Jarak tempuhnya mencapai 190 km (Dok. Yadea)
Selain jarak tempuh, kenyamanan berkendara menjadi aspek yang diperhatikan selama ekspedisi. Perjalanan dari Bromo menuju Madura membuat peserta menghadapi kondisi jalan yang berbeda-beda, sehingga karakter suspensi dan respons kendaraan turut dirasakan secara langsung.
“Perjalanan dari awal pagi sampai tiba, tidak ada kendala. Unit Yadea GT80 benar-benar nyaman banget. Sok-nya juga empuk banget, ada lubang pun masih bisa trabas, gitu. Di gas juga oke, overall oke banget Yadea GT80,” ujar salah seorang influencer bernama Roofi Anggara.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan suspensi menjadi salah satu faktor penting ketika motor listrik digunakan untuk perjalanan panjang.
Respons tenaga juga menjadi pertimbangan, terutama saat pengendara menghadapi variasi kondisi jalan sepanjang rute.
Sementara itu, anggota Komunitas Molis Yadea Surabaya, Dwi Christianto, menyoroti kemampuan GT80 menyelesaikan perjalanan dengan satu baterai.
Menurutnya, baterai kedua yang tersedia pada unit yang digunakan masih dalam kondisi penuh setelah perjalanan berakhir.
“Kebetulan motor ini (Yadea GT80) yang saya pakai merupakan molis yang terjauh. Perjalanan kita dari Gunung Bromo sampai ke Pulau Madura, tepatnya di Bebek Sinjay sebagai pemberhentian terakhir. Dan kita hanya pakai satu baterai, padahal ini ada dua baterai, selama perjalanan tapi ternyata cukup hanya satu baterai. Baterai cadangannya masih full charge,” kata Dwi.
Opsi dua baterai tersebut memberikan fleksibilitas bagi pengguna yang membutuhkan daya tambahan. Namun, hasil ekspedisi ini secara khusus memperlihatkan kemampuan unit yang digunakan untuk menempuh rute tersebut dengan satu baterai.