Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Membonceng Motor Terasa Lebih Melelahkan Daripada Menyetir
ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Rendi iD)
  • Boncenger lebih cepat lelah karena tubuhnya harus bereaksi terlambat terhadap manuver motor, membuat otot inti bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan.
  • Minimnya titik tumpuan membuat penumpang menahan posisi dengan otot perut dan punggung secara konstan, memicu ketegangan dan pegal berkepanjangan.
  • Tingkat stres meningkat karena boncenger tidak mengendalikan motor, sehingga rasa waspada berlebih memicu kelelahan mental dan fisik setelah perjalanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang yang duduk di belakang motor sering cepat capek. Badannya harus kerja keras supaya tidak jatuh waktu motor belok atau ngerem. Ototnya jadi tegang terus karena susah pegang yang kuat. Kadang juga takut di jalan, jadi makin lelah. Pengendara tahu arah motor, tapi penumpang cuma bisa ikut saja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melakukan perjalanan jauh atau turing dengan sepeda motor sering kali menyisakan rasa lelah yang luar biasa pada tubuh. Uniknya, keluhan rasa capek yang ekstrem ini justru lebih sering datang dari seseorang yang duduk di jok belakang atau boncenger. Banyak orang heran mengapa menjadi penumpang motor terasa lebih menguras tenaga, padahal tugas mengendalikan setang dan menjaga arah laju sepenuhnya dipikul oleh pengendara.

Secara logika, orang yang hanya duduk diam tanpa beban pikiran mengemudi seharusnya terhindar dari kelelahan yang berat. Namun, karakteristik posisi duduk dan dinamika pergerakan di atas roda dua menciptakan kondisi fisik yang berbeda bagi penumpang. Ada faktor fisiologis dan psikologis tersembunyi yang membuat tubuh seorang boncenger harus bekerja ekstra keras sepanjang perjalanan.

1. Antisipasi gerakan tubuh yang terlambat terhadap dinamika motor

ilustrasi naik motor berboncengan (pexels.com/mehrajul Karim)

Perbedaan utama antara pengendara dan boncenger terletak pada kendali penuh terhadap setiap pergerakan sepeda motor. Seorang pengendara sudah mengetahui dengan pasti kapan akan menarik gas, melakukan pengereman, atau memiringkan motor di tikungan tajam. Kesadaran ini membuat otak pengendara bisa memerintahkan otot tubuhnya untuk bersiap menghadapi guncangan sesaat sebelum manuver terjadi.

Sebaliknya, boncenger tidak memiliki kendali tersebut dan hanya bisa merespons gerakan motor secara reaktif setelah manuver dimulai. Ketika motor mengerem mendadak atau berbelok, tubuh boncenger akan terlempar atau terdorong secara tiba-tiba sebelum sempat bersiap. Keterlambatan respons ini memaksa otot-otot inti bekerja dua kali lebih keras dengan refleks yang mengejutkan demi menjaga tubuh agar tidak terjatuh dari motor.

2. Ketegangan otot yang konstan akibat minimnya titik tumpuan

ilustrasi naik motor (pexels.com/Nimit N)

Posisi berkendara seorang pengemudi motor didukung oleh posisi tangan yang memegang erat kemudi dan kaki yang menapak kokoh pada pijakan. Titik-titik tumpuan yang solid ini membantu mendistribusikan beban tubuh secara merata saat menghadapi guncangan jalanan. Sementara itu, boncenger memiliki keterbatasan pegangan yang membuat posisi duduk menjadi kurang stabil selama perjalanan berlangsung.

Ketiadaan pegangan depan yang kokoh membuat boncenger harus mengandalkan kekuatan otot perut, punggung, dan paha untuk menahan hempasan angin kencang. Otot-otot tersebut dipaksa berada dalam kondisi tegang secara terus-menerus tanpa ada jeda untuk berelaksasi. Penumpukan asam laktat akibat ketegangan statis yang berlangsung berjam-jam inilah yang memicu rasa pegal dan kaku yang luar biasa di area pinggang hingga leher.

3. Tingkat stres psikologis akibat ketidakpastian di atas jalan

ilustrasi naik motor tanpa helm (pexels.com/Maksim Romashkin)

Faktor lain yang tidak kalah penting dalam menguras energi seorang penumpang adalah beban mental atau stres psikologis. Duduk di belakang berarti menyerahkan keselamatan jiwa sepenuhnya kepada keterampilan dan konsentrasi orang yang mengemudikan motor. Rasa khawatir terselubung terhadap potensi bahaya di jalan raya, seperti kendaraan lain yang melintas dekat atau jalanan licin, memicu tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Kondisi psikologis yang selalu waspada dan tegang ini merangsang tubuh untuk memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Hormon stres ini membuat detak jantung meningkat dan memaksa sistem saraf bekerja lebih aktif sepanjang waktu pelesiran. Kelelahan mental akibat kecemasan yang terakumulasi tersebut pada akhirnya akan bermanifestasi menjadi rasa letih dan lesu yang sangat berat ketika sampai di tempat tujuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article