Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri Penipuan Segitiga Saat Jual Beli Mobil, Waspada!

ilustrasi menjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi menjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya sih...
  • Komunikasi terputus dan rekayasa cerita
  • Rekening pembayaran bukan atas nama pemilik kendaraan
  • Tekanan waktu dan penolakan verifikasi fisik secara jujur
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia jual beli kendaraan bekas saat ini semakin rawan terhadap praktik kejahatan yang sangat rapi, salah satunya adalah penipuan segitiga. Modus ini melibatkan tiga pihak, yaitu penjual asli, pembeli asli, dan seorang penipu yang berpura-pura menjadi perantara atau pemilik sah kendaraan tersebut.

Ketidaktelitian dalam memverifikasi identitas dan aliran dana seringkali menjadi celah utama yang dimanfaatkan pelaku. Memahami pola kerja serta tanda-tanda peringatan sejak dini merupakan langkah krusial agar terhindar dari kerugian finansial yang besar saat melakukan transaksi otomotif.

1. Komunikasi yang terputus dan penuh rekayasa cerita

ilustrasi menjual mobil (freepik.com/freepik
ilustrasi menjual mobil (freepik.com/freepik

Ciri paling menonjol dari penipuan segitiga adalah upaya pelaku untuk memisahkan interaksi antara pemilik mobil sebenarnya dengan calon pembeli serius. Penipu biasanya akan memasang iklan ulang (kloning) dari iklan asli dengan harga yang jauh lebih murah untuk menarik minat. Kepada penjual asli, pelaku mengaku sebagai pembeli yang sangat sibuk dan mengatakan bahwa ada saudara atau rekan kerja yang akan datang mengecek unit.

Sebaliknya, kepada calon pembeli asli, pelaku mengaku sebagai pemilik mobil namun berpesan agar tidak membahas soal harga atau detail pembayaran di depan orang yang menjaga mobil tersebut. Alibi yang sering digunakan adalah "mobil sedang dititipkan di rumah kerabat" atau "pembayaran harus melalui pihak ketiga karena alasan pajak". Intimidasi psikologis berupa instruksi untuk diam inilah yang menjadi kunci agar kedua korban tidak saling berkoordinasi secara langsung.

2. Rekening pembayaran bukan atas nama pemilik kendaraan

ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Antoni Shkraba)
ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Antoni Shkraba)

Dalam skema ini, penipu akan berusaha sekuat tenaga agar uang pembayaran masuk ke rekening pribadi milik mereka, bukan ke rekening pemilik mobil yang namanya tercantum dalam BPKB atau STNK. Pelaku sering kali memberikan nomor rekening dengan alasan bahwa itu adalah rekening bendahara, keluarga, atau bagian keuangan perusahaan agar terlihat formal dan meyakinkan.

Kewaspadaan logis harus diutamakan di atas emosi saat melihat harga kendaraan yang sangat miring. Jika nama di Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) tidak sinkron dengan nama pemilik rekening tujuan transfer, maka transaksi tersebut wajib dihentikan seketika. Jangan pernah mentransfer dana sepeser pun sebelum melakukan verifikasi data identitas (KTP) yang dicocokkan langsung dengan dokumen asli kendaraan di hadapan pihak-pihak terkait.

3. Tekanan waktu dan penolakan untuk verifikasi fisik secara jujur

ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Penipu segitiga sangat mengandalkan manipulasi waktu agar calon korban tidak sempat berpikir jernih. Mereka biasanya akan menciptakan urgensi palsu, seperti mengklaim ada pembeli lain yang sudah siap mentransfer tanda jadi atau sedang membutuhkan uang mendesak untuk keperluan darurat. Tekanan ini bertujuan agar pembeli segera mengirimkan uang tanpa melakukan pengecekan mendalam terhadap keabsahan dokumen.

Selain itu, meskipun pelaku mengizinkan pemeriksaan fisik mobil, mereka akan menghindar untuk hadir secara langsung. Mereka hanya beroperasi di balik layar melalui telepon atau aplikasi pesan singkat. Jika penjual asli dan pembeli asli akhirnya bertemu, penipu akan terus memantau melalui telepon untuk memastikan instruksi agar tidak saling terbuka mengenai harga tetap dipatuhi. Kesadaran untuk selalu berbicara jujur mengenai mekanisme pembayaran saat bertemu di lokasi fisik adalah cara paling ampuh untuk meruntuhkan skenario penipuan ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

5 Aspek Penting yang Harus Dipahami Saat Membeli Mobil Listrik Bekas

17 Jan 2026, 14:05 WIBAutomotive