dari rutinitas yang melelahkan. Mengurangi screen time dan memberi waktu bagi tubuh untuk benar-benar beristirahat bisa membantu kualitas tidur membaik sedikit demi sedikit. Meski terlihat sederhana, kebiasaan kecil seperti ini ternyata mulai dianggap penting oleh banyak orang di tengah gaya hidup modern yang serba cepat.

Sleep tourism menunjukkan bahwa definisi liburan kini mulai berubah. Banyak orang gak lagi mencari perjalanan yang melelahkan, melainkan pengalaman yang bisa membantu tubuh dan pikiran pulih sepenuhnya. Tren ini juga memperlihatkan bahwa tidur berkualitas sudah menjadi kebutuhan penting di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan.

Kalau selama ini kamu merasa mudah lelah, sulit fokus, atau sering kurang tidur, mungkin tubuh memang butuh istirahat yang lebih serius. Gak harus langsung menginap di resor mahal, kamu bisa mulai dari memperbaiki suasana tidur di rumah sendiri. Sebab pada akhirnya, tidur nyenyak bukan kemewahan semata, melainkan investasi penting untuk kesehatan dan kualitas hidupmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team