Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Tetes Hujan Pertama BIkin Aspal Jadi Sangat Licin?

ilustrasi jalan berlubang (unsplash.com/Matt Hoffman)
ilustrasi jalan berlubang (unsplash.com/Matt Hoffman)
Intinya sih...
  • Pencampuran residu minyak dengan butiran air awal
  • Efek lumpur tipis dari campuran debu dan kotoran jalanan
  • Keterbatasan daya cengkeram ban pada genangan air tipis
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Fenomena jalanan yang menjadi sangat licin saat hujan baru saja turun merupakan ancaman nyata yang sering kali merenggut kewaspadaan para pengguna jalan. Banyak pengendara yang menganggap bahwa gerimis kecil tidak lebih berbahaya daripada hujan lebat, padahal secara teknis, kondisi aspal pada menit-menit pertama turunnya air justru berada pada tingkat traksi yang paling rendah.

Risiko tergelincir meningkat drastis karena adanya proses kimiawi dan mekanis yang terjadi di permukaan jalan sebelum volume air cukup banyak untuk membersihkan kotoran. Memahami alasan di balik licinnya aspal saat "hujan pertama" adalah langkah krusial bagi setiap pengendara untuk menentukan kapan harus segera mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan ekstra.

1. Pencampuran residu minyak dengan butiran air awal

ilustrasi jalan berlubang (pixabay.com/sidney de almeida)
ilustrasi jalan berlubang (pixabay.com/sidney de almeida)

Penyebab utama jalanan menjadi sangat licin saat awal hujan adalah tumpukan residu kendaraan yang mengendap di pori-pori aspal selama cuaca kering. Selama berhari-hari tanpa hujan, sisa-sisa oli mesin, cairan transmisi, dan lemak dari kendaraan yang melintas akan menumpuk dan mengering di permukaan jalan. Ketika butiran air hujan pertama jatuh, air tersebut tidak langsung mampu membilas zat-zat berminyak ini ke pinggir jalan atau saluran pembuangan.

Sebaliknya, air hujan justru mengangkat molekul oli yang terjebak di pori-pori aspal ke permukaan. Karena oli memiliki massa jenis yang lebih ringan daripada air, zat berminyak ini akan mengapung di atas lapisan air yang sangat tipis, menciptakan lapisan pelumas yang sangat licin di antara ban kendaraan dan permukaan jalan. Fenomena ini membuat gesekan atau grip ban berkurang secara signifikan, sehingga manuver sederhana seperti mengerem ringan pun bisa menyebabkan ban selip dengan mudah.

2. Efek lumpur tipis dari campuran debu dan kotoran jalanan

ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Pexels Olivier Darny)
ilustrasi perempuan naik motor (pexels.com/Pexels Olivier Darny)

Selain residu kimia dari kendaraan, permukaan aspal juga dipenuhi oleh akumulasi debu, tanah, serbuk ban, dan partikel polusi selama musim kemarau. Saat hujan turun dalam intensitas ringan atau gerimis, air yang jatuh hanya cukup untuk membasahi debu tersebut tanpa sanggup menghanyutkannya. Hasilnya adalah terbentuknya lapisan lumpur mikroskopis yang sangat halus dan merata di seluruh permukaan aspal.

Lapisan lumpur tipis ini bertindak layaknya "bantalan" yang memisahkan karet ban dari kontak langsung dengan aspal kasar. Kondisi ini berbeda jauh saat hujan sudah turun dengan sangat deras dalam waktu lama. Curah hujan yang tinggi akan memberikan efek membilas (flushing effect) yang mampu mendorong campuran lumpur, debu, dan oli tersebut menuju drainase, sehingga permukaan aspal menjadi relatif lebih "bersih" dan traksi ban kembali sedikit membaik dibandingkan saat kondisi gerimis di awal.

3. Keterbatasan daya cengkeram ban pada genangan air tipis

ilustrasi boncengan naik motor (unsplash.com/Astro Dolf)
ilustrasi boncengan naik motor (unsplash.com/Astro Dolf)

Saat hujan baru turun, terbentuklah lapisan air yang sangat tipis yang sering kali tidak terdeteksi oleh pandangan mata pengendara. Lapisan ini sering kali lebih berbahaya karena ban tidak mampu membelah air secara optimal sebagaimana saat melintasi genangan yang lebih dalam. Pada kondisi ini, kembangan atau pola pada ban sering kali gagal membuang campuran air dan minyak yang kental, sehingga risiko kehilangan kendali menjadi sangat tinggi saat melakukan pengereman mendadak atau berbelok di tikungan.

Ketidaksiapan pengendara menghadapi perubahan drastis pada koefisien gesek aspal sering kali menjadi faktor utama kecelakaan. Kesadaran untuk segera menurunkan kecepatan begitu rintik hujan pertama menyentuh kaca depan merupakan tindakan preventif yang sangat penting. Dengan memberikan waktu bagi hujan untuk membasuh kotoran jalanan sepenuhnya, risiko terjebak dalam "jebakan pelangi" yang licin di atas aspal dapat diminimalisir demi keselamatan bersama.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Mobil Listrik dan Hybrid Baru di IIMS 2026, Apa Saja?

05 Feb 2026, 17:31 WIBAutomotive