Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Mencampur Pertamax dan Pertalite Malah Bikin Boros dan Boncos
ilustrasi mobil mogok (pexels.com/Alex P)
  • Mencampur Pertamax dan Pertalite justru bikin boros karena nilai oktan jadi tidak stabil, membuat pembakaran tidak sempurna dan konsumsi bensin meningkat.
  • Pencampuran dua bahan bakar berbeda formula menimbulkan kerak karbon yang mengganggu performa mesin serta memaksa kendaraan bekerja lebih berat.
  • Kebiasaan ini bisa menyebabkan knocking dan kerusakan komponen vital mesin, sehingga biaya perbaikan membengkak dan penghematan awal jadi sia-sia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang campur bensin Pertalite dan Pertamax supaya hemat, tapi malah bikin boros. Mesin jadi cepat habis bensinnya karena api di dalamnya nggak nyala pas. Lama-lama mesin juga kotor dan rusak karena ada kerak hitam nempel. Akhirnya mobil bisa mogok dan harus diperbaiki mahal sekali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pemilik kendaraan tergoda untuk mencampur pertalite dengan pertamax demi mendapatkan bahan bakar kualitas menengah dengan harga yang lebih miring. Pola pikir ini didasari oleh keinginan untuk menghemat pengeluaran tanpa mengorbankan performa kendaraan secara penuh. Namun, praktik ini sebenarnya didasarkan pada mitos ekonomi yang keliru karena karakteristik kimia dari kedua jenis bahan bakar tersebut sangat berbeda.

Alih-alih menghemat anggaran bulanan, mencampur bahan bakar dengan kadar oktan 90 dan 92 ini justru memicu efek sebaliknya. Kendaraan yang dipaksa mengonsumsi bahan bakar oplosan ini akan mengalami penurunan efisiensi yang signifikan. Pada akhirnya, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengisian bensin yang lebih sering serta biaya perbaikan mesin justru akan membuat kantong pemilik kendaraan menjadi jebol.

1. Pembakaran tidak sempurna memicu konsumsi bensin lebih cepat

Ilustrasi mekanik mengecek kelistrikan mesin mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Setiap tetes pertamax telah dilengkapi dengan formula aditif khusus yang dirancang untuk mesin berkompresi tinggi agar tangguh terhadap tekanan. Sementara itu, pertalite memiliki formula yang lebih sederhana untuk mesin dengan kompresi yang lebih rendah. Ketika kedua cairan ini disatukan di dalam tangki, nilai oktan menjadi tidak menentu dan senyawa kimia dari kedua bahan bakar tersebut gagal menyatu secara homogen.

Ketidakstabilan nilai oktan ini menyebabkan komputer kendaraan atau sistem karburator kesulitan dalam mengatur waktu pengapian yang tepat. Akibatnya, bensin terbakar terlalu cepat atau bahkan terlambat, sehingga tenaga yang dihasilkan dari setiap siklus pembakaran menjadi sangat lemah. Untuk mengompensasi hilangnya tenaga tersebut, mesin secara otomatis akan menyedot lebih banyak bahan bakar, yang membuat bensin di dalam tangki menjadi jauh lebih cepat habis.

2. Penumpukan kerak karbon menurunkan efisiensi performa mesin

ilustrasi mesin mobil (pexels.com/erik)

Dampak buruk lain dari pencampuran dua jenis bahan bakar yang berbeda formula ini adalah timbulnya residu atau sisa pembakaran yang pekat. Zat aditif pembersih yang ada pada pertamax kehilangan fungsinya ketika terkontaminasi oleh senyawa pertalite. Kegagalan fungsi ini menyebabkan partikel bensin yang tidak terbakar dengan sempurna berubah menjadi jelaga hitam yang mengendap di dalam ruang bakar.

Kerak karbon yang menempel pada dinding silinder, kepala piston, dan ujung busi ini secara perlahan akan mengganggu kinerja sistem mekanis. Busi yang kotor membuat percikan api menjadi loyo, sedangkan kerak di ruang bakar akan menyerap sebagian panas yang seharusnya diubah menjadi tenaga. Penurunan efisiensi kerja mesin yang terus memburuk ini memaksa pengendara untuk menginjak pedal gas lebih dalam, yang berujung pada pemborosan bahan bakar yang semakin parah.

3. Kerusakan komponen fatal berujung biaya perbaikan yang mahal

ilustrasi mesin mobil (pexels.com/erik)

Kerugian terbesar dari kebiasaan mencampur bahan bakar ini bukan hanya terletak pada bensin yang cepat habis, melainkan pada biaya perawatan jangka panjang. Gejala ketukan atau knocking yang terjadi terus-menerus akibat oktan yang tidak stabil akan memberikan hantaman keras pada komponen internal mesin. Suhu ruang bakar yang meningkat drastis juga akan mempercepat keausan komponen logam yang saling bergesekan.

Dalam jangka waktu beberapa bulan, pemilik kendaraan kemungkinan besar harus menghadapi masalah serius seperti piston baret, katup bocor, atau injektor yang tersumbat total. Kerusakan pada bagian vital ini tidak bisa diselesaikan dengan servis ringan biasa, melainkan harus melalui prosedur turun mesin. Biaya untuk membeli suku cadang baru dan upah mekanik yang sangat mahal ini akan membuat penghematan kecil yang dilakukan di awal menjadi sama sekali tidak berarti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article