Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Masih Ada yang Menggunakan Air Biasa untuk Radiator Mobil?

Kenapa Masih Ada yang Menggunakan Air Biasa untuk Radiator Mobil?
Ilustrasi radiator mobil (hyundai.com)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Banyak pemilik mobil masih memakai air biasa untuk radiator karena faktor kebiasaan dan biaya, meski pabrikan kini merekomendasikan coolant demi menjaga suhu dan komponen mesin.
  • Air memang cepat menyerap panas, tapi tidak stabil di suhu tinggi serta tak punya zat antikarat, sedangkan coolant dirancang dengan aditif khusus agar lebih tahan panas dan mencegah korosi.
  • Pemakaian air biasa bisa menimbulkan kerak dan korosi yang berujung biaya servis mahal, sehingga coolant tetap disarankan sebagai cairan pendingin utama sesuai rekomendasi pabrikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Meski radiator coolant sudah menjadi rekomendasi hampir seluruh pabrikan mobil, masih ada pemilik kendaraan yang memilih mengisi radiator dengan air biasa.

Alasannya beragam, mulai dari faktor biaya, kebiasaan sejak era mobil lawas, hingga anggapan bahwa air lebih ampuh mendinginkan mesin.

Padahal, perkembangan teknologi mesin membuat kebutuhan sistem pendingin juga berubah. Jika dulu air masih dianggap cukup, kini sebagian besar pabrikan menyarankan penggunaan coolant karena mampu menjaga suhu kerja mesin sekaligus melindungi komponen pendingin dari kerusakan.

1. Kebiasaan lama masih terbawa hingga sekarang

ilustrasi mengecek air radiator mobil (freepik.com/jcomp)
ilustrasi mengecek air radiator mobil (freepik.com/jcomp)

Mengutip beberapa sumber, banyak pemilik mobil yang sudah terbiasa menggunakan air sejak kendaraan generasi lama. Selain mudah didapat, air juga praktis digunakan ketika cairan radiator berkurang di tengah perjalanan.

Namun, menurut Suzuki Indonesia, air biasa memiliki beberapa kelemahan, seperti titik didih yang lebih rendah sehingga lebih mudah menguap ketika temperatur mesin meningkat.

Air juga tidak memiliki zat antikarat maupun anti-korosi yang dibutuhkan sistem pendingin mobil modern.

Hal senada juga dijelaskan Auto2000. Bengkel resmi Toyota tersebut menyebut penggunaan air biasa tidak disarankan sebagai cairan radiator harian karena tidak mampu memberikan perlindungan terhadap komponen pendingin seperti radiator, water pump, dan saluran pendingin.

2. Banyak yang mengira air lebih cepat mendinginkan mesin

ilustrasi radiator coolant
ilustrasi radiator coolant (pexels.com/yangphoto)

Anggapan ini sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Secara ilmiah, air memang memiliki kapasitas panas (specific heat capacity) yang tinggi sehingga mampu menyerap panas dengan sangat baik.

Namun, menurut berbagai literatur teknik perpindahan panas, kemampuan pendinginan sistem kendaraan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyerap panas, tetapi juga kestabilan cairan ketika bekerja pada suhu dan tekanan tinggi.

Karena itu, radiator coolant dibuat dari campuran air demineralisasi dengan ethylene glycol atau propylene glycol serta berbagai aditif yang membuat titik didihnya lebih tinggi dan tidak mudah membentuk kerak maupun korosi.

Suzuki Indonesia juga menjelaskan coolant mampu menjaga suhu mesin tetap stabil sekaligus melindungi komponen logam pada sistem pendingin.

3. Penghematan kecil bisa berujung biaya servis lebih besar

Ilustrasi radiator
Ilustrasi radiator (pexels.com/pungky Ardi sasono)

Menggunakan air biasa memang terasa lebih hemat karena tidak perlu membeli coolant. Namun, dalam jangka panjang risikonya justru lebih mahal.

Air keran mengandung mineral yang dapat meninggalkan endapan pada saluran pendingin. Kerak tersebut berpotensi menghambat sirkulasi cairan sehingga kemampuan radiator membuang panas ikut menurun.

Selain itu, Auto2000 menjelaskan coolant mengandung aditif antikarat dan anti-korosi yang membantu memperpanjang usia radiator, water pump, thermostat, hingga blok mesin. Tanpa perlindungan tersebut, risiko korosi dan kebocoran pada sistem pendingin akan meningkat.

Karena itu, penggunaan air biasa sebaiknya hanya menjadi solusi darurat. Setelah sampai di bengkel atau menemukan coolant, cairan tersebut sebaiknya segera diganti sesuai rekomendasi pabrikan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More