Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Mencampur Pertamax dan Pertalite Bisa Bikin Hemat?

Benarkah Mencampur Pertamax dan Pertalite Bisa Bikin Hemat?
Ilustrasi mengisi bensin (Pexels/cottonbro studio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kenaikan harga Pertamax membuat sebagian pengendara mencoba mencampurnya dengan Pertalite demi menghemat biaya, namun cara ini ternyata tidak efektif secara teknis maupun finansial.
  • Pencampuran dua bahan bakar berbeda oktan menyebabkan reaksi kimia tidak sempurna, membuat pembakaran mesin tidak stabil dan performa kendaraan menurun.
  • Kebiasaan mencampur bahan bakar berisiko menimbulkan kerak karbon, merusak komponen mesin, serta meningkatkan biaya servis yang justru lebih mahal dari penghematan bensin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Harga Pertamax naik dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250. Kenaikan yang cukup signifikan ini tentu saja membuat beban hidup jadi semakin berat. Sebab, kenaikan harga bahan bakar biasanya akan diikuti kenaikan harga barang-barang lain. Karena itu tak mengherankan kalau ada pengendara yang kepikiran untuk mencampur Pertamax dengan Pertalite agar lebih hemat.

Tapi benarkah mencampurkan dua jenis bahan bakar minyak yang memiliki kadar oktan berbeda akan memangkas biaya opersional Secara teori, mencampur kedua bahan bakar ini memang akan menghasilkan angka oktan baru di antara 90 dan 92, tergantung pada rasio campurannya. Namun, anggapan bahwa metode ini otomatis membuat pengeluaran menjadi lebih hemat adalah sebuah kekeliruan.

Sebab proses pencampuran yang dilakukan secara manual di dalam tangki tidak serta-merta menciptakan bahan bakar baru yang efisien, melainkan justru berpotensi memicu berbagai masalah teknis yang pada akhirnya merugikan secara finansial.

1. Perubahan formula kimia yang tidak sempurna

ilustrasi mengisi bensin motor (suzuki.co.id)
ilustrasi mengisi bensin motor (suzuki.co.id)

Pertalite dan pertamax diproduksi dengan formula kimia serta kandungan aditif yang berbeda dari pabriknya. Pertamax dilengkapi dengan aditif pembersih mesin yang lebih kaya untuk menjaga ruang bakar tetap bersih, sementara pertalite memiliki kandungan yang lebih sederhana. Ketika kedua cairan ini disatukan secara acak di dalam tangki kendaraan, zat aditif tersebut tidak dapat menyatu secara homogen karena struktur kimianya yang berbeda.

Akibat dari percampuran yang tidak merata ini, formula pelindung yang ada pada pertamax menjadi tidak efektif lagi. Mesin kendaraan tidak akan mendapatkan performa maksimal dari pertamax, dan di sisi lain juga tidak mendapatkan efisiensi murni dari pertalite. Kegagalan senyawa kimia untuk menyatu dengan sempurna ini justru membuat proses pembakaran di dalam mesin menjadi tidak stabil.

2. Penurunan performa mesin dan pemborosan BBM

Ilustrasi mengisi bensin (Pexels/Kordanalev)
Ilustrasi mengisi bensin (Pexels/Kordanalev)

Setiap kendaraan roda dua maupun roda empat telah dirancang dengan rasio kompresi mesin tertentu yang membutuhkan kadar oktan yang spesifik. Jika kendaraan dengan kompresi tinggi yang seharusnya menggunakan pertamax dipaksa menerima campuran pertalite, maka akan terjadi gejala ketukan atau yang sering disebut dengan istilah knocking. Gejala ini menandakan bahwa bensin terbakar terlalu cepat sebelum piston mencapai posisi yang tepat.

Proses pembakaran yang tidak tepat akibat penurunan nilai oktan ini membuat mesin harus bekerja ekstra keras untuk menghasilkan tenaga yang sama. Ketika mesin bekerja lebih berat, konsumsi bahan bakar justru akan meningkat secara drastis untuk mengompensasi hilangnya tenaga. Hasilnya, tujuan awal untuk menghemat biaya pengisian bensin justru berujung pada konsumsi bahan bakar yang menjadi lebih boros dari biasanya.

3. Risiko kerusakan komponen dan biaya servis membengkak

ilustrasi bengkel motor (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
ilustrasi bengkel motor (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Dampak jangka panjang dari kebiasaan mencampur bahan bakar ini adalah timbulnya kerak karbon yang menumpuk di ruang bakar secara cepat. Sisa-sisa pembakaran yang tidak sempurna dari percampuran zat aditif akan menyumbat injektor atau busi. Jika dibiarkan terus-menerus, performa kendaraan akan terus menurun, bahkan komponen vital seperti piston bisa mengalami kerusakan fatal akibat benturan energi yang tidak stabil.

Ketika komponen mesin sudah mulai rusak, biaya perbaikan yang harus dikeluarkan di bengkel akan jauh lebih besar daripada selisih harga bensin yang dihemat. Pemilik kendaraan harus melakukan servis turun mesin atau penggantian suku cadang yang mahal dalam waktu yang lebih cepat dari jadwal seharusnya. Oleh karena itu, menggunakan satu jenis bahan bakar yang sesuai dengan panduan pabrikan jauh lebih aman dan hemat dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More