Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Jalan Pegunungan Bikin Pusing dan Mual?

Kenapa Jalan Pegunungan Bikin Pusing dan Mual?
ilustrasi tanjakan (unsplash.com/Stephen Cook)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mabuk perjalanan di jalur pegunungan terjadi karena konflik sensorik antara mata dan telinga bagian dalam yang membuat otak bingung dan memicu rasa mual.
  • Tikungan tajam dan gaya sentrifugal di jalan pegunungan menimbulkan tekanan fisik pada tubuh, mempercepat naiknya asam lambung, serta memperparah sensasi mual.
  • Perubahan tekanan udara di dataran tinggi mengganggu keseimbangan cairan telinga, menyebabkan telinga tersumbat, pusing, hingga meningkatkan risiko mabuk perjalanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Melakukan perjalanan melewati kawasan dataran tinggi atau pegunungan sering kali menyuguhkan pemandangan alam yang sangat memanjakan mata. Namun, di balik keindahan panorama tersebut, jalur yang berkelok-kelok dan menanjak sering kali menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar pelaku perjalanan karena dapat memicu rasa pusing yang hebat.

Kondisi tidak nyaman ini secara medis dikenal sebagai mabuk perjalanan atau motion sickness. Fenomena ini terjadi akibat adanya gangguan komunikasi sementara antara alat indra tubuh dengan otak, yang pada akhirnya memicu respons sistem pertahanan tubuh berupa rasa mual hingga muntah yang sangat mengganggu kenyamanan berkendara.

1. Konflik sensorik antara mata dan telinga bagian dalam

Ilustrasi tanjakan (Pexels/Kalei Engleman)
Ilustrasi tanjakan (Pexels/Kalei Engleman)

Penyebab utama munculnya rasa mual di jalur pegunungan adalah terjadinya ketidakselarasan informasi yang diterima oleh sistem saraf pusat manusia. Telinga bagian dalam, yang berfungsi sebagai pusat kendali keseimbangan tubuh, mendeteksi adanya pergerakan dinamis yang intens akibat mobil yang terus menikung, menanjak, dan menurun. Cairan di dalam telinga akan bergoyang secara konstan untuk mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh sedang bergerak bebas.

Di sisi lain, jika mata penumpang terlalu fokus menatap objek yang diam di dalam kabin mobil, seperti layar ponsel pintar atau buku bacaan, mata akan mengirimkan sinyal yang bertolak belakang ke otak. Otak menerima laporan dari mata bahwa tubuh sedang berada dalam kondisi diam tidak bergerak. Pertentangan sinyal antara mata yang melihat kondisi diam dan telinga yang merasakan pergerakan inilah yang membuat otak menjadi bingung, lalu mengaktifkan respons mual sebagai bentuk alarm bahaya.

2. Efek gaya sentrifugal akibat tikungan yang tajam

Ilustrasi tanjakan (Pexels/life._.kor)
Ilustrasi tanjakan (Pexels/life._.kor)

Faktor fisik dari kontur jalanan pegunungan itu sendiri turut memegang peranan besar dalam memperburuk kondisi fisik penumpang di dalam kendaraan. Jalur pegunungan umumnya didominasi oleh tikungan tajam berbentuk huruf s atau kelokan tajam yang memaksa mobil bergerak ke kanan dan ke kiri secara bergantian dalam waktu singkat. Pergerakan ini menghasilkan gaya sentrifugal yang secara alami mendorong tubuh penumpang ke arah luar tikungan.

Paparan gaya sentrifugal yang terjadi secara berulang-ulang dan terus-menerus ini akan memberikan tekanan fisik yang cukup besar pada area perut dan otot leher. Otot-otot tubuh dipaksa untuk bekerja lebih keras demi menjaga posisi duduk tetap tegak melawan gaya dorong mobil. Ketegangan fisik yang menumpuk pada otot perut, berpadu dengan guncangan kendaraan yang tidak stabil, akan mempercepat naiknya asam lambung menuju kerongkongan sehingga memicu sensasi mual yang kuat.

3. Perubahan tekanan udara di dataran tinggi

ilustrasi mobil di jalan tanjakan
ilustrasi mobil di jalan tanjakan (pexels.com/Harvey Tan Villarino)

Faktor lingkungan yang jarang disadari oleh banyak orang adalah adanya perubahan tekanan atmosfer seiring dengan bertambahnya ketinggian posisi kendaraan. Saat mobil bergerak naik menuju puncak pegunungan, tekanan udara di luar kendaraan akan mengalami penurunan secara signifikan. Perubahan tekanan udara yang terjadi secara mendadak ini dapat memengaruhi tekanan udara internal yang ada di dalam rongga telinga manusia.

Kondisi tersebut sering kali menyebabkan telinga terasa tersumbat atau berdengung selama beberapa saat sepanjang perjalanan naik. Gangguan tekanan pada sistem pendengaran ini secara langsung mengacaukan fungsi kerja cairan endolimfe yang bertugas menjaga keseimbangan tubuh di dalam telinga. Akibat fungsi keseimbangan yang terganggu oleh tekanan udara luar, tubuh menjadi lebih sensitif terhadap guncangan sekecil apa pun, yang kemudian berujung pada timbulnya rasa pusing kepala dan mual.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More