Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Study Ini Mengungkap Kecepatan Mobil yang bisa Memicu Aquaplaning

Study Ini Mengungkap Kecepatan Mobil yang bisa Memicu Aquaplaning
ilustrasi melintasi genangan (pexels.com/Erik Mclean)
Intinya Sih
  • Studi Universitas Teknologi Chalmers menemukan bahwa aquaplaning bisa terjadi pada kecepatan 75–80 km/jam, bahkan dengan genangan air setipis 2–3 milimeter di permukaan jalan.
  • Ketika kecepatan melewati batas kritis, alur kembangan ban gagal mengalirkan air sehingga terbentuk baji air bertekanan tinggi yang mengangkat ban dari aspal.
  • Saat ban terangkat, koefisien gesek menjadi nol dan kendaraan kehilangan kendali total karena sistem kemudi serta rem tidak lagi berfungsi efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Berkendara di tengah guyuran hujan lebat menuntut tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi daripada kondisi cuaca cerah. Salah satu ancaman paling menakutkan yang sering kali diabaikan oleh para pengemudi adalah fenomena kehilangan kendali akibat genangan air.

Fenomena yang dikenal dengan istilah aquaplaning atau hydroplaning ini sering kali terjadi secara mendadak tanpa ada tanda peringatan awal. Universitas teknologi chalmers di Swedia telah melakukan studi mendalam guna menguak batasan fisik mekanika fluida yang memicu kondisi berbahaya ini.

1. Batas kecepatan minimal dan ketebalan genangan air pemicu melayangnya ban

ilustrasi genangan air
ilustrasi genangan air (pexels.com/Roman Castillo)

Tim peneliti dari universitas teknologi chalmers memfokuskan studi mereka untuk mengukur batas kritis kecepatan kendaraan dan volume air di jalan raya. Melalui serangkaian pengujian mekanika fluida yang ketat, ditemukan bahwa bahaya besar sudah mengintai pada kecepatan yang relatif rendah. Batas kecepatan minimal yang dapat membuat ban mulai kehilangan kontak dengan aspal berada pada kisaran 75 hingga 80 kilometer per jam.

Hal yang paling mengejutkan dari hasil studi ini adalah kedalaman genangan air yang dibutuhkan ternyata sangat tipis. Genangan air dengan kedalaman hanya 2 hingga 3 milimeter saja sudah lebih dari cukup untuk memicu hilangnya cengkeraman roda secara total. Kondisi ini membuktikan bahwa jalanan yang terlihat hanya basah atau memiliki riak air tipis tetap menyimpan potensi kecelakaan yang sangat besar.

2. Kegagalan fungsi alur kembangan dan terciptanya efek baji air di depan roda

ilustrasi genangan air
ilustrasi genangan air (unsplash.com/Nandish Jha)

Ketika kendaraan melaju melebihi batas kecepatan kritis tersebut, alur kembangan atau groove pada permukaan ban akan mengalami gagal fungsi. Tugas utama alur ban untuk membuang dan mengalirkan air keluar ke sisi samping tidak dapat lagi berjalan dengan optimal karena keterbatasan waktu evakuasi cairan. Volume air yang datang terlalu cepat tidak mampu dialirkan seluruhnya oleh desain kembangan ban standar.

Akibat dari kegagalan evakuasi ini, akumulasi air yang terjebak di area depan ban akan membentuk sebuah formasi baji air atau water wedge. Baji air bertekanan tinggi ini secara mekanis akan menyusup ke bawah permukaan karet ban dan bertindak layaknya sebuah dongkrak hidrolik tak terlihat. Tekanan fluida tersebut secara perlahan namun pasti akan mengangkat ban sepenuhnya dari permukaan aspal jalan raya.

3. Hilangnya koefisien gesek secara matematis dan kelumpuhan total fungsi kemudi

Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif
Ilustrasi setir mobil yang kurang responsif (freepik.com/diana.grytsku)

3. Hilangnya koefisien gesek secara matematis dan kelumpuhan total fungsi kemudiKesimpulan utama dari studi universitas teknologi chalmers menyatakan bahwa saat ban terangkat, koefisien gesek antara karet dan aspal berubah menjadi nol. Secara matematis, kondisi nilai gesek yang menyentuh angka nol ini berarti kendaraan benar-benar sedang melayang di atas permukaan air. Mobil atau sepeda motor yang mengalami situasi ini sudah tidak lagi menapak pada bumi selama beberapa detik krusial.

Ketiadaan gaya gesek ini berakibat pada hilangnya fungsi sistem kemudi dan pedal rem secara total pada kendaraan. Memutar setir ke kanan atau ke kiri sama sekali tidak akan mengubah arah laju kendaraan, begitu pula dengan menginjak pedal rem secara mendalam. Pemahaman terhadap batas fisik ini sangat penting agar setiap pengendara selalu menurunkan kecepatan di bawah 75 kilometer per jam saat melewati jalanan yang basah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More