Kenapa Helm Harus Diganti Setiap 5 Tahun Meski Masih Terlihat Bagus?

Helm sering kali dianggap sebagai perlengkapan yang memiliki masa pakai abadi selama tempurung luarnya tidak mengalami benturan atau pecah. Namun, anggapan ini merupakan kekeliruan fatal yang dapat membahayakan nyawa karena tingkat perlindungan sebuah helm tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik yang terlihat oleh mata.
Seiring berjalannya waktu, material internal helm mengalami degradasi alami akibat faktor lingkungan dan penggunaan harian. Meskipun helm tidak pernah terjatuh atau terlibat dalam kecelakaan, kemampuan komponen pelindungnya dalam menyerap energi benturan akan menurun drastis setelah melewati masa lima tahun pemakaian.
1. Degradasi molekul pada lapisan styrofoam internal

Komponen paling krusial dalam sebuah helm bukanlah cangkang keras di bagian luar, melainkan lapisan Expanded Polystyrene (EPS) atau gabus sintetis di bagian dalam. Lapisan EPS ini dirancang khusus untuk menyerap energi kinetik saat terjadi benturan dengan cara mengerut atau hancur secara terukur. Masalahnya, material EPS memiliki sifat kimia yang akan berubah seiring bertambahnya usia, di mana molekulnya akan mengeras dan kehilangan elastisitasnya.
Setelah lima tahun, lapisan EPS cenderung menjadi kering dan getas akibat paparan suhu ekstrem, baik panas matahari maupun kelembapan udara. Ketika material ini mengeras, fungsinya sebagai penyerap guncangan akan hilang; alih-alih meredam benturan, EPS yang sudah kedaluwarsa justru akan meneruskan energi getaran langsung ke tengkorak dan otak. Hal inilah yang mendasari rekomendasi produsen helm di seluruh dunia untuk melakukan penggantian unit secara berkala demi menjamin keselamatan pengguna.
2. Dampak paparan keringat dan residu kimia harian

Penggunaan rutin membuat bagian dalam helm terpukau oleh keringat, minyak rambut, serta residu produk perawatan kulit. Cairan tubuh ini mengandung zat asam dan garam yang secara perlahan dapat mengikis integritas bahan perekat serta lapisan pelindung di dalam helm. Selain itu, uap bahan bakar di jalan raya dan polusi udara juga ikut mempercepat proses pelapukan material komposit yang menyusun struktur helm.
Kombinasi antara kelembapan dari keringat dan paparan kimia luar menyebabkan lapisan kain serta busa kenyamanan menjadi tipis dan longgar. Helm yang sudah longgar tidak lagi mampu mendekap kepala dengan presisi, sehingga saat terjadi kecelakaan, helm berisiko terlepas atau bergeser dari posisi yang seharusnya. Penurunan kualitas material ini sering kali terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh pemiliknya sampai akhirnya fungsi proteksi helm tersebut benar-benar hilang.
3. Keausan pada sistem pengikat dan fitur mekanis

Selain faktor material peredam, komponen mekanis seperti sistem pengikat dagu (chinstrap) dan mekanisme kaca helm (visor) juga memiliki batas usia pakai. Tali pengikat biasanya terbuat dari bahan nilon atau anyaman serat yang akan mengalami kelelahan material (material fatigue) setelah ribuan kali digunakan. Benang-benang penyusun tali bisa menjadi rapuh dan berisiko putus saat mendapatkan beban tarikan yang sangat kuat dalam sebuah insiden.
Mekanisme kuncian, baik model Microlock maupun Double D-Ring, juga dapat mengalami korosi atau penumpukan kotoran yang membuatnya tidak lagi terkunci dengan sempurna. Dengan mengganti helm setiap lima tahun, pengendara juga mendapatkan keuntungan dari kemajuan teknologi keselamatan terbaru, seperti sistem MIPS atau standar homologasi yang lebih ketat. Mempertahankan helm lama mungkin terasa hemat di dompet, namun risiko kegagalan fungsi saat keadaan darurat jauh lebih mahal harganya dibandingkan dengan membeli unit baru yang masih segar.











![[QUIZ] Pilih Mobil LCGC Favorit, Kami Bisa Tebak Gaya Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20240222/oip-40-f3bcadc4b1a39af7191309eb7f658bc1.jpg)





