Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Kesalahan Fatal Saat Menjumper Aki Mobil, Awas Terbakar!

3 Kesalahan Fatal Saat Menjumper Aki Mobil, Awas Terbakar!
ilustrasi aki mobil (pexels.com/Themba Mtegha)
  • Kesalahan urutan pemasangan kabel jumper bisa memicu lonjakan arus tinggi dan merusak sistem elektronik mobil jika tidak mengikuti prosedur positif-negatif yang benar.
  • Menghubungkan kabel negatif langsung ke kutub aki mati berisiko menimbulkan percikan api dan ledakan akibat gas hidrogen dari aki tekor.
  • Perbedaan kapasitas voltase antar mobil serta men-jumper tanpa menyalakan mesin donor dapat membuat aki donor soak dan gagal menghidupkan kendaraan bermasalah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kondisi baterai atau aki kendaraan yang tiba-tiba kehabisan daya merupakan salah satu momen paling menjengkelkan bagi setiap pengemudi. Langkah darurat yang paling sering dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan prosedur pelompatan daya atau menjumper aki menggunakan bantuan mobil lain. Prosedur ini sekilas terlihat sangat sederhana dan mudah dipraktikkan oleh siapa saja yang memiliki kabel jumper di dalam bagasinya.

Namun, di balik kemudahannya, proses transfer daya listrik ini menyimpan risiko teknis yang sangat besar jika dilakukan secara sembarangan. Banyak pemilik kendaraan yang tidak menyadari bahwa kesalahan kecil dalam urutan pemasangan kabel dapat memicu kerusakan fatal pada komponen elektronik yang mahal. Terdapat beberapa kekeliruan yang paling sering terjadi di lapangan dan wajib dihindari demi keselamatan kendaraan serta pengemudi itu sendiri.

  1. 1. Kekeliruan dalam menentukan urutan pemasangan kutub terminal kabel

    ilustrasi aki mobil (pexels.com/Brigitte Miller)
    ilustrasi aki mobil (pexels.com/Brigitte Miller)

    Kesalahan pertama yang paling sering dilakukan oleh pengemudi yang panik adalah memasang kabel jumper secara acak tanpa mengikuti urutan baku. Menghubungkan kabel donor dan kabel penerima secara sembarangan dapat memicu terjadinya lonjakan arus listrik yang sangat tinggi secara instan. Kebiasaan buruk ini biasanya dipicu oleh rasa terburu-buru sehingga mengabaikan simbol positif dan negatif yang tertera pada badan baterai.

    Urutan yang benar dan aman harus dimulai dengan menghubungkan kabel merah ke kutub positif aki yang mogok, kemudian ke kutub positif aki donor. Setelah itu, kabel hitam dipasang pada kutub negatif aki donor sebelum ujung satunya dihubungkan ke titik masa mobil yang mogok. Melanggar urutan logis ini tidak hanya memicu percikan api yang besar, tetapi juga berisiko tinggi merusak sistem komputerisasi internal kedua mobil.

  2. 2. Menghubungkan kabel negatif langsung ke kutub negatif aki yang mati

    Ilustrasi aki mobil (pexels.com/Vladimir Srajber)
    Ilustrasi aki mobil (pexels.com/Vladimir Srajber)

    Kekeliruan kedua yang sangat klasik namun masih sering terjadi adalah menempelkan ujung kabel hitam terakhir langsung ke kutub negatif aki yang mogok. Banyak orang mengira bahwa hubungan antarkutub negatif merupakan metode yang paling logis untuk melengkapi sirkuit aliran listrik baterai. Padahal, tindakan menempelkan kabel ke kutub negatif baterai yang kosong berpotensi memicu ledakan fisik yang sangat berbahaya di dalam ruang mesin.

    Aki mobil yang sedang tekor atau rusak sering kali mengeluarkan gas hidrogen yang sangat mudah terbakar akibat proses kimiawi internal. Ketika ujung kabel negatif ditempelkan langsung ke kutub tersebut, percikan api yang muncul saat sentuhan pertama dapat langsung menyambar gas hidrogen tersebut. Oleh karena itu, ujung kabel hitam terakhir wajib dijepitkan pada bagian logam mesin yang tidak dicat atau area sasis yang jauh dari keberadaan aki.

  3. 3. Mengabaikan spesifikasi kapasitas voltase dan membiarkan mobil donor mati

    ilustrasi aki mobil (vecteezy.com/wattanaphob kappago)
    ilustrasi aki mobil (vecteezy.com/wattanaphob kappago)

    Kesalahan ketiga yang sering kali luput dari perhatian adalah memaksakan proses jumper antara dua kendaraan yang memiliki spesifikasi sistem kelistrikan berbeda. Sebagai contoh, mencoba menghidupkan mobil bermesin diesel berkapasitas besar menggunakan mobil kota kecil dengan kapasitas aki yang sangat terbatas. Perbedaan kebutuhan arus ini akan membuat aki mobil donor bekerja terlalu keras melebihi batas kemampuan maksimalnya sehingga ikut menjadi soak.

    Selain itu, proses menghidupkan mesin mobil yang mogok sering kali dilakukan saat mesin mobil donor masih berada dalam kondisi mati total. Tindakan ini merupakan kesalahan besar karena seluruh beban sedotan arus listrik awal akan bertumpu penuh pada aki mobil donor tanpa adanya pasokan dari alternator. Mesin mobil donor harus selalu dinyalakan terlebih dahulu selama beberapa menit agar sistem pengisian daya berjalan aktif dan melindungi kesehatan aki donor.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More