Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menyalakan Lampu Utama di Siang Terik Menurunkan Risiko Tabrakan

Menyalakan Lampu Utama di Siang Terik Menurunkan Risiko Tabrakan
ilusrasi lampu motor (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Menyalakan lampu utama di siang hari bukan sekadar aturan, tapi strategi visual agar kendaraan lebih mudah terlihat oleh pengemudi lain di bawah cahaya matahari yang menyilaukan.
  • Penelitian menunjukkan mata manusia mampu mendeteksi pendaran lampu aktif 0,5 detik lebih cepat melalui pandangan perifer, memberi waktu reaksi tambahan yang krusial saat berkendara.
  • Penerapan Daytime Running Lights terbukti menurunkan angka kecelakaan fatal, terutama tabrakan dari arah berlawanan, dengan meningkatkan kontras visual dan akurasi penilaian jarak antar kendaraan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak orang menganggap kebijakan menyalakan lampu utama atau fitur Daytime Running Lights (DRL) di siang bolong yang terik sebagai hal yang sia-sia. Logika awam menilai bahwa paparan sinar matahari yang melimpah sudah lebih dari cukup untuk membuat kondisi jalanan terlihat terang benderang.

Namun, di balik skeptisisme tersebut, terdapat dasar ilmiah yang kuat dalam dunia keselamatan berkendara. Menyalakan lampu di siang hari terbukti bukan sekadar formalitas hukum, melainkan sebuah strategi visual yang menyelamatkan banyak nyawa di jalan raya.

1. Fungsi lampu siang hari untuk membantu kendaraan dilihat oleh orang lain

berkendara dengan lampu motor menyala (Unsplash.com/Deep Sagar)
berkendara dengan lampu motor menyala (Unsplash.com/Deep Sagar)

Sebuah studi ergonomi visual jalan raya bertajuk "Daytime Running Lights (DRL) and Peripheral Vision Detection" menggeser sudut pandang konvensional mengenai fungsi lampu kendaraan. Riset tersebut menegaskan bahwa lampu yang dinyalakan pada siang hari sama sekali bukan diciptakan untuk membantu pengemudi melihat jalanan di depannya.

Fungsi utama dari pendaran cahaya ini adalah agar kendaraan tersebut dapat lebih mudah dilihat oleh sudut mata atau pandangan perifer pengemudi lain. Saat berkendara di bawah terik matahari, kontras antara bodi kendaraan dan lingkungan sekitar sering kali memudar akibat efek silau atau kamuflase visual dari bayangan pepohonan dan bangunan. Kehadiran titik cahaya aktif dari lampu utama berfungsi sebagai pembeda instan yang memecah kamuflase visual tersebut secara efektif.

2. Kecepatan respons pandangan perifer manusia terhadap pendaran cahaya aktif

Ilustrasi lampu motor matic (Wahana Honda/wahanahonda.com)
Ilustrasi lampu motor matic (Wahana Honda/wahanahonda.com)

Manusia sering kali kehilangan fokus penuh atau mengalami penurunan konsentrasi saat menyetir dalam durasi yang lama. Dalam kondisi konsentrasi yang terpecah ini, peran pandangan perifer atau kemampuan melihat objek di samping fokus utama menjadi sangat krusial untuk mendeteksi datangnya ancaman dari arah berlawanan.

Riset ilmiah membuktikan bahwa mata manusia mampu menangkap pendaran lampu aktif 0,5 detik lebih cepat di area pandangan perifer dibandingkan dengan siluet mobil yang lampunya mati. Selisih waktu setengah detik mungkin terdengar sangat singkat, namun dalam kecepatan tinggi di jalan raya, waktu tersebut setara dengan jarak belasan meter yang sangat berharga. Kecepatan mendeteksi objek ini memberikan waktu reaksi yang cukup bagi otak untuk mengambil tindakan korektif sebelum situasi kritis terjadi.

3. Pemangkasan angka kecelakaan adu banteng secara signifikan melalui kontras visual

Ilustrasi lampu motor (unsplash.com/Sean Benesh)
Ilustrasi lampu motor (unsplash.com/Sean Benesh)

Dampak nyata dari percepatan respons visual ini adalah penurunan angka kecelakaan fatal secara drastis, khususnya tabrakan adu banteng dari arah berlawanan saat hendak mendahului kendaraan lain. Ketika seorang pengemudi ingin menyalip di jalur dua arah, pandangan perifer mereka akan langsung menangkap kilatan cahaya dari kendaraan yang datang dari arah depan, bahkan sebelum otak menyadari bentuk utuh dari kendaraan tersebut.

Dengan terciptanya kontras visual yang tinggi berkat lampu yang menyala, salah paham dalam menilai jarak dan kecepatan kendaraan dari arah berlawanan dapat diminimalisasi. Implementasi teknologi DRL atau pembiasaan menyalakan lampu utama ini terbukti secara statistik mampu memangkas angka kecelakaan fatal hingga belasan persen. Oleh karena itu, menyalakan lampu di siang terik merupakan keputusan berbasis sains yang wajib diterapkan demi menjaga keselamatan bersama di ruang publik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More