Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Terobosan Baterai Aluminium untuk Mobil Listrik, Lebih Tahan Dingin!

Terobosan Baterai Aluminium untuk Mobil Listrik, Lebih Tahan Dingin!
Pengujian baterai aluminium di mobil listrik (Carnewschina)
Intinya sih...
  • Baterai aluminium tahan suhu –25 derajat celsius, efisiensi pelepasan energi di atas 92 persen
  • Teknologi anoda aluminium meningkatkan mobilitas ion dan menjaga kepadatan energi pada suhu rendah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Selama ini salah satu kelemahan terbesar mobil listrik adalah suhu dingin. Saat temperatur turun drastis, kapasitas baterai ikut anjlok dan waktu pengisian bisa berlipat ganda. Oleh karena itu, mobil listrik sering dianggap kurang cocok untuk negara bersalju ekstrem.

Namun riset terbaru dari China menunjukkan arah berbeda. Para peneliti berhasil menguji baterai berbasis aluminium di kondisi musim dingin ekstrem dan hasilnya justru mendekati performa normal.

1. Tetap efisien meski suhu –25 derajat celsius

Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)
Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)

Melansir Carnewschina, tim riset dari Chinese Academy of Sciences melakukan pengujian lapangan di Heilongjiang, salah satu wilayah terdingin di China. Baterai dipasang pada mobil produksi dan didiamkan selama 24 jam pada suhu –25 derajat celsius sebelum dipakai berkendara.

Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam penggunaan kota nyata, baterai masih mempertahankan efisiensi pelepasan energi di atas 92 persen. Selain itu, baterai mampu mencapai 90 persen kapasitas hanya dalam sekitar 20 menit pengisian meski temperatur di bawah nol.

2. Rahasianya ada pada anoda aluminium

ilustrasi baterai mobil listrik (wuling.id)
ilustrasi baterai mobil listrik (wuling.id)

Teknologi ini memakai elektroda negatif berbasis aluminium yang dimodifikasi paduan logam. Tujuannya meningkatkan mobilitas ion dan menjaga kepadatan energi pada suhu rendah.

Secara teori, baterai mampu bekerja stabil dari –70 derajat celsius sampai +80 derajat celsius. Sistem manajemen termalnya juga bisa membuang panas saat pengisian tanpa perlu pemanas tambahan.

Dengan kata lain, baterai tidak lagi terlalu bergantung pada pemanas internal yang selama ini justru menguras energi saat musim dingin.

3. Bukan eksperimen lab, sudah diuji di mobil produksi

ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)
ilustrasi stasiun pengisian baterai mobil listrik (pexels.com/philippe weickmann)

Menariknya, pengujian tidak dilakukan pada prototipe tertutup. Baterai dipasang di SUV listrik produksi massal yang dipasarkan global, lalu digunakan pada siklus berkendara nyata.

Langkah ini penting karena banyak teknologi baterai hanya berhasil di laboratorium. Pengujian jalan menunjukkan sensor suhu dan performa tetap berada dalam batas aman sepanjang percobaan.

Jika pengembangan berlanjut, teknologi ini berpotensi membuka pasar EV di wilayah dingin ekstrem dari Eropa Utara hingga Kanada, yang selama ini masih skeptis terhadap mobil listrik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Apa Saja yang Dicek Saat Servis Motor Listrik? Ini Uraiannya

19 Feb 2026, 12:45 WIBAutomotive