Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tips Memilih Baju untuk Pendakian di Musim Kemarau
ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Hasan İNCE)
  • Musim kemarau menuntut pendaki memilih pakaian berlapis agar tubuh tetap nyaman menghadapi panas siang dan dingin malam di jalur gunung.
  • Baselayer sintetis atau merino menjaga kulit tetap kering, mid layer fleece memberi kehangatan ringan, dan outer layer seperti windbreaker melindungi dari angin dingin.
  • Celana convertible serta aksesori kepala dan kaki membantu adaptasi terhadap perubahan suhu, menjaga kenyamanan tanpa membawa perlengkapan berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Musim kemarau memang sering menjadi waktu favorit para pendaki karena jalur biasanya lebih kering dan peluang turun hujan lebih kecil. Meski begitu, cuaca cerah bukan berarti perjalanan pasti terasa ringan dari awal hingga akhir. Panas terik di siang hari dan udara dingin di malam hari membuat pendaki perlu lebih cermat memilih pakaian.

Baju pendakian yang tepat dapat membantu tubuh tetap nyaman, tidak mudah basah oleh keringat, serta bebas bergerak selama perjalanan. Salah memilih bahan justru bisa membuat badan cepat gerah, tenaga lebih cepat terkuras, bahkan menggigil saat berhenti untuk beristirahat. Supaya pendakian di musim kemarau tetap aman dan nyaman, simak beberapa tips memilih baju berikut ini.

1. Gunakan baselayer berbahan sintetis atau merino

ilustrasi mendaki gunung (unsplash .com/Nikola Mihajloski)

Baju lapisan pertama sebaiknya tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga mampu menjaga kulit tetap kering. Saat jalur mulai menanjak, tubuh akan memproduksi lebih banyak keringat. Bahan sintetis, seperti poliester dan nilon, serta wol merino, dapat membantu keringat menjauh dari kulit. Kelembapan tersebut kemudian berpindah ke permukaan kain agar lebih cepat menguap.

Kesalahan yang sering terjadi adalah memakai kaos katun karena terasa nyaman pada awal perjalanan. Padahal, katun menyerap keringat dan membuat baju lebih lama kering ketika tubuh sudah banyak bergerak. Saat suhu mulai turun, baju yang masih lembap bisa membuat badan lebih cepat kedinginan dan mudah menggigil.

2. Siapkan mid layer fleece yang ringan

ilustrasi mendaki gunung (unsplash .com/Jasmine Bartel)

Udara gunung saat musim kemarau bisa berubah cepat begitu sore mulai datang. Setelah panas siang mereda, hawa kering dan dingin biasanya mulai terasa di kulit. Pada momen ini, jaket fleece berguna sebagai mid layer karena mampu menjaga tubuh tetap hangat tanpa terasa berat saat dipakai.

Kamu tidak harus memilih fleece yang terlalu tebal untuk setiap pendakian. Pilih yang ringan, mudah dilipat, dan cukup hangat untuk dipakai saat tubuh mulai diam. Dengan begitu, kamu tetap siap menghadapi udara malam tanpa membawa perlengkapan yang memakan banyak ruang.

3. Bawa outer layer berupa windbreaker atau down jacket

ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Yasin Onuş)

Malam di gunung saat musim kemarau tidak hanya dingin, tetapi juga sering disertai angin kering yang terasa menusuk. Rasa dingin ini biasanya makin kuat saat pendaki berada di jalur terbuka, punggungan, atau area dekat puncak. Windbreaker bisa menjadi outer layer yang praktis karena mampu menahan angin tanpa menambah beban besar di tas.

Pada pendakian yang lebih panjang, terutama saat harus bermalam, jaket hangat, seperti down jacket, bisa menjadi perlengkapan penting. Fungsinya bukan sekadar membuat tubuh terasa nyaman, tetapi juga membantu agar panas tubuh tidak cepat hilang. Supaya tidak membawa barang berlebihan, sesuaikan pilihan jaket dengan ketinggian gunung, lama perjalanan, dan kapasitas tas.

4. Pilih celana lapangan model sambung atau convertible pants

ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/HONG SON)

Celana pendakian yang baik harus membuat langkah terasa bebas, terutama saat medan mulai menanjak atau jalur dipenuhi batu. Bahan nilon elastis dan kain teknis cepat kering lebih nyaman untuk musim kemarau karena tidak mudah menahan panas. Selain itu, bahan seperti ini biasanya lebih ringan dibandingkan dengan celana tebal yang bisa membuat kaki cepat gerah di siang hari.

Convertible pants bisa menjadi solusi cerdas untuk menghadapi perubahan kondisi di jalur. Bagian bawahnya dapat dilepas saat siang terasa panas, lalu dipasang kembali ketika udara mulai dingin atau jalur mulai banyak semak. Dengan satu celana yang bisa disesuaikan, bawaan tetap ringkas dan pendakian terasa lebih praktis.

5. Jangan lupakan aksesori kepala dan kaki

ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)

Perlengkapan pendakian tidak cukup hanya berhenti di baju dan celana, karena kepala serta kaki juga mudah terpengaruh oleh perubahan suhu. Saat malam mulai dingin, beanie atau kupluk bisa membantu menjaga kepala tetap hangat ketika kamu beristirahat di tenda. Kaos kaki wol yang agak tebal juga penting untuk membuat kaki tetap nyaman setelah dipakai berjalan seharian.

Saat siang hari, perlindungan yang dibutuhkan tentu berbeda karena matahari menjadi tantangan utama. Topi rimba atau cap dapat membantu mengurangi paparan panas langsung ke wajah. Meski terlihat sederhana, aksesori seperti ini bisa membuat pendakian terasa jauh lebih nyaman.

Pendakian musim kemarau tetap membutuhkan pakaian yang tepat, bukan sekadar baju yang ringan atau terlihat cocok untuk naik gunung. Panas siang, dingin malam, angin kering, dan keringat tubuh perlu diantisipasi dengan sistem berpakaian berlapis. Saat perlengkapan sudah sesuai, pendakian akan terasa lebih ringan dan tubuh bisa tetap nyaman dari awal sampai akhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article