Kebiasaan Kecil di Kemacetan Ini Memperpendek Umur Rem

- Menginjak rem terus-menerus mempercepat ausnya kampas rem dan menumpuk panas, meningkatkan risiko brake fade.
- Gas dan rem bergantian tanpa jeda membuat kampas dan cakram bekerja tanpa pendinginan, menyebabkan keausan tidak merata.
- Menahan mobil di tanjakan pakai rem mempercepat degradasi material kampas, sebaiknya menggunakan rem tangan atau fitur hill assist.
Kemacetan adalah rutinitas pahit bagi banyak pengendara di kota besar. Kita terjebak dalam laju lambat, penuh klakson, dan kesabaran yang terus diuji. Di saat seperti itu, rem menjadi komponen yang paling sering “bekerja lembur”.
Sayangnya, banyak kebiasaan kecil saat macet yang tanpa sadar justru mempercepat ausnya rem. Dampaknya tidak langsung terasa hari itu juga, tapi pelan-pelan muncul dalam bentuk rem bunyi, pakem berkurang, sampai biaya servis yang membengkak. Mari bongkar satu per satu pemicunya.
1. Menginjak rem terus-menerus

Banyak pengendara refleks menginjak rem meski mobil hanya merayap satu-dua meter. Padahal, kebiasaan ini membuat kampas rem terus bergesekan dengan cakram. Gesekan kecil yang terjadi ribuan kali bisa mempercepat penipisan kampas.
Selain itu, rem yang terus ditekan membuat panas menumpuk. Panas berlebihan inilah musuh utama umur rem. Lama-lama, performanya menurun dan risiko brake fade meningkat.
2. Gas dan rem bergantian tanpa jeda

Fenomena gas-rem-gas-rem sangat umum di kemacetan. Begitu mobil di depan bergerak sedikit, gas langsung diinjak, lalu rem kembali ditekan. Pola ini terlihat sepele, tapi sangat melelahkan sistem pengereman.
Kampas dan cakram dipaksa bekerja tanpa waktu pendinginan. Akibatnya, keausan menjadi tidak merata. Dalam jangka panjang, getaran saat pengereman bisa muncul.
3. Menahan mobil di tanjakan pakai rem

Saat macet di tanjakan, banyak pengemudi menahan mobil hanya dengan rem. Ini membuat kampas terus tertekan ke cakram dalam kondisi panas. Kombinasi tekanan dan suhu mempercepat degradasi material kampas.
Padahal, rem tangan atau fitur hill assist jauh lebih ramah pada rem utama. Mengandalkan rem kaki terus-menerus di tanjakan sama saja memperpendek usia komponen vital ini.
4. Tidak memberi jarak aman

Jarak yang terlalu rapat memaksa pengemudi sering mengerem mendadak. Setiap pengereman ekstrem jelas lebih menguras rem dibanding pengereman halus. Semakin sering terjadi, semakin cepat ausnya.
Memberi jarak bukan cuma soal keselamatan. Ini juga strategi perawatan kendaraan yang murah dan efektif. Rem lebih awet karena dipakai secara lebih halus.
5. Rem dipakai untuk “main-main” saat macet

Ada juga kebiasaan mengetuk rem ringan berulang kali hanya untuk menjaga posisi. Sekilas terlihat tidak membahayakan, tapi gesekannya tetap nyata. Kampas tetap terkikis meski sedikit demi sedikit.
Lebih bijak membiarkan mobil menggelinding pelan dengan kontrol gas. Gunakan rem saat benar-benar perlu. Cara ini jauh lebih bersahabat bagi sistem pengereman.
Rem tidak rusak dalam sehari, tapi kebiasaan kecil di kemacetan bisa memperpendek umurnya secara perlahan. Yang terasa “aman” hari ini bisa berubah jadi tagihan mahal di bengkel esok hari. Kesadaran berkendara sangat menentukan nasib komponen kendaraan.
Mulailah dengan perubahan kecil: jaga jarak, kurangi injak-rem berlebihan, dan manfaatkan fitur yang ada. Rem yang lebih awet berarti perjalanan yang lebih aman. Dan tentu saja, dompet yang lebih tenang.


















