Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bahaya Menyetel Musik Terlalu Keras Saat Berkendara di Mobil
Naik mobil bareng teman (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Musik terlalu keras dapat menutupi klakson, sirene, serta bunyi abnormal dari mobil, sehingga pengemudi berpotensi terlambat mengenali peringatan dan gangguan.
  • Volume berlebihan, terutama dengan dentuman kuat atau tempo cepat, bisa membagi fokus pengemudi dan memengaruhi perhatian terhadap jalan maupun kecepatan kendaraan.
  • Paparan suara keras selama perjalanan jauh dapat membuat telinga lelah, mengganggu komunikasi dengan penumpang, dan menurunkan konsentrasi; volume perlu disesuaikan dengan kondisi perjalanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kalau musik di mobil terlalu keras, sopir bisa tidak dengar klakson, sirene ambulans, atau bunyi mobil yang aneh. Sopir juga bisa susah fokus di jalan dan telinganya lelah. Musik boleh dinyalakan, tapi suaranya jangan besar. Saat jalan ramai atau hujan, musik sebaiknya dikecilkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengarkan musik saat berkendara memang bisa membuat perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan. Namun, volume suara yang terlalu keras dapat menimbulkan masalah karena telinga dan perhatian pengemudi terus menerima rangsangan tambahan.

Saat mobil melaju, kemampuan membaca kondisi sekitar menjadi sangat penting. Suara kendaraan lain, klakson, sirene, hingga perubahan suara dari mobil sendiri bisa menjadi informasi yang berguna untuk membantu pengemudi bereaksi terhadap situasi di jalan.

1. Suara penting dari luar bisa tidak terdengar

ilustrasi naik mobil dalam perjalanan jauh (pexels.com/Ulrik Skare)

Musik dengan volume terlalu tinggi dapat menutupi suara dari lingkungan sekitar. Klakson kendaraan lain, sirene ambulans, polisi, atau kendaraan pemadam kebakaran berisiko terlambat terdengar ketika perhatian telinga tertutup suara dari speaker.

Kondisi ini dapat membuat pengemudi terlambat menyadari adanya kendaraan prioritas atau peringatan dari pengguna jalan lain. Dalam situasi lalu lintas yang padat, keterlambatan beberapa saat saja bisa membuat waktu untuk mengambil keputusan menjadi lebih sempit.

Suara dari kendaraan sendiri juga tidak kalah penting. Bunyi mesin yang tidak biasa, suara gesekan, komponen yang bergetar, atau suara ban bisa menjadi tanda awal adanya gangguan pada mobil.

Jika musik terlalu keras, tanda-tanda tersebut dapat tertutup dan baru disadari ketika masalah sudah semakin serius. Karena itu, volume audio sebaiknya tetap berada pada tingkat yang memungkinkan suara penting dari luar dan dalam mobil masih dapat terdengar.

2. Konsentrasi pengemudi bisa ikut terganggu

Ilustrasi pria naik mobil dengan teman (freepik.com/Freepik)

Musik tidak selalu mengganggu konsentrasi. Pada volume yang wajar, sebagian orang justru merasa perjalanan menjadi lebih nyaman. Namun, situasinya dapat berubah ketika suara terlalu keras dan membuat kabin dipenuhi getaran serta rangsangan berlebihan.

Musik dengan dentuman kuat dapat membuat perhatian lebih mudah terbagi, terutama ketika pengemudi sedang menghadapi kondisi lalu lintas yang rumit. Fokus yang seharusnya digunakan untuk membaca jalan justru ikut tersita oleh suara yang terlalu dominan.

Masalahnya bisa semakin terasa ketika lagu yang diputar memiliki tempo cepat atau pengemudi terbawa suasana hingga ikut bernyanyi dengan penuh semangat. Tanpa disadari, kaki bisa menekan pedal gas lebih dalam atau konsentrasi terhadap kecepatan mulai berkurang.

Karena itu, tidak ada salahnya menyesuaikan volume musik dengan kondisi perjalanan. Saat memasuki jalan yang ramai, cuaca buruk, atau area yang belum familiar, mengecilkan volume dapat membantu meningkatkan perhatian terhadap lingkungan sekitar.

3. Telinga bisa cepat lelah selama perjalanan jauh

ilustrasi naik mobil pribadi (unsplash.com/Andraz Lazic)

Paparan suara keras dalam waktu lama juga dapat membuat telinga terasa tidak nyaman. Setelah perjalanan jauh, telinga bisa terasa berdenging atau pendengaran seperti berkurang sementara karena terlalu lama menerima suara dengan intensitas tinggi.

Kondisi tersebut tentu dapat mengurangi kenyamanan, terutama jika perjalanan masih harus dilanjutkan. Pengemudi yang mulai merasa lelah atau tidak nyaman juga berisiko mengalami penurunan konsentrasi.

Selain itu, suara keras yang terus-menerus dapat membuat komunikasi dengan penumpang menjadi sulit. Pengemudi mungkin harus mengalihkan perhatian untuk mendengar pembicaraan atau menoleh ketika seseorang ingin menyampaikan sesuatu.

Lebih baik gunakan sistem audio dengan volume secukupnya. Musik tetap bisa dinikmati tanpa harus membuat seluruh kabin dipenuhi suara yang terlalu keras. Jika ingin menikmati musik dengan volume lebih tinggi, lakukan ketika mobil sudah berhenti dan berada di tempat yang aman.

Pada akhirnya, masalah utama bukan terletak pada kebiasaan mendengarkan musik saat berkendara, melainkan bagaimana suara tersebut memengaruhi kemampuan untuk tetap sadar terhadap lingkungan sekitar. Musik seharusnya menjadi teman perjalanan, bukan sumber gangguan tambahan.

Atur volume pada tingkat yang nyaman dan tetap memungkinkan suara penting terdengar. Dengan begitu, perjalanan tetap terasa menyenangkan tanpa mengurangi fokus terhadap kondisi jalan dan keselamatan selama berkendara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article