Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Mendengarkan Podcast Horor di Mobil Bisa Mengusir Kantuk?

ilustrasi headunit mobil (pexels.com/Viralyft)
ilustrasi headunit mobil (pexels.com/Viralyft)

Rasa kantuk yang menyerang saat menempuh perjalanan jauh, terutama pada malam hari, adalah musuh bebuyutan bagi setiap pengemudi. Berbagai cara dilakukan untuk tetap terjaga, mulai dari mengonsumsi kafein dosis tinggi, mengunyah permen pedas, hingga membuka kaca jendela lebar-lebar demi mendapatkan hembusan angin dingin yang mengejutkan saraf.

Beberapa tahun terakhir, muncul tren baru di kalangan pengendara untuk mendengarkan konten audio bertema horor atau misteri sebagai pengganti musik. Banyak yang mengklaim bahwa narasi menyeramkan dan suasana mencekam dari sebuah cerita hantu jauh lebih efektif menjaga mata tetap terbuka dibandingkan lagu dengan tempo cepat sekalipun.

1. Lonjakan adrenalin

headunit mobil (pexels.com/M&W Studios)
headunit mobil (pexels.com/M&W Studios)

Secara biologis, rasa takut adalah salah satu pemicu paling kuat bagi tubuh untuk memproduksi adrenalin dan kortisol. Saat mendengarkan narasi horor yang mendalam, otak sering kali tidak bisa membedakan sepenuhnya antara ancaman nyata dan imajinasi. Ketika cerita mencapai puncak ketegangan, sistem saraf simpatik akan aktif, memicu respon fight or flight yang secara otomatis meningkatkan detak jantung dan mempercepat aliran oksigen ke otak.

Lonjakan hormon ini secara instan akan mengusir rasa kantuk karena tubuh dipaksa masuk ke dalam mode siaga penuh. Berbeda dengan musik yang bersifat repetitif dan bisa menjadi latar belakang yang membosankan (narkoleptik), cerita horor menuntut keterlibatan kognitif untuk mengikuti alur cerita. Rasa penasaran digabungkan dengan ketakutan menciptakan ketegangan mental yang menjaga kewaspadaan tetap tajam, sehingga pengemudi merasa lebih segar dan terjaga di tengah sepinya jalanan malam.

2. Keterlibatan imajinasi sebagai stimulan kognitif

ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)
ilustrasi sopir (pexels.com/UHGO)

Mendengarkan podcast horor memaksa otak untuk bekerja lebih aktif dalam memvisualisasikan adegan-adegan yang diceritakan. Proses pembentukan citra mental ini memerlukan daya komputasi otak yang lebih besar dibandingkan sekadar mendengarkan instrumen musik. Aktivitas kognitif yang intens inilah yang mencegah pikiran masuk ke dalam mode highway hypnosis atau kondisi autopilot yang berbahaya saat mengemudi di jalur yang monoton.

Ketegangan yang dibangun melalui desain suara seperti detak langkah kaki, derit pintu, atau bisikan misterius menciptakan simulasi lingkungan yang "berbahaya" bagi otak. Dalam kondisi ini, kantuk menjadi prioritas sekunder bagi tubuh karena naluri bertahan hidup lebih mendominasi. Fokus yang tadinya mulai memudar akan kembali terkumpul karena pikiran terus berusaha mengantisipasi "kejutan" atau jumpscare yang mungkin muncul dalam narasi tersebut, sehingga durasi perjalanan yang lama terasa lebih singkat.

3. Batas aman antara waspada dan distraksi berlebih

Ilustrasi sopir bus (Pexels/Lê Minh)
Ilustrasi sopir bus (Pexels/Lê Minh)

Meskipun efektif mengusir kantuk, metode ini memiliki risiko jika tidak disikapi dengan bijak. Rasa takut yang terlalu intens bagi sebagian orang justru bisa memicu kepanikan atau paranoia yang berlebihan di dalam kabin. Jika pengemudi menjadi terlalu fokus pada bayangan di spion tengah atau merasa tidak nyaman dengan kegelapan di luar jendela, konsentrasi pada kontrol kendaraan justru bisa terganggu. Keadaan emosional yang terlalu tidak stabil akibat cerita yang terlalu ekstrem dapat mengurangi akurasi manuver berkendara.

Oleh karena itu, pemilihan konten horor harus disesuaikan dengan ambang batas keberanian masing-masing individu. Tujuannya adalah untuk tetap waspada, bukan untuk membuat tangan gemetar di atas kemudi. Jika suara-suara latar dalam audio terdengar terlalu mirip dengan suara kerusakan mesin atau klakson kendaraan lain, sebaiknya volume diatur agar tidak menutupi suara lingkungan sekitar. Pada akhirnya, podcast horor hanyalah alat bantu sementara; jika tubuh sudah benar-benar mencapai titik lelah maksimal, berhenti sejenak di area istirahat tetap menjadi solusi paling aman dibandingkan terus memacu adrenalin di bawah bayang-bayang rasa takut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

AISI: Kredit Jadi Pilihan Utama Pembelian Motor sepanjang 2025

11 Jan 2026, 11:05 WIBAutomotive