5 Kesalahan Saat Menambah Angin Ban Mobil, Sering Disepelekan!

Mengisi tekanan angin ban terlihat sebagai pekerjaan sederhana yang bisa dilakukan dalam hitungan menit. Tinggal menghubungkan selang ke pentil, melihat angka pada alat pengukur, lalu menambahkan atau mengurangi tekanan sesuai kebutuhan.
Namun, kesalahan kecil saat mengisi angin dapat memengaruhi kenyamanan, pengendalian, hingga usia pakai ban. Karena itu, jangan hanya fokus pada angka yang terlihat di mesin pengisi angin, tetapi pahami juga kondisi ban dan tekanan yang direkomendasikan.
1. Mengisi angin tanpa melihat rekomendasi tekanan

ilustrasi isi tekanan angin ban mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio) Salah satu kesalahan paling umum adalah mengisi angin berdasarkan perkiraan atau kebiasaan. Ada yang memilih tekanan tinggi agar ban terasa lebih keras, sementara sebagian lainnya sengaja mengurangi tekanan demi mendapatkan rasa berkendara yang dianggap lebih nyaman.
Padahal, setiap kendaraan memiliki rekomendasi tekanan ban yang sudah disesuaikan dengan karakter kendaraan dan ukuran ban bawaan. Tekanan terlalu tinggi dapat membuat bidang kontak ban berubah, sedangkan tekanan terlalu rendah berpotensi meningkatkan panas dan membuat bagian tertentu dari ban bekerja lebih berat.
2. Memeriksa tekanan saat ban masih panas

ilustrasi memompa ban mobil (vecteezy.com/Panuwat Dangsungnoen) Tekanan udara di dalam ban dapat berubah ketika suhu meningkat. Setelah kendaraan digunakan dalam perjalanan, terutama dengan kecepatan tinggi atau jarak cukup jauh, ban menjadi panas dan tekanan di dalamnya ikut meningkat.
Karena itu, hasil pengukuran saat ban panas bisa berbeda dengan kondisi sebenarnya ketika ban masih dingin. Jika tekanan langsung dikurangi berdasarkan angka saat ban panas, tekanan ban dapat menjadi terlalu rendah setelah suhunya kembali normal. Pemeriksaan sebaiknya mengikuti kondisi yang direkomendasikan oleh pabrikan.
3. Menggunakan alat ukur yang kurang akurat

ilustrasi mengganti ban mobil (pexels.com/yura) Kesalahan berikutnya adalah terlalu percaya pada satu alat pengukur tanpa pernah memastikan kondisinya. Alat pengisi angin di SPBU atau bengkel dapat mengalami perbedaan pembacaan jika tidak dikalibrasi dengan baik.
Tidak ada salahnya menggunakan pengukur tekanan ban sendiri sebagai pembanding. Jika terdapat selisih angka yang cukup jauh, tekanan sebaiknya diperiksa kembali menggunakan alat yang lebih terpercaya agar tidak terjadi kesalahan pengisian.
4. Lupa menyesuaikan tekanan dengan beban kendaraan

ilustrasi jualan di bagasi mobil (pexels.com/Arshid Yousaf) Tekanan ban yang digunakan saat mobil atau motor hanya membawa satu orang belum tentu ideal ketika kendaraan membawa banyak penumpang atau barang. Beban tambahan membuat ban menerima tekanan kerja yang berbeda dibanding kondisi penggunaan normal.
Beberapa kendaraan memiliki rekomendasi tekanan berbeda untuk kondisi beban ringan dan penuh. Informasi tersebut biasanya dapat ditemukan pada buku panduan atau label kendaraan. Mengabaikan perbedaan beban dapat membuat ban bekerja kurang optimal dan berpotensi memengaruhi stabilitas kendaraan.
5. Hanya mengisi angin tanpa memeriksa kondisi ban

ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner) Saat mengisi angin, perhatian sering hanya tertuju pada angka tekanan. Padahal, momen tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk memeriksa kondisi fisik ban, seperti adanya benda tajam, retakan, benjolan, atau keausan yang tidak merata.
Jika tekanan ban terus berkurang dalam waktu singkat, jangan hanya terus menambahkan angin. Bisa saja terdapat kebocoran pada ban atau masalah pada pentil. Dengan melakukan pemeriksaan sederhana secara rutin, masalah dapat ditemukan lebih awal sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius saat kendaraan digunakan.





















