Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mabuk Kendaraan karena Posisi Duduk atau Bawaan Genetik?
Ilustrasi wantia naik mobil (freepik.com/freepik)
  • Mabuk kendaraan terjadi karena ketidaksesuaian sinyal antara mata dan telinga bagian dalam, terutama saat posisi duduk tidak mendukung sinkronisasi gerakan tubuh dengan pandangan.
  • Faktor genetik berperan besar dalam menentukan sensitivitas seseorang terhadap motion sickness, di mana varian gen tertentu membuat sebagian orang lebih rentan mengalami mual.
  • Penanganan efektif memerlukan kombinasi pengaturan posisi duduk, sirkulasi udara yang baik, serta dukungan medis seperti obat antimoal atau terapi desensitisasi bagi yang memiliki faktor genetik kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mabuk kendaraan atau motion sickness merupakan fenomena gangguan keseimbangan yang sering mengganggu kenyamanan selama perjalanan darat, laut, maupun udara. Gejala seperti pusing, mual, hingga muntah muncul akibat adanya ketidakselarasan informasi yang diterima oleh otak dari mata dan telinga bagian dalam.

Meskipun terlihat sebagai gangguan yang umum, penyebab utama di balik kondisi ini sering kali menjadi perdebatan antara faktor lingkungan dan faktor biologis. Memahami apakah mabuk perjalanan disebabkan oleh posisi duduk yang salah atau merupakan warisan genetik adalah langkah penting untuk menemukan solusi penanganan yang paling efektif bagi setiap individu.

1. Ketidakseimbangan sensorik akibat posisi duduk yang salah

ilustrasi naik mobil pribadi (unsplash.com/Andraz Lazic)

Posisi duduk di dalam kendaraan memegang peranan krusial dalam menentukan bagaimana otak memproses pergerakan. Saat seseorang duduk di kursi belakang sambil membaca buku atau menatap layar ponsel, mata akan terfokus pada objek statis di dalam kabin, sementara telinga bagian dalam merasakan guncangan dan percepatan kendaraan. Ketidaksesuaian sinyal ini membuat otak mengalami kebingungan sensorik yang memicu pelepasan neurotransmiter penyebab mual.

Duduk menghadap ke belakang atau berada di baris paling belakang—di mana guncangan paling terasa—sering kali memperparah kondisi tersebut. Posisi terbaik untuk meminimalisir mabuk kendaraan adalah duduk di kursi depan atau tempat yang memungkinkan mata memandang jauh ke arah cakrawala. Dengan melihat ke arah laju kendaraan, mata dapat mengonfirmasi pergerakan yang dirasakan oleh tubuh, sehingga sinkronisasi informasi sensorik terjaga dan ambang batas mual tidak mudah tercapai.

2. Pengaruh faktor genetik terhadap sensitivitas keseimbangan

Ilustrasi wanita memandang ke jendela mobil (freepik.com/freepik)

Penelitian medis modern menunjukkan bahwa mabuk kendaraan bukan sekadar masalah posisi duduk, melainkan juga terkait erat dengan faktor keturunan. Sebuah studi genomik berskala besar telah mengidentifikasi adanya varian genetik tertentu yang berhubungan dengan sensitivitas seseorang terhadap motion sickness. Gen yang memengaruhi perkembangan telinga bagian dalam dan cara otak memproses sinyal keseimbangan dapat membuat seseorang jauh lebih rentan mengalami mual dibandingkan orang lain.

Individu dengan riwayat keluarga yang sering mabuk perjalanan cenderung memiliki sistem saraf pusat yang lebih reaktif terhadap konflik sensorik. Faktor genetik ini menjelaskan mengapa ada orang yang tetap merasa mual meskipun sudah duduk di posisi paling stabil atau tidak melakukan aktivitas yang memicu pusing. Bagi kelompok ini, mabuk kendaraan adalah kondisi biologis bawaan yang membuat ambang batas toleransi mereka terhadap gerakan kinetik menjadi lebih rendah sejak lahir.

3. Sinergi antara pencegahan fisik dan penanganan biologis

ilustrasi jendela mobil (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Mengatasi mabuk kendaraan memerlukan pendekatan kombinasi antara pengaturan posisi fisik dan bantuan medis jika diperlukan. Bagi mereka yang hanya mengalami mual sesekali, memperbaiki posisi duduk dan memastikan sirkulasi udara di dalam kabin tetap terjaga biasanya .sudah cukup untuk meredakan gejala. Menghindari perut kosong atau makan terlalu kenyang sebelum perjalanan juga membantu menjaga stabilitas sistem pencernaan saat menghadapi guncangan.

Namun, bagi mereka yang memiliki kecenderungan genetik yang kuat, pengaturan posisi duduk saja mungkin tidak akan memberikan hasil maksimal. Penggunaan obat-obatan antimoal atau terapi desensitisasi melalui latihan keseimbangan secara rutin dapat membantu melatih otak agar lebih toleran terhadap konflik sensorik. Dengan memahami akar penyebabnya—apakah karena kebiasaan duduk atau faktor biologis—perjalanan jauh tidak lagi menjadi momen yang menakutkan, melainkan pengalaman yang dapat dinikmati dengan penuh kenyamanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team