Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Alasan Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Habis Dibanding Ban Biasa

Alasan Ban Mobil Listrik Lebih Cepat Habis Dibanding Ban Biasa
ilustrasi ban mobil (freepik.com/standret
Intinya Sih
  • Bobot baterai lithium-ion membuat mobil listrik lebih berat hingga 30%, meningkatkan tekanan dan gesekan pada ban sehingga karet cepat terkikis.
  • Torsi instan motor listrik menyebabkan akselerasi mendadak yang memicu panas dan gesekan ekstrem, mempercepat keausan tapak ban.
  • Sistem pengereman regeneratif menambah beban kerja ban karena menciptakan gaya perlambatan langsung di roda, membuat ban aus dua kali lebih cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fenomena ban mobil listrik yang lebih cepat gundul dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) menjadi topik hangat di kalangan pengguna kendaraan ramah lingkungan. Meski tidak memerlukan ganti oli atau perawatan mesin yang rumit, pemilik kendaraan listrik sering kali dikejutkan oleh masa pakai ban yang terasa jauh lebih singkat dari perkiraan semula.

Perbedaan drastis ini sebenarnya berakar pada prinsip dasar mekanika dan distribusi beban yang sangat berbeda antara kedua jenis teknologi tersebut. Terdapat faktor teknis yang memaksa ban bekerja ekstra keras setiap kali pedal gas diinjak, sehingga gesekan yang terjadi di permukaan aspal menjadi jauh lebih agresif dan merusak material karet secara perlahan.

1. Dampak beban berat baterai terhadap tekanan permukaan ban

ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)
ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)

Faktor utama yang menyebabkan ban mobil listrik lebih cepat habis adalah bobot kendaraan yang sangat berat akibat keberadaan paket baterai lithium-ion. Sebagai perbandingan, mobil listrik rata-rata memiliki bobot 20% hingga 30% lebih berat daripada mobil bensin dengan dimensi yang sama. Beban tambahan yang bisa mencapai ratusan kilogram ini memberikan tekanan vertikal yang sangat besar pada keempat titik tumpu kendaraan, yaitu ban.

Tekanan yang konstan ini membuat area kontak antara ban dan jalan menjadi lebih lebar, sehingga friksi atau gesekan yang dihasilkan saat mobil melaju meningkat secara signifikan. Beban berat tersebut juga memengaruhi inersia kendaraan; saat mobil harus berbelok atau melakukan pengereman, ban harus menahan momentum massa yang lebih besar agar mobil tetap stabil. Tekanan fisik yang terus-menerus ini mengakibatkan molekul karet pada ban lebih cepat terkikis dibandingkan saat menopang mobil bensin yang lebih ringan.

2. Karakteristik torsi instan yang memicu gesekan ekstrem

Ilustrasi ban mobil (pexels/Javier Balseiro)
Ilustrasi ban mobil (pexels/Javier Balseiro)

Mobil listrik dikenal dengan kemampuan akselerasinya yang luar biasa karena motor listrik mampu menghasilkan torsi maksimal secara instan sejak putaran pertama. Berbeda dengan mobil bensin yang membutuhkan waktu untuk mencapai puncak tenaga melalui putaran mesin, mobil listrik langsung menyalurkan seluruh kekuatannya ke roda begitu pedal gas ditekan. Lonjakan tenaga mendadak ini sering kali menyebabkan ban mengalami selip halus yang tidak terlihat oleh mata, namun berakibat fatal pada ketebalan tapak ban.

Gaya dorong yang sangat kuat dan tiba-tiba ini memaksa permukaan karet ban untuk "mencengkeram" aspal dengan tenaga ekstra agar roda tidak berputar di tempat. Gesekan yang terjadi saat akselerasi cepat ini menghasilkan panas yang lebih tinggi pada struktur ban, yang secara bertahap melemahkan ikatan kimia karet dan mempercepat proses pengausan. Pengulangan akselerasi responsif khas kendaraan listrik inilah yang menjadi alasan utama mengapa ban depan maupun belakang kehilangan alurnya jauh sebelum waktunya.

3. Pengaruh sistem pengereman regeneratif pada struktur ban

Ilustrasi ban mobil (Freepik/peoplecreations)
Ilustrasi ban mobil (Freepik/peoplecreations)

Sistem pengereman regeneratif (regenerative braking) yang menjadi fitur standar pada mobil listrik juga berperan dalam memperpendek usia ban. Saat pengemudi mengangkat kaki dari pedal gas, motor listrik berubah fungsi menjadi generator dan menciptakan efek hambatan yang kuat untuk mengisi ulang daya baterai. Proses ini memberikan gaya perlambatan yang signifikan langsung pada poros roda, yang berbeda dengan pengereman konvensional yang lebih bertahap menggunakan kampas rem.

Hambatan mekanis yang kuat dari pengereman regeneratif ini memaksa ban untuk menahan laju kendaraan yang berat tanpa bantuan friksi dari rem fisik di tahap awal. Hal ini menciptakan gaya gesek dua arah yang konsisten—saat akselerasi dan saat deselerasi—pada permukaan ban yang sama. Tekanan ganda ini membuat ban bekerja dua kali lebih berat dalam setiap siklus perjalanan, sehingga tidak mengherankan jika ban khusus mobil listrik biasanya dirancang dengan material yang lebih keras dan struktur dinding samping yang lebih kuat untuk mengimbangi tantangan teknis tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More