Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita 10 Tahun Merawat Yamaha NMAX yang Masih Dipakai Harian

4 min read
Cerita 10 Tahun Merawat Yamaha NMAX yang Masih Dipakai Harian
Yamaha NMAX Old yang berusia 10 tahun (IDN Times/Fadhliansyah)
  • Yamaha NMAX 2016 masih dipakai harian hampir 10 tahun karena sejak awal menawarkan bodi matik besar dengan harga lebih terjangkau dibanding Honda PCX CBU.

  • Motor bermesin standar ini pernah menempuh touring pulang-pergi Tangerang Selatan–Lampung sekitar 600 kilometer tanpa gangguan mesin berarti; modifikasi hanya eksterior dan CVT.

  • Perawatan rutin berupa servis berkala, CVT, serta penggantian oli mesin dan transmisi menjaga performa; konsumsi BBM tercatat 35–38 km per liter, meski suspensi belakang bawaan terasa keras.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hampir 10 tahun bisa dibilang bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kendaraan.

Apalagi motor yang setiap hari digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sekadar berangkat kerja, jalan-jalan, sampai sesekali diajak touring jarak jauh. Tapi sampai sekarang, Yamaha NMAX yang saya beli sejak 2016 masih ada di garasi dan masih saya gunakan.

Kalau melihat kondisinya sekarang, mungkin tidak ada yang terlalu istimewa dari NMAX generasi awal ini. Mesinnya masih standar, modifikasi lebih banyak bermain di eksterior dan sedikit ubahan di bagian CVT.

Tetapi justru dari motor inilah saya belajar bahwa kendaraan yang dirawat secara rutin sebenarnya tidak perlu dibuat rumit. Selama kebutuhan dasarnya terpenuhi, NMAX ini masih enak diajak beraktivitas bahkan setelah hampir satu dekade.

  1. 1. Awal mula beli NMAX karena harganya masih masuk akal

    ilustrasi modifikasi NMAX simpel dengan hasil elegan dan mewah (instagram.com/nmaxnation)
    ilustrasi modifikasi NMAX simpel dengan hasil elegan dan mewah (instagram.com/nmaxnation)

    Kalau ditarik ke belakang, alasan saya membeli NMAX pada 2016 sebenarnya cukup sederhana.

    Waktu itu saya memang sedang mencari motor matik yang ukurannya lebih besar dari kebanyakan matik di zaman itu tetapi harganya masih masuk akal.

    NMAX ketika itu menurut saya punya posisi yang menarik. Motor ini menjadi salah satu pelopor matik bongsor yang semakin populer di Indonesia, tetapi harganya masih relatif terjangkau dibandingkan kompetitornya.

    Ada Honda PCX yang juga menarik perhatian, tetapi saat itu masih CBU sehingga harganya jauh lebih mahal daripada NMAX.

    Akhirnya pilihan saya jatuh ke NMAX. Niat awalnya sederhana saja, punya motor yang nyaman buat dipakai sehari-hari. Ternyata, semakin lama digunakan, semakin terasa kalau keputusan membeli NMAX waktu itu cukup tepat.

  2. 2. Sudah diajak touring 600 km

    Sepeda motor Yamaha NMAX Old tampak setelah digunakan selama 10 tahun, dengan bodi dan kondisi terkini.
    Yamaha NMAX Old setelah 10 tahun pemakaian (IDN Times/Fadhliansyah)

    Selama hampir satu dekade, penggunaan NMAX saya cukup beragam. Bukan cuma dipakai untuk perjalanan sehari-hari di dalam kota, motor ini juga beberapa kali saya bawa untuk perjalanan yang lebih jauh.

    Salah satu yang paling berkesan adalah ketika saya membawanya touring dari Tangerang Selatan menuju Lampung. Kalau dihitung pulang-pergi, jaraknya sekitar 600 kilometer.

    Yang menarik, selama perjalanan tersebut tidak ada masalah berarti. Motor tetap berjalan normal dan tidak ada kejadian yang membuat perjalanan harus terganggu karena masalah mesin. Padahal, NMAX tersebut sudah bukan motor baru.

    Mesinnya juga masih standar. Saya tidak melakukan modifikasi ekstrem untuk mengejar performa.

    Modifikasi yang dilakukan lebih banyak di bagian eksterior, sementara kalau bicara performa, saya hanya bermain di area CVT (Continuosly Variable Transmission) atau yang biasa disebut main kirian.

    Dari pengalaman itu, saya semakin yakin kalau NMAX sebenarnya punya daya tahan yang cukup baik.

    Bukan berarti motor ini tanpa kekurangan. Salah satu hal yang cukup saya rasakan selama menggunakannya adalah karakter suspensi belakang bawaan NMAX Old yang menurut saya cenderung keras.

  3. 3. Suspensi belakang jadi salah satu kekurangannya

    suspensi yamaha new nmax
    suspensi yamaha new nmax

    Karakter suspensi belakang yang cukup keras ini paling terasa ketika melewati jalan yang tidak rata atau permukaan jalan yang memiliki banyak sambungan. Bantingannya menurut saya masih terasa kurang nyaman, terutama ketika motor digunakan untuk perjalanan yang cukup jauh.

    Untuk masalah ini, menurut saya solusi paling masuk akal memang mengganti shock belakang dengan produk aftermarket. Setelah menggunakan shock yang karakter redamannya lebih sesuai dengan kebutuhan, kenyamanan berkendara bisa terasa lebih baik.

    Jadi, meskipun secara umum saya cukup puas dengan NMAX Old, bukan berarti motor ini sempurna. Ada beberapa hal yang menurut saya bisa ditingkatkan, dan suspensi belakang menjadi salah satunya.

  4. 4. Perawatannya terbilang gak ribet

    Sepeda motor Yamaha untuk kebutuhan berkendara harian hingga perjalanan touring dengan tampilan praktis.
    Cocok untuk harian hingga touring (Dok. Yamaha)

    Selama menggunakan NMAX, saya juga tidak melakukan perawatan yang aneh-aneh. Prinsipnya adalah jangan malas servis dan jangan menunda komponen yang memang sudah waktunya diganti.

    Perawatan rutinnya meliputi servis berkala, servis CVT, ganti oli mesin, dan ganti oli transmisi. Hal-hal dasar seperti ini yang menurut saya justru paling penting untuk menjaga motor tetap nyaman digunakan.

    Soal konsumsi BBM pun masih tergolong oke untuk ukuran NMAX generasi lama. Dalam pemakaian saya, konsumsi bahan bakarnya masih berada di kisaran 1:35-38.

    Artinya, satu liter BBM bisa membawa motor melaju sekitar 35 sampai 38 kilometer, tergantung kondisi jalan dan gaya berkendara.

    Setelah hampir 10 tahun, saya justru merasa NMAX ini punya karakter yang cocok untuk dipelihara dalam jangka panjang. Tidak terlalu banyak drama, biaya perawatan masih relatif terjangkau, dan kebutuhan servisnya juga tidak macam-macam.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More