Banyak pemilik kendaraan tergoda untuk mencampur pertalite dengan pertamax demi mendapatkan bahan bakar kualitas menengah dengan harga yang lebih miring. Pola pikir ini didasari oleh keinginan untuk menghemat pengeluaran tanpa mengorbankan performa kendaraan secara penuh. Namun, praktik ini sebenarnya didasarkan pada mitos ekonomi yang keliru karena karakteristik kimia dari kedua jenis bahan bakar tersebut sangat berbeda.
Alih-alih menghemat anggaran bulanan, mencampur bahan bakar dengan kadar oktan 90 dan 92 ini justru memicu efek sebaliknya. Kendaraan yang dipaksa mengonsumsi bahan bakar oplosan ini akan mengalami penurunan efisiensi yang signifikan. Pada akhirnya, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengisian bensin yang lebih sering serta biaya perbaikan mesin justru akan membuat kantong pemilik kendaraan menjadi jebol.
