Mau Konversi Mobil Bensin ke BBG? Simak Untung Ruginya Dulu

Jakarta, IDN Times - Konversi mobil bensin ke bahan bakar gas (BBG) mulai kembali dilirik di tengah harga BBM yang terus meningkat. Dengan biaya operasional yang diklaim jauh lebih murah, teknologi ini dianggap menjadi salah satu alternatif untuk menekan pengeluaran harian kendaraan.
Namun di balik potensi penghematan tersebut, pengguna juga harus siap menghadapi sejumlah konsekuensi, mulai dari penurunan performa hingga keterbatasan infrastruktur SPBG.
Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, menilai penggunaan BBG memang bisa sangat menguntungkan, tetapi tidak cocok untuk semua pengguna kendaraan.
1. Penghematan jadi daya tarik utama

Salah satu alasan utama konversi BBG mulai diminati adalah efisiensi biaya bahan bakar. Andy menyebut penggunaan BBG bisa memangkas pengeluaran hingga lebih dari separuh dibanding bensin.
“Sekitar 55 persen lebih hemat dari sisi biaya,” ujar Andy, Selasa (5/5/2026).
Saat ini, harga BBG berada di kisaran Rp4.500 per liter setara BBM. Menurut dia, selisih harga itu terasa signifikan bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
“Biasanya kalau saya naik Hyundai H1, Rp100 ribu ke Bandung. Kalau pakai Ertiga yang sudah dikonversi BBG, sekitar Rp50 ribu ke Bandung,” tambah dia.
2. Tidak semua mobil cocok pakai BBG

Meski lebih hemat, Andy mengingatkan bahwa BBG paling ideal digunakan pada mesin dengan kompresi tinggi. Pada mobil dengan kompresi rendah, pembakaran gas disebut tidak selalu optimal.
“BBG itu paling cocok untuk unit kompresi tinggi. Kalau di mobil lama, pembakarannya kadang nggak maksimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan tenaga sekitar 10–20 persen, terutama saat kendaraan digunakan di tanjakan atau membawa beban berat.
Meski demikian, untuk penggunaan harian di area perkotaan, perbedaan performa dinilai tidak terlalu terasa.
“Kalau di perkotaan cocok banget, karena kita stop and go doang,” kata Andy.
3. Pengguna harus siap ubah kebiasaan

Selain soal performa, pengguna BBG juga harus beradaptasi dengan ketersediaan SPBG yang masih terbatas. Saat ini, jumlah SPBG aktif di Jakarta disebut baru sekitar sembilan titik.
Menurut Andy, pengguna BBG juga harus memahami pola antrean dan waktu pengisian agar penggunaan kendaraan tetap efisien.
“Kalau mau pakai BBG memang harus menyesuaikan pola isi bahan bakar dan tahu jam-jam SPBG kosong,” jelas dia.
Ia bahkan menyebut pengguna BBG sebagai kelompok yang “militan” karena harus mengubah pola berkendara dan kebiasaan sehari-hari.
“Buat saya, yang pakai BBG itu orang-orang hebat. Karena memang harus siap berubah,” kata Andy.
Dengan berbagai plus minus tersebut, konversi BBG dinilai paling cocok bagi pengguna kendaraan dengan mobilitas tinggi yang ingin menekan biaya operasional dan siap beradaptasi dengan karakter penggunaan bahan bakar gas.

















