Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Truk Besar Sering Mengalami Kecelakaan Rem Blong?

Kenapa Truk Besar Sering Mengalami Kecelakaan Rem Blong?
Ilustrasi truk tanpa moncong sedang berbelok (pexels.com/Ben Johnson)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Kecelakaan truk di Simpang Unisma, Bekasi Timur menewaskan satu orang dan diduga disebabkan rem blong yang membuat sopir kehilangan kendali.
  • Panas ekstrem akibat gesekan berlebih dapat menyebabkan brake fading, menurunkan daya cengkeram kampas rem, hingga sistem hidrolik gagal bekerja optimal.
  • Kelalaian perawatan sistem udara serta praktik muatan berlebih memperparah risiko rem blong karena tekanan angin menurun dan beban kendaraan melebihi kapasitas aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kecelakan yang melibatkan truk kembali terjadi. Insiden terbaru terjadi di Simpang Unisma, Bekasi Timur, Senin (29/6/2026) pukul 08.30 WIB. Saat itu sebuah truk wing box menabrak sejumlah pengendara sepeda motor, mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa korban luka.

Dugaan sementara, kecelakaan maut itu terjadi karena truk mengalami rem blong, membuat sopir tak kuasa mengendalikan truk sehingga menabrak kendaraan lain. Kecelakaan maut ini menambah panjang daftar insiden yang melibatkan truk.

Lantas, kenapa truk seringkali mengalami rem blong?

1. Fenomena panas ekstrem pemicu rem blong akibat gaya gesek berlebih

Ilustrasi truk (Pexels/Enzo Varsi)
Ilustrasi truk (Pexels/Enzo Varsi)

Penyebab teknis pertama yang paling sering memicu terjadinya rem blong pada truk adalah munculnya fenomena brake fading akibat panas yang ekstrem. Truk yang melaju di jalur perbukitan yang panjang dan menurun tajam akan memaksa sistem pengereman bekerja ekstra keras menahan laju sasis kendaraan. Ketika pengemudi terus-menerus menginjak pedal rem, gesekan antara kampas dan tromol atau cakram roda akan menghasilkan energi panas yang sangat luar biasa.

Suhu tinggi yang melampaui batas toleransi material tersebut akan membuat koefisien gesek kampas rem menurun drastis hingga kehilangan daya cengkeramnya secara instan. Pada sistem rem hidrolik, panas ekstrem ini juga dapat membuat minyak rem mendidih dan menciptakan gelembung udara palsu di dalam saluran pipa sasis. Udara palsu tersebut bersifat kompresibel, sehingga saat pedal rem diinjak secara penuh, tekanan tidak akan pernah sampai ke kaliper roda.

2. Kelalaian pemeliharaan sistem angin dan sirkulasi udara kompresor

ilustrasi truk tanpa moncong (pexels.com/Mert Dinçer)
ilustrasi truk tanpa moncong (pexels.com/Mert Dinçer)

Sebagian besar truk berukuran besar di era modern saat ini sudah mengadopsi sistem pengereman berbasis tekanan udara atau full air brake. Sistem ini sangat bergantung pada pasokan angin bertekanan tinggi yang diproduksi oleh kompresor mesin untuk mendorong mekanisme kampas rem. Kebocoran sekecil apa pun pada selang karet sirkulasi udara atau tangki penyimpanan angin akan langsung menurunkan performa daya pengereman secara signifikan.

Kelalaian dalam membuang kadar air yang mengendap di dalam tangki udara juga sering kali menjadi pemicu utama kegagalan mekanis kompresor. Air yang bercampur ke dalam sistem dapat memicu korosi internal atau menyumbat katup pengatur udara, sehingga tekanan angin tidak dapat tercapai secara maksimal. Ketika pasokan udara berada di bawah batas aman, sistem pengereman otomatis akan gagal beroperasi dan membuat truk meluncur tanpa kendali di jalanan.

3. Praktik muatan berlebih yang merusak kalkulasi daya tampung sasis

Ilustrasi truk bermoncong di jalanan yang padat (pexels.com/David Brown)
Ilustrasi truk bermoncong di jalanan yang padat (pexels.com/David Brown)

Faktor nonteknis yang memperparah risiko terjadinya rem blong adalah maraknya praktik pelanggaran muatan berlebih atau overdimension overloading. Setiap truk yang diproduksi oleh pabrikan sudah dibekali dengan spesifikasi batas maksimal berat beban aman yang mampu ditampung oleh sasis dan sistem pengereman. Ketika truk dipaksa mengangkut muatan yang melampaui kapasitas reguler tersebut, momentum inersia kendaraan akan melonjak berkali-kali lipat lebih besar.

Beban kinetik yang terlampau raksasa ini membuat jarak pengereman menjadi semakin panjang dan memaksa komponen rem bekerja melampaui desain mekanis awalnya. Kampas rem akan menjadi jauh lebih cepat aus, menipis, dan mengalami kerusakan struktural dalam durasi perjalanan yang relatif sangat singkat. Pengawasan ketat terhadap tonase muatan menjadi kunci mutlak yang tidak boleh diabaikan demi menyelamatkan sasis kendaraan dan nyawa pengguna jalan lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More