Ban Kurang Angin Lebih Berisiko di Jalan Beton, Ini Alasannya

- Permukaan jalan beton yang keras membuat ban menerima beban dan benturan lebih besar, terutama jika tekanan angin di bawah rekomendasi pabrikan.
- Ban dengan tekanan angin rendah cepat panas dan aus karena gesekan tinggi di jalan beton, meningkatkan risiko kerusakan serius seperti benjol atau pecah.
- Menjaga tekanan angin sesuai rekomendasi membantu distribusi beban merata, memperpanjang umur ban, serta menjaga kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Jalan beton semakin banyak digunakan di berbagai ruas jalan di Indonesia, terutama jalur logistik, kawasan industri, hingga jalan nasional. Permukaannya dikenal kuat dan memiliki usia pakai yang panjang, tetapi karakteristiknya berbeda dibandingkan jalan beraspal.
Perbedaan tersebut membuat kondisi ban menjadi faktor yang semakin penting. Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah membiarkan tekanan angin ban berada di bawah rekomendasi pabrikan. Pada jalan beton, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerusakan ban sekaligus mengurangi kenyamanan dan keselamatan berkendara.
1. Jalan beton memberikan beban lebih besar pada ban

Permukaan jalan beton memiliki karakter yang lebih keras dibandingkan aspal. Material ini tidak banyak menyerap getaran sehingga sebagian besar benturan dari permukaan jalan diteruskan langsung ke ban dan suspensi kendaraan. Akibatnya, ban bekerja lebih berat setiap kali mobil melintasi sambungan beton, permukaan bergelombang, maupun tekstur jalan yang kasar.
Jika tekanan angin ban kurang, dinding ban akan lebih banyak mengalami deformasi saat menerima beban. Area tapak yang menyentuh jalan juga menjadi lebih lebar sehingga gesekan meningkat. Kombinasi antara permukaan beton yang kaku dan ban yang terlalu lembek membuat struktur ban menerima tekanan lebih besar dibandingkan saat melaju di jalan dengan tekanan angin yang sesuai.
2. Ban kurang angin lebih cepat panas dan aus

Tekanan angin yang rendah menyebabkan ban terus-menerus mengalami perubahan bentuk saat berputar. Proses ini menghasilkan panas akibat gesekan internal pada lapisan karet dan serat di dalam ban. Semakin jauh kendaraan melaju, suhu ban akan terus meningkat, terutama saat membawa muatan berat atau melaju dengan kecepatan tinggi.
Di jalan beton, kondisi tersebut bisa menjadi lebih parah karena permukaannya cenderung memberikan hambatan gulir yang lebih tinggi dibandingkan aspal yang halus. Akibatnya, ban bekerja lebih keras untuk mempertahankan laju kendaraan. Jika dibiarkan dalam waktu lama, panas berlebih dapat mempercepat keausan tapak, merusak struktur ban, bahkan meningkatkan risiko ban mengalami kerusakan serius, seperti benjol atau pecah ban.
3. Tekanan angin yang tepat membantu menjaga keselamatan

Menjaga tekanan angin sesuai rekomendasi pabrikan merupakan langkah sederhana yang memberikan manfaat besar. Ban dengan tekanan yang tepat mampu mempertahankan bentuk ideal sehingga distribusi beban menjadi lebih merata. Selain meningkatkan umur pakai ban, kondisi ini juga membantu menjaga daya cengkeram saat menikung, mengerem, maupun melintasi permukaan jalan yang tidak rata.
Pemeriksaan tekanan angin sebaiknya dilakukan secara rutin, setidaknya dua minggu sekali atau sebelum melakukan perjalanan jauh. Pengukuran ideal dilakukan saat ban masih dalam kondisi dingin agar hasilnya lebih akurat. Dengan tekanan angin yang sesuai, ban dapat bekerja secara optimal di jalan beton maupun aspal, sehingga kenyamanan berkendara tetap terjaga, konsumsi bahan bakar lebih efisien, dan risiko kerusakan ban dapat diminimalkan.














![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Rajin Ngerawat Motor atau Tidak](https://image.idntimes.com/post/20250505/1000061385-48dd344493874130fba108ffa4c8d145-9b82a8cd4e580d90461f3406b04bbed2.jpg)


