Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Helm Mahal Ternyata Tidak Menjamin Kedap Suara
ilustrasi helm motor (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
  • Penelitian University of Bath mengungkap bahwa helm mahal tidak menjamin kabin senyap, karena semua jenis helm tetap menghasilkan kebisingan tinggi di atas 80 km/jam.
  • Tingkat kebisingan di dalam helm mencapai 95–105 dB, setara suara gergaji mesin, yang berpotensi menyebabkan stres akustik dan gangguan pendengaran jangka panjang.
  • Studi menegaskan solusi efektif mencegah risiko tuli permanen adalah penggunaan earplug, yang mampu menurunkan kebisingan hingga batas aman di bawah 85 dB.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang beli helm mahal karena pikir bisa bikin suara motor jadi tenang. Tapi peneliti dari Inggris bilang semua helm tetap berisik kalau motor kencang. Suaranya bisa keras banget sampai bikin telinga sakit. Helm mahal dan murah sama saja soal itu. Supaya aman, orang disuruh pakai sumbat telinga biar tidak tuli.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Temuan ilmiah dalam artikel ini menghadirkan sisi positif karena memberikan pemahaman baru yang berbasis data tentang keselamatan pendengaran pengendara. Dengan membuktikan bahwa harga helm tidak menentukan tingkat keheningan, riset ini justru membuka peluang bagi semua kalangan untuk melindungi telinga secara efektif melalui solusi sederhana, terjangkau, dan terbukti ilmiah seperti penggunaan sumbat telinga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pengendara sepeda motor rela merogoh kocek hingga belasan juta rupiah demi mendapatkan helm premium dari merek ternama. Alasan di balik keputusan tersebut tidak hanya demi gengsi atau perlindungan benturan yang maksimal, melainkan juga karena adanya ekspektasi tinggi terhadap kenyamanan akustik. Sebagian besar orang percaya bahwa harga mahal yang dibayarkan berbanding lurus dengan kemampuan helm dalam meredam suara bising dari luar.

Namun, anggapan mengenai kabin helm yang senyap berkat label harga premium tersebut ternyata hanyalah sebuah mitos belaka. Sebuah studi laboratorium yang mendalam berhasil mengungkap fakta mengejutkan mengenai kinerja peredaman suara pada pelindung kepala ini. Desain aerodinamis yang canggih dan material premium sekalipun ternyata tidak berdaya menghadapi hantaman angin kencang saat motor melaju pada kecepatan tinggi.

1. Temuan ilmiah mengenai tingkat kebisingan di dalam cangkang helm

Ilustrasi wanita memakai helm (freepik.com/freepik)

Sebuah riset komprehensif berjudul Acoustic Performance of Motorcycle Helmets, yang salah satunya dilakukan oleh University of Bath di Inggris, membedah performa akustik dari berbagai jenis pelindung kepala. Dalam pengujian tersebut, para peneliti memasang mikrofon khusus di dalam kabin helm untuk mengukur tingkat kebisingan saat berkendara. Hasil dari studi laboratorium ini membuktikan bahwa pada kecepatan di atas 80 km/jam, semua jenis helm tetap menghasilkan wind noise atau suara gemuruh angin yang sangat tinggi.

Tingkat kebisingan yang tercatat di dalam cangkang pelindung tersebut berada di antara 95 hingga 105 desibel (dB). Kejutan terbesarnya adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil redaman dari helm berharga murah dengan helm premium yang berharga fantastis. Suara gemuruh ini tercipta akibat turbulensi udara yang menghantam celah-celah kecil, seperti area visor, lubang ventilasi, serta bagian bawah helm yang berbatasan dengan leher pengendara.

2. Bahaya terselubung gemuruh angin yang setara gergaji mesin

ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Secara medis, batas aman pendengaran manusia terhadap paparan suara dalam jangka waktu lama adalah sebesar 85 dB. Angka kebisingan angin di dalam kabin helm yang menyentuh 105 dB sudah masuk ke dalam kategori zona berbahaya untuk kesehatan telinga. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, intensitas suara gemuruh angin pada kecepatan tinggi di dalam helm tersebut secara ilmiah setara dengan posisi seseorang yang berdiri tepat di samping mesin gergaji kayu yang sedang menyala.

Paparan konstan dari suara sekencang ini saat melakukan perjalanan jarak jauh atau touring dapat memicu kerusakan serius pada sel-sel rambut halus di dalam telinga. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kelelahan mental yang cepat akibat stres akustik, tetapi juga memicu gangguan pendengaran jangka panjang. Banyak pengendara yang tidak menyadari bahwa gejala telinga berdengung (tinnitus) seusai berkendara adalah tanda awal dari kerusakan sistem pendengaran.

3. Sumbat telinga sebagai solusi mutlak pencegahan tuli permanen

ilustrasi wireless earbuds (unsplash.com/Andrey Matveev)

Berdasarkan hasil analisis data tersebut, studi dari University of Bath menyimpulkan bahwa merek atau harga helm bukanlah penentu keselamatan pendengaran. Satu-satunya solusi ilmiah yang terbukti efektif untuk mencegah risiko tuli permanen akibat berkendara jarak jauh adalah dengan menggunakan penyumbat telinga (earplug). Alat pelindung diri yang kecil dan murah ini dirancang khusus untuk meredam frekuensi tinggi dari angin tanpa menghilangkan suara penting di jalan raya.

Penggunaan earplug yang tepat mampu menurunkan tingkat kebisingan di dalam cangkang pelindung hingga ke batas aman di bawah 85 dB. Dengan mengombinasikan pelindung kepala yang kokoh dan penyumbat telinga yang tepat, pengendara dapat memperoleh perlindungan ganda. Langkah sederhana ini jauh lebih efektif dalam menjaga kesehatan pendengaran seumur hidup dibandingkan dengan sekadar mengandalkan klaim keheningan dari helm berharga mahal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article